Epochtimes.com

Wabah pneumonia Wuhan yang kini disebut Virus Corona COVDI-19 telah merebak di daratan Tiongkok tanpa terkendali. Akan tetapi sumber virus itu hingga kini masih merupakan misteri bagi kebanyakan orang.

Dalam pidato di pertemuan Komisi Reformasi Pendalaman Komprehensif Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok pada 14 Februari, Presiden Xi Jinping tiba-tiba mengeluarkan instruksi untuk mempercepat diberlakukannya undang-undang yang mengatur keamanan hayati. Hal ini memicu perhatian dunia luar tentang COVID-19 dan sumber penyebarannya.

Pada 14 Februari, Xi Jinping memimpin pertemuan Komisi Reformasi Pendalaman Komprehensif Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok, Li Keqiang sebagai wakil, Wang Huning, dan Han Zheng sebagai anggota dari komisi tersebut menghadiri pertemuan tersebut.

Xi Jinping mengatakan : “Menanggapi celah dan kekurangan yang terpapar dari kasus wabah yang terjadi di Wuhan, kita harus menebus kekurangan dan menambal celah celah dengan memasukkan keamanan hayati ke dalam sistem keamanan nasional, kita perlu secepat mungkin memberlakukan hukum yang mengatur keamanan hayati, dan seterusnya.”

Ini adalah pertama kalinya Xi Jinping secara terbuka menyebutkan keamanan hayati sejak wabah itu merebak dari kota Wuhan.

Sejak wabah pneumonia merebak dari kota Wuhan, dunia luar terus memperhatikan masalah asal muasal virus itu. Beberapa politisi atau ilmuwan, termasuk Senator AS Tom Cotton  mempertanyakan atau memberi isyarat bahwa virus itu mungkin terkait dengan laboratorium virus P4 di Wuhan, Tiongkok.

Instruksi yang diberikan Xi Jinping membuat dunia luar penuh dengan berbagai spekulasi tentang sumber virus yang menyebabkan korban serius khususnya di kota Wuhan.

Radio Free Asia mengutip pernyataan Francis Boyle, seorang profesor hukum di Universitas Illinois, yang telah menyusun rancangan Undang-Undang tentang senjata biologis (1989) melaporkan bahwa pernyataan Xi Jinping mewakili kesadarannya akan keseriusan dari keamanan hayati yang mungkin dapat membahayakan status politiknya.

Francis Boyle mengatakan : “(laboratorium Tiongkok) sama sekali tidak memiliki norma kelembagaan, meskipun komunis Tiongkok telah menginvestasikan banyak upaya dalam mengembangkan senjata biologi pertahanan nasional. Namun, sejauh yang saya tahu, senjata biologis mereka dikembangkan dan disimpan di laboratorium virus BSL-4 (biosafety level 4). Sangat berbahaya. Secara historis, laboratorium tingkat tersebut memiliki catatan kebocoran (virus)”.

Seorang dokter virologi anonim dari Amerika yang akrab dengan mode operasi laboratorium P3 mengatakan kepada Radio Free Asia : “Hal yang membuat saya terkejut adalah apakah berarti kalian belum melakukan (peraturan tidak lengkap) ? Saya terkejut bahwa komunis Tiongkok tidak  memiliki peraturan seperti itu. Mereka sudah membangun dan mengoperasikan laboratorium P3 dan P4. Ini adalah hal yang sangat mengerikan”.

Dokter virologi anonim tersebut memperkenalkan bahwa, dengan mengambil peraturan keamanan hayati Taiwan sebagai contoh, di samping mengatur keamanan hayati dengan jelas melalui tingkatan virus dan patogenisitas yang sesuai dengan standar internasional, ada prosedur tertentu untuk menunjukkan bagaimana mengendalikan limbah dan cara memakai serta melepas pakaian pelindung.

Sejak terjadi wabah SARS pada tahun 2003, Taiwan telah dipimpin oleh Departemen Pengendalian Penyakit dari Kementerian  Kesehatan telah menguji peraturan keamanan hayati dan pedoman laboratorium terkait dengan mempelajari referensi seperti WHO, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), Institut Kesehatan Nasional, dan Badan Kesehatan Masyarakat Kanada untuk secara bertahap meningkatkan peraturan keamanan hayati mereka.

“Mengapa perlu ada undang-undang yang mengatur ? Karena virus sangat mudah untuk diambil dan dibawa keluar. Misalnya, ketika Anda hari ini menangani suatu spesimen virus, tanpa sengaja Anda memecahkan sarung tangan dan tidak memiliki prosedur. Apakah Anda perlu memberitahukan atasan ? Atau Anda pulang lalu berjalan-jalan ke mana saja sesukanya ? Atau kadang kala, kita memelihara virus, dan mendistribusikannya ke dalam seratus tabung percobaan. Setiap kali saya mengambil tabung untuk percobaan, saya wajib untuk membuat catatan di komputer,” kata dokter itu. 

Pakar : Virus mungkin berasal dari laboratorium

Laporan mengutip ucapan Liu Hanxi, seorang peneliti di Pusat Hukum Kesehatan Internasional O’Neill di Fakultas Hukum Universitas Georgetown, juga seorang pengacara senior dari Kantor Hukum Pontis yang menyebutkan bahwa keamanan hayati laboratorium sesungguhnya merupakan indikator penting dari keamanan publik nasional.

Liu Hanxi mengatakan bahwa karena wabah Wuhan mungkin disebabkan oleh kontrol yang tidak benar terhadap laboratorium biologis, masalah ini sebenarnya terjadi juga di seluruh laboratorium di Tiongkok, termasuk laboratorium di rumah sakit dan perguruan tinggi. “Sepanjang peraturan ini tidak ditegakkan, risiko krisis serupa di waktu mendatang masih tinggi”, katanya.

“Di negara-negara hukum, hukum memiliki peringkat. Jika itu memiliki skup norma administrasi, atau hanya tingkat manajemen laboratorium (norma yang dikembangkan), peringkat itu tidak cukup. Meningkatkan peringkat hukum mewakili tingginya perhatian dari negara. Hal itu dapat mengatasi banyak masalah konflik kekuasaan”.

Liu Hanxi lebih lanjut menjelaskan bahwa, misalnya, pembagian tanggung jawab dalam badan khusus, anggaran laboratorium, kekuasaan peneliti, ruang lingkup penelitian, hukuman untuk pelanggaran norma, tanggung jawab pidana, dan lain-lain. Semua perlu memiliki satu standar prosedur dan peraturan terpadu untuk menangani konflik yang mungkin muncul.

Dengan telah diberlakukannya undang-undang dan peraturan keamanan hayati di Amerika Serikat pada tahun 1989, Francis Boyle menekankan bahwa tanpa bermaksud untuk mengkritik pemerintah Tiongkok, namun ia sesalkan jika kasus virus kali ini sampai menyebabkan penderitaan bagi rakyat Tiongkok, dan insiden internasional. Oleh karena itu ia menyerukan kepada pihak berwenang untuk menutup semua Laboratorium penelitian virus P4 di Tiongkok. (Sin/asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular