Li Yun/Dai Ming – NTDTV

Epidemi Wuhan menyebar dengan cepat ke seluruh seluruh pelosok negeri Tiongkok, dengan kasus kematian terus bertambah. Seorang netizen di Hubei menceritakan di platform media sosial Weibo tentang kengeriannya, saat sendirian menunggu ajal di dalam sebuah ruang isolasi di rumah sakit Tianmen (baca : Thien Men), provinsi Hubei. Itu akibat dirinya  terinfeksi virus korona yang mematikan itu. 

 Seorang netizen bernama “Boman” meminta bantuan selama seminggu di Weibo. Weibo adalah platform sejenis media sosial ala Tiongkok seperti Facebok atau twitter. Netizen itu mengatakan bahwa dia seperti memasuki neraka di bumi. Polisi ke rumahnya mengancam keluarganya. Hingga akhirnya, dia merasa hidupnya telah berakhir. Dia meninggalkan pesan terakhir. Curahan pilu dalam pesan terakhirnya ini seketika menarik perhatian puluhan ribu netizen di Tiongkok.

“Boman” di akun media sosialnya memposting CT scan terbarunya di Sina Weibo sejak 25 Januari 2020. Dia mengatakan bahwa jika dia bisa bertahan hidup kali ini, dia akan menghabiskan sisa hidupnya bersama segenap keluarganya. 

Sejak 29 Januari 2020, Boman mulai menceritakan tentang keterasingannya di ruang isolasi setelah dia terinfeksi virus korona.

Tangkapan layer internet

 “Boman” menceritakan, dirinya berada di kamar no 15 di lantai dua bangsal karantina Rumah Sakit Ketiga Kota Tianmen, Tiongkok pada 24 Januari 2020. Sejak demam, dia diberi dua kapsul obat oseltamivir setiap hari.

Saat itu kondisinya  batuk dan paru-parunya terasa sangat tidak nyaman disertai sesak napas. Demamnya telah berlangsung selama beberapa hari dan tidak pernah turun. “Boman” benar-benar merasa sangat tidak nyaman. 

“Saya meminta dilakukan CT scan dan tes darah di rumah sakit. Namun, pihak rumah sakit tidak melakukan apa yang saya minta, saya sendiri juga tidak tahu mengapa?” kata “Boman” di Weibo.

Pada 31 Januari 2020, “Boman” mengatakan dalam sebuah postingannya, dia diminta untuk berpikir positif… Jangan terlalu pesimis. 

“Siapa bilang saya pesimis, saya berusaha meminta bantuan, tetapi sia-sia,” tulisnya. 

Tangkapan layer internet

Malamnya, ia memposting lagi beberapa postingan secara berturut-turut menjelaskan kondisinya. Postingan pertama, “Boman” mengatakan bahwa dia benar-benar sudah pasrah. Dia hampir mau mati.

“Tidak ada yang percaya dengan saya ketika saya meminta bantuan di mana-mana, dan merasa daya tahan anak-anak muda masih kuat dan akan baik-baik saja. Orang tua saya masih percaya bahwa rumah sakit akan menyelamatkan saya. Mereka pikir aku tidak ada masalah karena masih bisa mengutak-atik ponsel,” kata Boman.

“Karena saya mengandalkan kekuatan terakhir saya untuk meminta bantuan, tapi semua orang merasa bahwa saya baik-baik saja, dan tidak akan terjadi sesuatu. Hanya saya sendiri yang tahu kalau hidup saya akan segera berakhir. Keluarga menelepon rumah sakit, dan rumah sakit mengatakan bahwa saya baik-baik saja, tidak ada masalah, dan mereka percaya saja…,” tambah Boman. 

Postingan kedua Boman menulis, “Saya tidak menyangka komplikasi penyakit saya sudah terjadi, saya berbaring di tempat tidur, tidak bisa bangun, tetapi rumah sakit tidak memberikan infus nutrisi. Ini kata-kata terakhir saya. Saya minta maaf pada kedua orang tua saya! Saya benar-benar mohon maaf.”

Postingan ketiga : “Ini adalah lelucon terbesar dalam hidup saya. Saya bilang hidup saya akan segera berakhir, tapi tidak ada yang percaya …menyedihkan…”

Postingan keempat: “Sebaiknya kalian jangan mau dikarantina, mereka tidak akan memberikan infus nutrisi.”

Tangkapan layer internet

Postingan kelima : “Saya percaya pada nasib. Tidak pernah terlintas dalam benak saya akan mati seperti ini. Staf medis sama sekali tidak peduli pada Anda. Rumah sakit tidak memberikan infus. Saya juga sudah tidak tahan lagi. Rumah sakit tidak memberikan pengobatan, atau suntikan nutrisi …”

Pada jam 10:37 malam itu, di postingan terakhir, Boman menulis : “Saya rasa tidak bisa melewati malam ini, dan akhirnya sekarang bisa merasakan apa itu kematian. Ini benar-benar konyol, tidak ada yang percaya, tak disangka tidak ada yang percaya saya akan segera mati. Tetapi tekad saya mengatakan, bahwa saya tidak boleh mati, tapi percuma, saya tidak bisa bergerak, bahkan saya tidak bisa bangun lagi.”

Postingan “Boman” itu  seketika menarik perhatian puluhan ribu netizen Tiongkok. Para netter bertanya kepadanya tentang kondisi terbarunya. Akan tetapi sampai jam 11 siang, 1 Februari 2020, tidak ada balasan apa pun darinya. Netizen berdoa untuknya dan menyerukan, “Tolong selamatkan dia.”

Netizen Chen Jingsu merespon di kolom komentar: “Rumah sakit pertama di Tianmen, sang blogger mungkin Wang Yali, usia 23 tahun, perempuan. Apa ada rekan setempat yang dapat membantunya? Tolonglah dia. Ini masalah nyawa seseorang yang sedang terancam, tolong, tolonglah dia.” 

Tangkapan layer internet

Netizen Hu Xinshu juga merespon : “Berulang kali sudah saya membaca tentang kondisi terbaru gadis itu di Weibo, semuanya rata-rata minta bantuan siapa pun, dan semuanya merasa benar-benar putus asa. Sampai hari ini, saya berharap semua berita buruknya itu tak lebih dari rumor, ini jauh lebih baik daripada yang sebenarnya. Tolong selamatkanlah gadis di rumah sakit Tianmen itu.”

Hal senada di komentar Netizen “Mi Shi Si”: “Seorang pasien di kamar no. 15 lantai dua bangsal karantina Rumah Sakit Ketiga Kota Tianmen yang menjalani perawatan pada 24 Januari 2020 itu meminta bantuan di Weibo selama seminggu. Selama periode itu, polisi menemui keluarganya memperingatkan mereka untuk menghapus postingannya. Saya rasa kondisinya semakin memburuk, dari optimis menjadi putus asa.” 

Netizen “Xiao Jing-paranoid” berkomentar : “Dari pesan di Weibo-nya saja kita bisa merasakan apa itu keputusasaan, apa itu neraka di bumi …”

Epidemi Wuhan kian merajalela

Karena ditutupi oleh komunis Tiongkok, epidemi pneumonia Wuhan menyebar dengan cepat ke seluruh pelosok negeri Tiongkok. Kasus yang dikonfirmasi dan kematian meningkat setiap hari. Rumah sakit di seluruh negeri penuh sesak dengan pasien dan persediaan medis sangat langka. Ada yang terinfeksi telah mengantri selama 10 jam dengan sia-sia. Ada pasien yang dirujuk ke sejumlah besar rumah sakit, tapi tidak diterima, dan banyak pasien tidak dapat didiagnosis karena kurangnya peralatan tes.

Seorang dokter klinik komunitas di Wuhan, dokter Wei, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa rumah sakit besar penuh sesak oleh pasien, banyak dokter terinfeksi, termasuk dirinya. Dia bermaksud mengisolasi dirinya di rumah.

 Seorang dokter di Wuhan mengatakan  banyak staf medis yang terinfeksi tidak didiagnosis, semuanya hanya dapat diduga terinfeksi virus korona, karena begitu diagnosisnya positif, itu artinya mereka akan menjalani perawatan gratis, yang harus dilaporkan ke negara. 

“Departemen akan mengisolasi orang-orang yang terinfeksi … terpaksa mengandalkan daya tahan diri masing-masing, hidup dan mati sudah ditakdirkan oleh-Nya,” kata dokter itu. 

Untuk diketahui, menurut  Dr. Eric Feigl-Ding, seorang ahli epidemiologi yang telah mengajar di Harvard selama 15 tahun, pengembangbiakan virus korona 8 kali lebih tinggi dari SARS.

Dari simulasi Dr. Eric Feigl-Ding dengan berdasarkan data resmi yang diumumkan oleh Komunis Tiongkok terkait waktu, lokasi, dan diagnosa yang dikonfirmasi, menunjukkan bahwa virus korona dapat menjangkiti 190.000 – 270.000 orang dalam waktu 10 hari.  (jon)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular