Erabaru.net. Perusahaan kapal pesiar mewah ‘Princess’ pada 5 Februari menyatakan bahwa 10 orang yang berada di atas kapalnya yang sekarang dilabuhkan di Yokohama positif terinfeksi coronavirus. Saat ini telah otoritas Jepang mewajibkan 3.700 orang penumpang dan awak kapalnya lainnya menjalani karantina selama 2 minggu. 

Situs web CNBC Finance yang dikutip Epochtimes.com,  melaporkan, bahwa perusahaan kapal pesiar ‘Princess’ mengatakan pada hari Senin 3 Februari 2020 bahwa seorang penumpang yang tidak memiliki gejala apapun pada saat menumpang, tetapi ia telah dites positif terinfeksi coronavirus 6 hari setelah meninggalkan kapal. 

Kapal pesiar mewah tersebut kemudian dikarantina selama 24 jam di pelabuhan Jepang. Selanjutnya, otoritas kesehatan Jepang memeriksa 3.700 orang penumpang dan awak kapal.

Kementerian Kesehatan Jepang mengatakan dalam sebuah pernyataan, bahwa staf medis memeriksa suhu tubuh dan kesehatan setiap penumpang.

Perusahaan ‘Princess’ mengatakan, kesepuluh orang yang terinfeksi 2019-nCoV dibawa ke darat oleh kapal penjaga pantai Jepang. Mereka kemudian dilarikan ke rumah sakit setempat oleh para profesional medis untuk menjalani perawatan.

Perusahaan tersebut mengatakan bahwa sesuai dengan permintaan otoritas yang berwenang di Jepang, kapal pesiar akan dikarantina selama setidaknya 14 hari.

Perusahaan tersebut dalam sebuah pernyataan tertulisnya menyebutkan : Tahap pertama pemeriksaan kesehatan untuk semua penumpang dan awak kapal pesiar Diamond Princess sudah selesai dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan Jepang. Kita diberitahu bahwa hasil tes menunjukkan 10 orang positif terinfeksi Coronavirus.

Kepada CNBC, perusahaan tersebut membenarkan bahwa kesepuluh orang yang terinfeksi tersebut adalah 1 orang penumpang asal Amerika Serikat, 2 orang penumpang asal Australia, 3 orang penumpang asal Jepang, 3 orang penumpang asal Hongkong dan 1 orang awak kapal asal Filipina.

Sementara itu, masih ada seratus lebih sampel yang sedang menunggu penyelesaian proses pengujian. Kapal pesiar ‘Princess’ dalam pernyataannya menyebutkan, di atas kapal tersebut ada 2.666 orang penumpang dengan 1.045 orang awak kapal.

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Tokyo mengatakan : “Kami tahu bahwa ada 428 orang warga AS di yang berada di atas kapal pesiar ‘Diamond Princess’. Kemenlu AS memprioritaskan kesejahteraan dan keselamatan warga negara AS. Kita akan tetap berhubungan dengan otoritas terkait dan menyediakan bantuan konsuler yang dibutuhkan bagi warga di atas kapal”.

Kedutaan Besar AS juga mengatakan bahwa pihaknya akan terus mengikuti perkembangan situasi dan memberikan bantuan yang diperlukan.

Perusahaan tersebut mengatakan akan terus memberi layanan internet telepon gratis kepada penumpang. Perusahaan juga mengatakan kapal pesiar akan melaut untuk melakukan operasi laut normal, seperti menghasilkan air tawar dan operasi pemberat, kemudian kembali ke Yokohama dengan membawa makanan, pasokan, dan lainnya ke kapal.

Perusahaan mengatakan akan membatalkan 2 pelayaran kapal pesiar yang semula dijadwalkan berangkat dari Yokohama pada 4 Februari dan 12 Februari 2020. Penumpang yang sebelumnya didiagnosis terinfeksi virus di kapal pesiar adalah seorang pria berusia 80 tahun asal Hongkong. 

Pada 10 Januari, dia pergi ke daratan Tiongkok selama beberapa jam. Akan  tetapi tidak pergi ke tempat perawatan medis atau pasar makanan laut. Ini berarti bahwa yang bersangkutan mungkin terinfeksi virus dari orang lain.

Pada 17 Januari pria tersebut terbang ke Tokyo dan 2 hari kemudian mulai muncul gejala batuk. 

Pada 20 Januari pria naik kapal pesiar dari Yokohama. Pada 25 Januari ketika kapal tersebut berlabuh di Hongkong, ia turun dan pergi berobat pada 30 Januari. Kemudian hasil pemeriksaan menunjukkan positif terinfeksi coronavirus. Ia dalam kondisi stabil sekarang.

Para pejabat kesehatan mengatakan penyakit pernapasan dapat menyebar melalui kontak manusia-ke-manusia, tetesan dari bersin dan batuk, dan sisa bakteri pada benda mati. 

Para pejabat kesehatan mengatakan penyakit itu menular sebelum gejalanya muncul, ada sekitar  20% pasien kondisi sakitnya parah, menyebabkan radang pada paru-paru dan gagal pernapasan.

WHO pekan lalu pada 30 Januari 2020 mengklasifikasikan coronavirus jenis baru tersebut sebagai ancaman global dan mengumumkan ‘Keadaan Darurat Kesehatan Masyarakat Global’.  Sementara itu, pejabat AS menyatakan wabah itu sebagai Keadaan Darurat Kesehatan Masyarakat, dan memberlakukan pembatasan perjalanan dan wajib karantina. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular