Erabaru.net. Pada tanggal 31 Januari tahun ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mengumumkan bahwa wabah virus corona baru yang merebak di wilayah Wuhan, Tiongkok pada tahun 2019 adalah Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia ( Public Health Emergency of International Concern, PHEIC).

Negara-negara secara aktif mengambil langkah-langkah pencegahan epidemi, dan para ahli, sarjana, dan pejabat dari negara-negara terkait diundang untuk menghadiri konferensi pencegahan epidemi yang diselenggarakan oleh WHO.  Tapi tahukah? Taiwan, yang terdekat dengan Tiongkok dan yang telah memiliki 11 kasus yang terkonfirmasi, belum diundang untuk menghadiri pertemuan WHO tersebut.

Melansir dari siaran pers, Taipei Economic and Trade Office (TETO) lebih disesalkan lagi adalah bahwa, laporan pneumonia WHO di Wuhan bahkan  mengabaikan fakta, dengan menghitung jumlah kasus di Taiwan termasuk dalam jumlah kasus di Tiongkok. 

Pendekatan WHO dalam memperlakukan Taiwan sebagai bagian dari Tiongkok  secara serius telah mempengaruhi hak dan kesejahteraan 23 juta rakyat Taiwan.  Tidak hanya pemerintah terpilih Taiwan yang tidak dapat berpartisipasi dalam WHO, para ahli Taiwan juga secara sewenang-wenang ditolak untuk berpartisipasi dalam pertemuan teknis tersebut. 

Jika prinsip WHO adalah “Kesehatan Untuk Semua” dan “Jangan Tinggalkan Siapa pun”, maka dapat dikatakan bahwa WHO tidak pernah melakukannya karena orang-orang Taiwan belum diperlakukan seperti itu.

WHO dan otoritas Tiongkok mengklaim bahwa mereka telah berbagi informasi yang relevan dengan Taiwan, itu benar-benar adalah kebohongan.  Pengecualian WHO terhadap Taiwan tidak adil bagi kesehatan dan keselamatan rakyat Taiwan, dan bagi orang-orang internasional seperti orang Indonesia yang tinggal di Taiwan, dan juga merupakan celah dalam pertempuran global melawan epidemi virus corona baru di Wuhan.

Meskipun Taiwan telah membentuk jalur komunikasi dengan WHO di bawah kerangka Peraturan Kesehatan Internasional (IHR), WHO selalu berada di bawah tekanan dari China.

WHO tidak menanggapi permintaan khusus Taiwan untuk informasi tentang wabah virus ini, dan tidak mengundang para ahli Taiwan untuk berpartisipasi dalam pertemuan “Komite Darurat” yang terkait dengan pencegahan epidemi. Tindakan ini telah mencegah Taiwan untuk mendapat informasi perkembangan epidemi terbaru dan lengkap dengan tepat waktu, dan tidak bisa terlibat dalam diskusi tentang metode pencegahan dan pengendalian.

Republik Rakyat Tiongkok tidak pernah sekalipun memerintah Taiwan, dan Taiwan jelas bukan bagian dari Republik Rakyat Tiongkok.  Hanya pemerintah terpilih Taiwan yang dapat mewakili kesehatan dan kesejahteraan 23 juta rakyat di Taiwan dalam komunitas internasional, serta secara bertanggung jawab merawat kesehatan dan kesejahteraan rakyat Taiwan, warga asing dan sekitar 300.000 orang Indonesia yang menetap di Taiwan.

Dalam menghadapi epidemi pneumonia Wuhan yang ganas ini, negara-negara di Amerika Serikat, Jepang, Uni Eropa, Kanada, dan negara-negara diplomatik Taiwan semuanya secara terbuka mendukung partisipasi dan keanggotaan Taiwan di WHO. 

Taiwan mengimbau Indonesia dan negara-negara lain untuk mendesak WHO agar menyajikan informasi epidemi pneumonia Wuhan dengan benar, dan tidak menyamakan Taiwan dengan Tiongkok.

“Taiwan mendesak WHO untuk secara profesional mengundang Taiwan untuk menghadiri semua konferensi anti-epidemi. Mengimbau Indonesia dan negara lain untuk mendukung Taiwan sebagai pengamat untuk menghadiri  pertemuan WHA dan WHO ke-73 tahun ini, untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan semua umat manusia,” demikian pungkas rilis TETO. (asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular