oleh James Grundvig

Mode kebohongan, kerahasiaan, dan propaganda bawaan  Komunis Tiongkok menumpulkan responnya pada waktu itu terhadap epidemi setempat.

Dengan membungkam dan tidak mendengarkan para dokter garis depan di rumah sakit kota Wuhan, seperti mendiang dr. Li Wenliang, pihak berwenang komunis Tiongkok memperburuk penyebaran wabah virus corona.

Berdasarkan alasan itu saja, Tiongkok di bawah kendali  Komunis Tiongkok bukanlah pemain global seperti yang diklaimnya.

Baru kini, setelah dikecam oleh pers, rezim totaliter Tiongkok memberikan izin kepada Organisasi Kesehatan Dunia untuk mengirim “tim pendahulunya” ke Tiongkok untuk menangani krisis yang sedang berlangsung.

Organisasi Kesehatan Dunia membuat tanggapannya terhadap wabah virus corona dan Partai Komunis Tiongkok menutup-nutupi lebih buruk. Karena  tidak memiliki perjanjian dengan negara-negara terkemuka yang memiliki kursi di meja perundingan di PBB, Organisasi Perdagangan Dunia, dan lembaga-lembaga lain, Organisasi Kesehatan Dunia tidak punya rencana untuk bagaimana menangani wabah di masyarakat Tiongkok yang tertutup. Itu adalah kegagalan Organisasi Kesehatan Dunia dalam memimpin dan memandang jauh ke depan.

Sejak tahun 2009, Organisasi Kesehatan Dunia mengumumkan enam darurat kesehatan global, mencakup wabah flu babi tahun 2009, epidemi polio liar tahun 2012, pandemi virus Ebola di Afrika Barat tahun 2014, wabah virus Zika tahun 2016, wabah virus Ebola 2.0 di Kongo, dan kini pandemi COVID-19 tahun 2020.

Orang akan berpikir bahwa sebuah organisasi global bernilai miliaran dolar itu, dengan pengalamannya baru-baru ini dalam deklarasi darurat, akan memiliki rencana untuk bagaimana menanggapi wabah berikutnya. Tidak. Bukan itu masalahnya. Sangat jelas bagi penulis analisa ini, dan bagi banyak media, Organisasi Kesehatan Dunia tidak siap untuk menanggapi dengan cara yang cepat dan meyakinkan untuk mengatasi epidemi.

Yang lebih membingungkan daripada permintaan dana  675 juta dolar AS untuk meningkatkan kapasitas dan mengirimkan pasokan medis ke-60 negara yang kurang beruntung, Organisasi Kesehatan Dunia telah salah mengarahkan sumber dayanya untuk memerangi “informasi yang salah” mengenai virus corona baru.

Sayang sekali bahwa Direktur Organisasi Kesehatan Dunia Tedros Adhanom juga menghabiskan modal pengiriman pesan untuk menutupi ketidakjelasan dan kegagalan tanggapan Beijing terhadap krisis, bukannya membuat informasi  menjadi kuat dan transparan. 

Tindakan itu membuat Tedros Adhanom tidak layak memimpin Organisasi Kesehatan Dunia; sebuah petisi di Change.org meminta pengunduran diri Tedros Adhanom.

Apa yang Seharusnya Terjadi

Dengan pengalaman lima deklarasi darurat sebelum wabah jenis Coronavirus baru, Organisasi Kesehatan Dunia seharusnya melangkah bersama dengan Tiongkok serta menuntut transparansi dan kerja sama untuk mengidentifikasi asal-usul penularan, melacak siapa yang merupakan kelompok pasien pertama, dan berusaha memastikan kapan dan bagaimana wabah itu mulai terjadi.

Singkatnya, Tiongkok seharusnya memberikan kepada Organisasi Kesehatan Dunia sampel virus yang diambil dari pasien di pusat penyebaran Coronavirus dan berbagi metadata mentah mengenai genom virus tersebut kepada ilmuwan internasional. Dari situ, Organisasi Kesehatan Dunia akan mendistribusikan tiga hingga lima sampel ke laboratorium independen di luar Tiongkok untuk mempelajari virus tersebut, bersama dengan para ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia.

Kemudian Organisasi Kesehatan Dunia akan membagikan hasil analisisnya, menerbitkannya, dan memungkinkan para ilmuwan dan peneliti di masyarakat untuk memeriksa, membenarkan, dan mempertanyakan temuan-temuan tersebut. Tetapi tidak satu pun dari langkah-langkah ini diambil. 

Itulah peluang yang terlewatkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia dalam perjuangannya dalam memadamkan misinformasi. Organisasi Kesehatan Dunia menciptakan kondisi yang mudah berubah ini melalui  ketidakmampuan Organisasi Kesehatan Dunia untuk bergerak dan merespons pandemi dengan cepat.

Jadi, siapa yang dapat menyalahkan para peneliti, penyelidik, dan jurnalis online yang menunjukkan bahwa:

Institut Virologi Wuhan, yang memiliki laboratorium senjata biologis Tingkat 4, terletak 32 km dari pasar “basah.” Atau bahwa seorang ilmuwan Tiongkok dideportasi dari Kanada pada bulan Agustus 2019 karena berusaha mencuri sampel virus corona. Atau bahwa konsorsium pimpinan Gates Foundation melakukan simulasi virus corona berminggu-minggu sebelum wabah.

Akibatnya, 40 hari pandemi, pertanyaan tetap ada. Apakah virus corona muncul secara alami dari reservoir hewan eksotis? Atau apakah virus corona bocor dari laboratorium Institut Virologi Wuhan? Kami masih belum tahu asal usul virus tersebut.

Sementara kami menunggu ilmuwan independen melakukan kerja keras tugas Organisasi Kesehatan Dunia dalam menganalisis sampel virus dari luar Tiongkok, informasi, apakah “konspirasi” bercampur atau kontra-produktif, akan berlanjut. Ini adalah kesalahan Organisasi Kesehatan Dunia. Juga, tidak ada yang tahu apakah genom virus yang dipublikasikan di Tiongkok adalah akurat atau merupakan informasi sesat oleh  Komunis Tiongkok. 

 Komunis Tiongkok masih belum membagikan metadata virus corona. Begitu banyak mantra “kerjasama saling menguntungkan” oleh rezim komunis Tiongkok.

Masalah Tiongkok yang Lain

Di luar kedekatan laboratorium, para ilmuwan Institut Virologi Wuhan telah memanipulasi virus Bat-SARS-CoV di masa lalu. 

Untuk memahami apa yang membuat sebuah virus menjadi mematikan, para ilmuwan menggunakan metode untuk mempelajari sifat-sifat tertentu dengan menciptakan “pseudovirus” dan mengubahnya melalui modifikasi “chimera.” 

Dalam penelitian Institut Virologi Wuhan tahun 2007, “Perbedaan Penggunaan Reseptor antara Virus corona Penyebab SARS dengan Virus Corona Mirip Virus SARS yang Berasal dari Kelelawar,” mereka melakukan hal itu — memodifikasi sampel virus.

Karena modifikasi buatan seperti itu terhadap permutasi sebelumnya dari Virus Corona penyebab SARS terjadi di laboratorium di Wuhan, maka orang mungkin memahami proses pemikiran tanggapan awal Komunis Tiongkok terhadap penyakit ini.

Dengan periode laten tersembunyi COVID-19, tidak ada seorang pun di Wuhan yang menyadari apa yang terjadi pada mereka pada bulan Desember 2019. 

Saat para ilmuwan mengidentifikasi jenis Virus Corona baru yang bersifat super dalam hal masa laten, replikasi massa, dan reseptor yang terhubung ke sel-sel pejamu,  Komunis Tiongkok masih tidak tahu apa yang ada di tangannya: Virus alami atau buatan manusia, apakah virus tersebut bocor dari laboratorium atau ditanam oleh penyabot.

Jadi, masuk akal untuk berpikir bahwa rezim komunis Tiongkok menyimpan semua informasi penting secara apik, tidak berniat membagikan informasi tersebut.  Mungkin karena takut atau khawatir virus tersebut bocor dari laboratorium Wuhan, dan kemudian disalahkan saat rakyat terinfeksi dan meninggal dunia.

Jika Tiongkok tidak menjadi pemain global yang lebih baik dan tidak menjadi lebih terbuka di bawah kendali Partai Komunis Tiongkok, maka rezim Tiongkok harus keluar dari panggung dunia.

 Dan lagi, jika Organisasi Kesehatan Dunia tidak mampu memiliki rencana untuk mengidentifikasi secara cepat asal-usul penularan Virus Corona baru ini berikutnya dengan cara yang cepat dan transparan, maka Organisasi Kesehatan Dunia harus mendapatkan dana dari semua dukungan modal yang berasal dari pembayar pajak Amerika Serikat.

Dalam pandemi berikutnya, dunia tidak akan mampu menjaga kerahasiaan, menutup-nutupi, dan kegagalan menjalankan rencana respons cepat. Itu akan menjadi satu-satunya cara untuk menahan “infodemik” yang dikecam oleh Tedros Adhanom dari Organisasi Kesehatan Dunia dan The New York Times, di antara gerai-gerai lainnya.

Misinformasi bukanlah masalahnya. Kepercayaan dan transparansi adalah titik gesekan yang gagal mengendalikan ancaman pandemi yang semakin meningkat. 

James Grundvig. adalah penulis  yang menguak skandal di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS dengan judul bukunya “Master Manipulator: The Explosive True Story of Fraud, Embezzlement and Government Betrayal at the CDC.”  Dia tinggal dan bekerja di New York City.

Video Rekomendasi : 

 

Share

Video Popular