Nicole Hao – The Epochtimes

Pekerja di krematorium di Wuhan, pusat penyebaran wabah Coronavirus, mengatakan beban kerja mereka meningkat secara dramatis dalam beberapa hari terakhir.  Dikarenakan mereka terus-menerus memindahkan jenazah diduga penderita Coronavirus dari rumah sakit dan rumah-rumah pribadi.

Dalam sebuah wawancara dengan The Epoch Times, seorang pekerja menggambarkan jam kerja yang panjang untuk mengatasi peningkatan jumlah jenazah yang akan dikremasi secara mendadak.

Sementara itu, video dari para pekerja yang berurusan dengan krisis tersebut beredar di media sosial, termasuk satu video dari seorang pekerja di rumah duka Wuhan yang berbagi rekaman di mana tampak lebih dari 10 jenazah yang tergeletak di atas brankar siap dikremasi.

Beberapa netizen juga berbagi video yang mereka rekam di rumah sakit yang berbeda di Wuhan, menunjukkan antrean jenazah-jenazah untuk dipindahkan dari rumah sakit ke rumah duka.

Karena pekerja rumah duka tidak mengetahui secara pasti apakah orang tersebut meninggal dunia akibat Coronavirus atau bukan, mereka mengenakan pakaian pelindung dan masker untuk mempertahankan diri dari kemungkinan infeksi.

Bekerja Non Stop 24 Jam Selama 7 Hari

Wuhan memiliki tiga rumah duka utama di daerah pusat kota, yang dilengkapi dengan krematorium. Sementara kremasi adalah praktik penguburan yang biasa dilakukan di Tiongkok. Dalam pemberitahuan yang dikeluarkan pada tanggal 1 Februari 2020, Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok mengatakan bahwa orang yang meninggal dunia karena Coronavirus tidak boleh dimakamkan dan mayatnya harus segera dikremasi.

Karena wabah Coronavirus, Biro Urusan Sipil Wuhan menunjuk Rumah Duka Hankou untuk menangani mayat yang didiagnosis dan meninggal dunia akibat Coronavirus, menurut media yang dikelola pemerintah Tiongkok. 

Selain itu, Rumah Duka Wuchang dan Rumah Duka Qingshan diperuntukkan bagi mayat yang meninggal dunia karena pneumonia yang parah, atau yang diduga kasus Coronavirus dan meninggal dunia.

 Seorang pekerja di krematorium Wuhan mengatakan dalam wawancara tanggal 4 Februari 2020 bahwa ia dan rekan-rekannya bekerja selama 24 jam, tujuh hari seminggu sejak tanggal 28 Januari 2020. Ia mengatakan mereka kelelahan, dan bekerja tanpa peralatan yang layak seperti kantong mayat, pakaian pelindung, dan masker wajah.

 “Sejak tanggal 28 Januari, 90 persen karyawan kami bekerja selama 24 jam selama 7 hari…kami tidak pulang ke rumah,” kata seorang pria bernama Yun mengatakan kepada The Epoch Times berbahasa Tionghoa melalui sambungan telepon. Ia bekerja di Rumah Duka Caidian, salah satu dari empat fasilitas di daerah pinggiran kota Wuhan.

 “Kami benar-benar membutuhkan lebih banyak tenaga kerja,” kata Yun.

 Sementara itu, lebih banyak jenazah terus dikirim setiap hari. “Kita harus mengambil jenazah bila pihak rumah sakit, komunitas, atau anggota keluarga yang meninggal dunia menelepon kami. Setiap hari, kami membutuhkan setidaknya 100 kantong jenazah,” kata Yun.

Tempat kerja Yun harus mengambil jenazah dari Rumah Sakit Tongji Wuhan, Rumah Sakit No. 13 Wuhan, Rumah Sakit Gunung Dewa Api yang baru dibangun, dan rumah sakit kecil lainnya, serta tempat tinggal yang meminta layanannya.

 Yun mengatakan ia berbicara dengan pekerja di rumah duka lainnya di Wuhan, yang juga kewalahan. “Hampir semua staf di setiap rumah duka di Wuhan dilengkapi sepenuhnya, dan semua ruang kremasi di Wuhan beroperasi selama 24 jam,” kata Yun.

Yun mengatakan staf duduk di kursi dan tidur siang setiap kali ada kesempatan. Ia mengatakan, mereka tidak berhenti bekerja, karena mereka tidak boleh meninggalkan jenazah di luar untuk waktu yang lama. Anggota staf juga tidak memiliki alat pelindung.

“Bila kami memindahkan mayat, maka kami tidak makan atau minum untuk waktu yang lama untuk memelihara pakaian pelindung, karena kami harus melepas pakaian pelindung saat makan, minum, atau pergi ke kamar mandi. Pakaian pelindung tidak boleh dipakai lagi setelah digunakan,” kata Yun.

Yun mengatakan staf lain di rumah duka tersebut, seperti resepsionis, tidak diberikani menggunakan pakaian pelindung. “Mereka memakai jas hujan untuk melindungi dirinya sendiri,” kata Yun.

Keluarga

Yun berkata bahwa ia sedih melihat begitu banyak jenazah dan mengetahui bahwa banyak anggota keluarga tidak dapat melihat orang yang dicintainya di saat terakhir kalinya. “Kami mengambil jenazah dari rumah orang …Anggota keluarga tidak dapat melihat jenazah tersebut setelah kami mengambilnya,” kata Yun.

Menurut peraturan pemerintah yang baru, staf rumah duka mengambil jenazah, kemudian mengkremasinya tanpa memberitahu anggota keluarga — sehingga keluarga dapat menghindari kontak dengan jenazah yang berpotensi terinfeksi Coronavirus.

“Saat anggota keluarga datang ke sini, mereka membayar biaya kremasi dan kemudian mengambil abunya,” kata Yun.

Di rumah sakit, anggota keluarga juga dilarang melihat jenazah. Beberapa orang yang meninggal memiliki rekam medis, tetapi banyak orang yang meninggal dunia yang tidak memiliki rekam medis — karena tidak dapat menerima perawatan rumah sakit segera sebelum kematiannya atau saat sekarat, kata Yun.

“Penyebab kematian jenazah-jenazah seperti dinyatakan tidak diketahui,” kata Yun.

Rumah Duka Wuchang

Guyu Lab, outlet berita online independen, mewawancarai seorang pekerja di rumah duka Wuchang yang diminta mengambil jenazah dari rumah sakit dan tempat tinggal, mulai tanggal 26 Januari 2020.

 “Saat ini semua staf pria di rumah duka kami mengambil dan memindahkan jenazah, dan staf wanita menjawab telepon, mendisinfeksi rumah duka, dan sebagainya. Kami bekerja 24 jam…Kami sangat lelah,” kata Huang kepada Guyu Lab dalam laporan tanggal 3 Februari 2020.

 Huang mengatakan rumah duka tempat ia bekerja tidak memiliki peralatan untuk mendisinfeksi fasilitas tersebut dengan benar. Pekerja harus menggunakan kembali pakaian pelindung sekali-pakai, karena tidak ada pakaian pelindung yang baru. 

Mereka mengenakan kacamata renang karena mereka tidak memiliki kacamata pelindung, dan harus mengenakan dua lapis sarung tangan plastik sekali-pakai karena mereka tidak memiliki sarung tangan karet. “Kami berada di ambang kehancuran. Kami benar-benar membutuhkan bantuan,” kata Huang. (Vv/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular