Epochtimes.com

Epidemi pneumonia Wuhan telah menyebar ke seluruh wilayah Tiongkok dan menulari sejumlah warga dari 20-an negara di dunia. Saat ini, dunia telah mulai memerangi epidemi tersebut. 

Menghadapi krisis yang datang dari dalam dan luar negeri, masyarakat internasional sedang menaruh perhatian tinggi terhadap Xi Jinping yang menjadi pemimpin tertinggi rezim komunis Tiongkok, apakah ia mampu menghadapi ujian berat ini. 

Beberapa analis percaya bahwa munculnya wabah besar di suatu negara itu sering kali berkaitan dengan jatuhnya sebuah rezim atau sebuah proses menuju pergantian rezim. Kali ini jangan-jangan menjadi pemicu jatuhnya rezim komunis Tiongkok.

Wabah pneumonia Wuhan menyebar dengan kecepatan luar biasa akibat rezim yang berkuasa berupaya menyembunyikan situasi perkembangan wabah. 

Ketika Xi Jinping bertemu dengan Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada 28 Januari, ia  mengatakan : “Saya sendiri yang terus memberikan pengarahan dan mengatur upaya pencegahan dan pengendalian epidemi ini”. 

Xi juga mengatakan bahwa untuk memerangi epidemi, kita harus “secara tegas mengimplementasikan keputusan yang telah diambil oleh pihak sentral”, “Bergerak dalam kesatuan kepemimpinan, kesatuan komando, dan kesatuan tindakan”, kata Xi.

Sehari sebelumnya, Perdana Menteri Li Keqiang datang ke kota Wuhan untuk melakukan inspeksi. Media komunis Tiongkok menyebutkan bahwa kedatangan Li Keqiang ke Wuhan untuk melakukan inspeksi itu atas permintaan Xi.

Sebuah artikel analisis Von Lea Deuber yang diterbitkan media Jerman ‘Süddeutsche Zeitung’ pada 27 Januari 2020, menyebutkan bahwa pneumonia Wuhan membuat negara yang berpopulasi lebih dari satu miliar jiwa lumpuh total hanya dalam waktu kurang dari sepekan. Epidemi yang menyebar dengan cepat jelas telah menjadi krisis nyata yang perlu dihadapi Xi Jinping.

Artikel itu mengungkapkan  bahwa kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah mulai goyah sejak kota Wuhan dengan populasi belasan juta diisolasi pada 23 Januari. Dengan semakin kacaunya situasi di negara ini, pemerintah justru bertindak semakin keras terhadap para kritikus.

Hendrik Ankenbrand, koresponden media ‘Frankfurter Allgemeine Zeitung’ di Shanghai mengatakan bahwa sekarang semakin banyak orang menuduh pemerintah Tiongkok sengaja menyembunyikan situasi wabah yang sebenarnya. Misalnya, desas-desus yang menyebar selama akhir pekan mengatakan bahwa seorang dokter anonim di Shanghai mengungkapkan bahwa sudah ada 31 orang pasien warga Shanghai terserang pneumonia Wuhan meninggal dunia dan 107 orang lainnya terinfeksi.

Menurut artikel itu, jika menurut pernyataan dokter ini, setara dengan satu di antara 3 orang yang terinfeksi pneumonia menemui ajal. Bila demikian, maka angka kematian jauh lebih tinggi dari 4% yang diterbitkan oleh otoritas Wuhan, sehingga banyak masyarakat Tiongkok berpikir : data Wuhan Itu pasti direkayasa.

Artikel berpendapat bahwa bagi komunis Tiongkok, wabah tersebut menjadi masalah yang hampir tidak dapat diatasi.

James Griffit, produser senior CNN dalam artikelnya menyebutkan, bahwa semua informasi dari bawah ke atas disaring secara ketat oleh pihak berwenang, menghambat, dan kebiasaan menutup-nutupi fakta yang terjadi telah menghambat waktu pencegahan. Xi Jinping bagaikan raja yang ditinggikan tetapi dijauhkan dari pijakan. Setiap kali krisis muncul, itu adalah ujian bagi kepemimpinannya.

Menurut artikel itu, ditinjau dari berkembangnya wabah pneumonia ini, terlihat bahwa otoritas Tiongkok dalam mengatasi krisis masih sangat lemah. Sehingga sangat mungkin bisa menghadapi ancaman yang lebih besar di masa depan.

Direktur cabang New York Times Beijing, Myers dan reporter senior Beijing Chu Bailiang juga turut menulis bahwa Xi Jinping telah mengambil sejumlah langkah dan memusatkan kekuatannya dalam 7 tahun sejak ia menjabat, tetapi pneumonia Wuhan adalah salah satu tes paling rumit dan tak terduga yang dihadapi Xi.

Yang Jianli, seorang sponsor organisasi hak asasi manusia ‘Citizen Power’ mengatakan kepada VOA, bahwa setiap krisis dapat menjadi seperti The last straw that breaks a camel’s back atau ‘jerami terakhir yang mematahkan punggung unta.’ Jika epidemi terus menyebar dan tidak dapat dikendalikan, itu kemungkinan akan menjadi peristiwa yang sangat penting yang mengancam rezim komunis Tiongkok.

Zheng Zhongyuan dalam komentarnya menyebutkan bahwa zaman sedang berubah dan wabah besar akan datang, hal ini biasanya berkaitan dengan runtuhnya sebuah rezim. Rezim Komunis Tiongkok masih menangani wabah pneumonia seperti cara menangani SARS di masa lalu dengan menutup-nutupi situasi epidemi yang terjadi. Tetapi sekarang rakyat sudah jauh lebih cerdik. Bagaimana pemerintah yang lebih memprioritaskan keselamatan kekuasaan bersedia memperhatikan keselamatan rakyat ?

Artikel itu mengatakan bahwa rakyat Tiongkok dan masyarakat dunia akhirnya dapat melihat sifat ego yang ekstrim dan hooliganisme dari rezim Komunis Tiongkok. 

Wabah besar yang mempengaruhi kehidupan setiap individu di Tiongkok dan dunia akan benar-benar memicu keruntuhan Partai Komunis Tiongkok. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular