oleh Fan Yu

Bank-bank Tiongkok, bisnis UKM berjuang di tengah tidak aktifnya ekonomi

Tiongkok meningkatkan langkah-langkah dukungan ekonomi dalam beberapa pekan terakhir untuk menopang perekonomian domestik yang tegang akibat wabah virus corona.

Melansir dari The Epochtimes, sebagian besar bisnis dan kegiatan bisnis ditutup sejak Tahun Baru Imlek di akhir bulan Januari. Beberapa kegiatan bisnis dimulai kembali pada tanggal 10 Februari. Akan tetapi wabah virus corona yang sedang berlangsung diperkirakan akan berdampak melemahkan ekonomi terbesar kedua di dunia pada awal tahun 2020.

Mengingat aktivitas ekonomi yang melambat, pada tanggal 1 Februari 2020 regulator Beijing memerintahkan bank-bank di Tiongkok untuk menurunkan suku bunga dan memperpanjang tenggat waktu pembayaran pinjaman untuk membantu usaha kecil dan menengah. Tak lain untuk mengatasi pendapatan yang lebih rendah terkait dengan wabah virus corona.

Dua orang yang akrab dengan pemikiran Komisi Regulasi Perbankan dan Asuransi Tiongkok memastikan kepada Reuters pada tanggal 6 Februari, bahwa regulator Beijing meminta komunitas perbankan di beberapa kota. Tujuannya untuk menilai dampak wabah virus corona pada peminjam mereka dan mengajukan laporan rutin kepada regulator Beijing.

Tiongkok sedang berjuang untuk mengendalikan penyebaran virus corona, dan sejauh ini memberlakukan langkah-langkah untuk membatasi transportasi, membatalkan acara umum, dan menutup ruang umum yang ramai. Lalu lintas pejalan kaki yang berkurang sangat merugikan belanja konsumen, dan bisnis kecil seringkali menjadi yang pertama menderita.

Kerusakan ekonomi akan semakin parah. Para ekonom yang menoleh ke belakang saat wabah SARS pada tahun 2003  tidak cenderung menemukan korelasi yang relevan. Sektor konsumsi konsumen sekarang ini merupakan proporsi pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang jauh lebih tinggi. 

“Kontribusi konsumsi naik menjadi 64 persen dari pertumbuhan pada tahun 2019, berdasarkan rata-rata tiga tahun, dari sekitar 47 persen pada tahun 2003,” menurut sebuah laporan oleh Moody’s.

Faktor-faktor lain yang memperburuk wabah virus corona ini mencakup waktu — tepat sebelum musim utama untuk bepergian dan konsumsi selama Tahun Baru Imlek — dan lokasi. 

Provinsi Hubei di tengah Tiongkok adalah pusat transportasi dan manufaktur utama di sepanjang Sabuk Ekonomi Sungai Yangtze.

Terakhir, pada tahun 2003, Tiongkok  berada di tengah ekspansi ekonomi. Kejutan singkat namun parah yang disebabkan oleh SARS dapat ditatalaksana. Tetapi saat ini virus corona menyerang di tengah melemahnya pertumbuhan, perang dagang yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat, dan perubahan duniawi dalam basis pekerjaan di Tiongkok.

Usaha kecil dan menengah terpukul sangat keras. Sebuah survei yang dilakukan oleh Universitas Peking dan Universitas Tsinghua pada hampir 1.000 perusahaan kecil dan menengah menemukan, bahwa 34 persen perusahaan kecil dan menengah hanya mampu bertahan selama satu bulan atau kurang dengan menggunakan uang yang disimpan.

33 Persen perusahaan kecil dan menengah lainnya mengatakan mereka, hanya mampu bertahan selama dua bulan. 18 persen perusahaan kecil dan menengah juga mengatakan bisnis mereka hanya mampu  bertahan selama tiga bulan, menurut sebuah laporan oleh Caixin, sebuah majalah keuangan Tiongkok.

Pemberi pinjaman Tiongkok diharapkan untuk memutar kembali pinjaman yang ada ke usaha kecil dan menengah, serta menawarkan pembiayaan kembali sesuai dengan instruksi peraturan Beijing.

Gray Rhino Bertemu Black Swan

Langkah-langkah relaksasi finansial yang diberlakukan oleh Komisi Regulasi Perbankan dan Asuransi Tiongkok adalah masuk akal di saat darurat. 

Tetapi untuk Tiongkok dan Partai Komunis Tiongkok, langkah-langkah tersebut memiliki dampak kecil yang memperburuk risiko keuangan sistemik yang ada dan masalah lama lainnya.

Gray Rhino atau “Badak abu-abu” adalah istilah yang berarti masalah besar dan kasat mata dalam perekonomian Tiongkok yang biasanya diabaikan — tidak sepenuhnya diberhentikan tetapi merupakan risiko yang diketahui dan ditatalaksana. 

Black Swan atau “Angsa hitam” menggambarkan risiko atau peristiwa yang datang sebagai kejutan yang sempurna dan membawa konsekuensi parah. Ekonom paling takut dengan “Black Swan.”

Jumlah utang buruk pada neraca bank Tiongkok adalah salah satu badak abu-abu Tiongkok. Bahkan tahun lalu, bank-bank di Tiongkok sudah berjuang untuk menghindari perlambatan ekonomi dan meningkatnya kredit macet, terutama bank kecil hingga menengah di wilayah barat dan pedesaan Tiongkok.

Tahun lalu, Komisi Regulasi Perbankan dan Asuransi Tiongkok menemukandalam uji stres, bahwa 7,7 persen pemberi pinjaman berada pada risiko ekstrim karena tidak dapat menahan risiko ringan, dan 13,6 persen pemberi pinjaman berada pada risiko tinggi, menurut laporan Reuters.

Badak abu-abu dari sektor perbankan yang berjuang ditambah dengan insiden angsa hitam dari wabah virus corona cenderung yang menghancurkan. 

Bank diharuskan untuk terus memberikan pinjaman kepada usaha kecil dan menengah bahkan tanpa dibayar, sesuai dengan kebijakan. Akan tetapi banyak dari usaha kecil dan menengah tersebut tidak memenuhi profil manajemen keuangan atau risiko untuk menjamin pinjaman yang berkelanjutan. Terkecuali virus corona terkendali dengan cepat dan perusahaan dapat kembali berbisnis, tindakan sementara ini kemungkinan akan sia-sia.

Untuk bank, mereka mendukung usaha kecil dan menengah dengan risiko sendiri.  Tentu saja, bank sentral Tiongkok juga diharapkan mendukung pemberi pinjaman dengan suku bunga dan dana talangan yang rendah jika perlu.

Pada akhirnya, kebijakan ini hanya akan menambah kesulitan yang ada. (Vv/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular