- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Kasus Kematian Wanita Muda di Tiongkok Akibat Malnutrisi Menyebabkan Kemarahan Masyarakat Kepada Pemerintah

Nicole Hao – The Epochtimes

Seorang wanita Tiongkok yang berusia 24 tahun pada 13 Januari 2020. Kematiannya akibat malnutrisi yang parah. Sehingga memicu kemarahan luas terhadap pejabat pemerintah Komunis Tiongkok.  Dikarenakan gagal mengatasi kemiskinan ekstrem yang terus-menerus terjadi di Tiongkok.

Dengan berat 21 kg dan tinggi badan 1,3 meter, Wu Huayan menderita pertumbuhan yang terhambat dan sejumlah masalah kesehatan. Ia sering tidak mampu membeli makanan.

Seperti dilaporkan The Epochtimes, pada bulan Oktober 2019, setelah Wu Huayan didiagnosis menderita penyakit jantung, ia memohon bantuan masyarakat  untuk membiayai operasi yang mendesak itu melalui platform crowdsourcing. 

Sementara sebuah yayasan amal yang dikelola oleh kementerian pemerintah pusat mengumpulkan uang atas nama Wu Huayan. 

Keluarga Wu Huayan mengatakan mereka hanya menerima sebagian kecil dari uang itu, seperti dilaporkan media setempat . Banyak netizen mencurigai penyimpangan yang dilakukan pemerintah.

Tidak lama kemudian, Wu Huayan meninggal dunia.

Ironisnya, hanya sehari sebelum kematiannya, pemerintah pusat merilis film dokumenter mengenai seorang pejabat dari provinsi tempat Wu Huayan tinggal, bernama Wang Xiaoguang, yang dihukum karena kasus korupsi. 

Wang Xiaoguang, mantan Wakil Gubernur Provinsi Guizhou, dijatuhi hukuman 20 tahun penjara dan denda 173,5 juta yuan pada bulan April 2019 atas tuduhan penggelapan dan penyuapan.

Kronologi Kejadian

“Nenek dan ayah saya meninggal karena kami tidak punya uang untuk menyembuhkan penyakit mereka. Saya tidak ingin mengalami lagi perasaan menunggu kematian akibat kemiskinan,” tulis Wu Huayan di Shuidichou, platform mirip GoFundMe di Tiongkok, pada tanggal 17 Oktober 2019.

Kisah Wu Huayan menyebar dengan cepat di Tiongkok. Lalu belasan media Tiongkok mewawancarainya dan menerbitkan kisah masa lalunya.

Wu Huayan, yang berasal dari sebuah desa kecil di daerah Songtao, kota Tongren, adalah junior yang belajar di lembaga kejuruan setempat sebelum ia meninggal dunia.

Saat Wu Huayan berusia 4 tahun, ibunya tiba-tiba meninggal akibat menderita penyakit yang tidak diketahui, seperti dilaporkan media Tiongkok. Gadis kecil itu hidup dalam kemiskinan bersama neneknya, ayahnya, dan adik laki-lakinya.

Saat Wu Huayan duduk di Sekolah Menengah Umum, ayahnya didiagnosis menderita sirosis. Tanpa uang untuk membayar pengobatan, ayahnya meninggal dunia setelah menderita sakit selama setengah tahun. Segera setelah itu, nenek Wu Huayan juga meninggal dunia akibat menderita penyakit kronis.

Sebagai seorang remaja yatim piatu, Wu Huayan dan adik laki-lakinya pindah ke rumah pamannya. Kabupaten setempat membayar mereka 300 yuan  per bulan sebagai bagian program “bantuan kemiskinan” nasional.

“Selama masa-masa paling sulit, saya hanya punya satu roti kukus setiap hari. …Karena acar cabai itu murah, saya mencampurnya dengan nasi putih sebagai makanan saya. Saya memakan ini selama lima tahun,” kata Wu Huayan dalam sebuah wawancara dengan media.

Menjadi Sakit

Saat Wu Huayan adalah senior di Sekolah Menengah Umum, kekurangan gizi menyebabkan rambutnya mulai rontok hingga botak.  Segera, ia kehilangan alisnya. Pada saat yang sama, adik laki-lakinya didiagnosis menderita psikosis.

 “Adik laki-laki saya tiba-tiba mulai berbicara omong kosong…ia tidak mengenali siapa saya. Tetapi saya tidak boleh menyerah karena ia adalah satu-satunya keluarga saya di dunia ini,” kata Wu Huayan dalam sebuah wawancara media.

 Wu Huayan dan pamannya meminjam 5.000 yuan  agar dapat mengirim adik laki-lakinya ke rumah sakit. Setelah lebih dari satu tahun perawatan, kondisi sang adik menjadi  stabil dan diizinkan pulang ke rumah.

 Sementara itu, Wu Huayan tidak mempunyai uang untuk berobat ke dokter.

 Beruntung, guru Wu Huayan membayar uang sekolahnya, dan Wu Huayan bekerja paruh-waktu di dua tempat saat masih kuliah, menghasilkan 600 yuan per bulan.

 Saat seorang teman semasa Sekolah Menengah Umum mengunjungi Wu Huayan di kampus, ia menemukan kedua kaki Wu Huayan bengkak parah. Khawatir akan kesehatan Wu Huayan, temannya tersebut membawanya ke rumah sakit, di mana ditemukan bahwa tiga dari empat katup jantung Wu Huayan rusak.

Dokter mengatakan kepada Wu Huayan  bahwa ia membutuhkan operasi yang menelan biaya lebih dari 200.000 yuan.

 Sumbangan

 Yayasan Bantuan Amal Tiongkok untuk Anak, anak perusahaan dari Departemen Urusan Sipil pemerintah nasional, mulai meminta sumbangan atas nama Wu Huayan pada tanggal 25 Oktober 2019.

Dalam lima hari pertama, satu kampanye penggalangan dana menerima lebih dari 600.000 yuan. Kampanye penggalangan dana lainnya mengumpulkan lebih dari 400.000 yuan. 

Sementara itu, keluarga Wu Huayan tidak menyadari bahwa yayasan tersebut mengumpulkan uang, media pemerintah Beijing News melaporkan. Namun, hanya 20.000 yuan saja yang berakhir di rekening bank Wu Huayan.

Pada akhirnya, para dokter mengatakan, mereka tidak sanggup melakukan operasi untuk Wu Huayan. Dikarenakan, Wu Huayan terlalu lemah untuk menanggung prosedur tersebut. Wu Huayan meninggal dunia di rumah sakit.

 Beberapa platform donasi non-pemerintah juga membantu Wu Huayan mengumpulkan uang. Keluarga Wu Huayan memastikan sumbangan sekitar 470.000 yuan.

 Yayasan Bantuan Amal Tiongkok untuk Anak membuat tanggapan masyarakat mengenai kasus Wu Huayan pada tanggal 14 Januari 2020. Lembaga itu menjelaskan bahwa platform penggalangan dana yang dioperasikannya mengenakan biaya 6 persen untuk menangani biaya. Laporan  menambahkan bahwa pencairan sisa jumlah sumbangan akan dibahas dengan keluarga Wu Huayan.

Ini bukanlah untuk pertama kalinya Yayasan Bantuan Amal Tiongkok untuk Anak menghadapi pengawasan.

Pada Desember 2012, warganegara Tiongkok bernama Zhou Xiaoyun memperoleh salinan laporan tahunan Yayasan Bantuan Amal Tiongkok untuk Anak setelah mengajukan permintaan hukum, menurut laporan oleh Beijing News yang dikelola pemerintah. 

Zhou Xiaoyun mendapati bahwa yayasan tersebut pada satu kesempatan, menghabiskan 4,84 miliar yuan – jauh lebih tinggi dari total sumbangan 80 juta yuan yang dikumpulkan tahun itu.

Beijing News melacak wanita akuntan yayasan itu, yang mengklaim bahwa ia keliru memasukkan nol tambahan. Yayasan Bantuan Amal Tiongkok untuk Anak tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. (Vivi/asr)

Video Rekomendasi :