Reuters/NTD.com

Ilmuwan di Tiongkok yang mempelajari tentang kain penyeka hidung dan tenggorokan dari 18 pasien yang terinfeksi virus corona COVID-19 mengatakan, virus COVID-19 berperilaku seperti influenza daripada virus lainnya yang serupa. Studi menunjukkan bahwa virus itu mungkin menyebar lebih mudah daripada yang diyakini sebelumnya.

Setidaknya dalam satu kasus, ada virus meskipun pasien tidak memiliki gejala. Bahkan studi itu mengonfirmasi kekhawatiran bahwa pasien tanpa gejala juga dapat menyebarkan penyakit.

Meskipun masih pendahuluan, temuan yang diterbitkan pada Rabu 18 Februari 2020 di New England Journal of Medicine, menawarkan bukti baru bahwa novel virus corona COVID-19 di Tiongkok tak terkait dengan virus corona.

“Jika dikonfirmasi, ini sangat penting,” kata Dr. Gregory Poland, seorang ahli virologi dan peneliti vaksin dengan Mayo Clinic di Rochester, Minnesota, yang tidak terlibat dalam penelitian ini yang dilaporkan oleh Reuters yang dikutip oleh NTD. 

Tidak seperti SARS, yang menyebabkan infeksi jauh di saluran pernapasan bawah yang dapat menyebabkan pneumonia, Virus COVID-19 tampaknya menghuni saluran pernapasan bagian atas dan bawah. Hal demikian akan membuatnya tidak hanya mampu menyebabkan pneumonia berat, tetapi menyebar dengan mudah seperti flu atau flu biasa.

Para peneliti di provinsi Guangdong memantau jumlah virus corona terhadap 18 pasien. Salah satunya, yang memiliki tingkat virus moderat di hidung dan tenggorokannya, tak pernah memiliki gejala penyakit apa pun.

Di antara 17 pasien yang memiliki gejala, tim menemukan kadar virus meningkat segera setelah gejala pertama kali muncul, dengan jumlah virus yang lebih tinggi ada di hidung daripada di tenggorokan, pola yang lebih mirip dengan influenza daripada SARS.

Tingkat virus pada pasien tanpa gejala atau asymptomatik mirip dengan yang terdapat pada pasien dengan gejala atau symptoms seperti demam.

“Apa yang dikatakan jelas virus ini dapat dikeluarkan dari saluran pernapasan bagian atas dan orang-orang melepaskannya tanpa gejala,” kata Dr. Gregory Poland.

Temuan itu menambahkan bukti bahwa virus baru ini, meskipun secara genetis serupa, tidak berperilaku seperti SARS, sebagaimana diungkapkan Kristian Andersen, seorang imunolog di Scripps Research di La Jolla yang menggunakan alat pengurutan gen untuk melacak wabah penyakit.

“Virus ini jelas jauh lebih mampu menyebar di antara manusia daripada virus corona yang pernah kita lihat. Ini lebih mirip dengan penyebaran flu,” kata Andersen, yang tidak terlibat dengan penelitian ini.

Sejumlah peneliti mengatakan, temuan mereka menambah laporan bahwa virus dapat ditularkan pada awal perjalanan infeksi. Selain itu, menyarankan bahwa mengendalikan virus akan memerlukan pendekatan berbeda dari apa yang bekerja dengan SARS,  terutama mengendalikan penyebarannya di rumah sakit. (asr)

Video Rekomendasi :

 

Share

Video Popular