- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Pemerintah Iran Menyangkal Pernyataan Anggota Parlemennya Terkait 50 Orang Tewas Akibat Virus Corona COVID-19

Jack Phillips

Virus Corona COVID-19 yang disebutkan oleh seorang anggota parlemen Iran yang berasal dari kota Qom kepada kantor berita The Associated Press sudah menyebabkan kematian 50 orang di Iran. Angota parlemen itu menuding pemerintah Iran gagal mengendalikan penyakit mematikan itu. Akan tetapi, pernyataan itu dibantah keras oleh Kementerian Kesehatan Iran. 

Seorang anggota parlemen Iran dari kota Qom mengatakan 50 orang di kota Qom meninggal dunia akibat virus corona baru pada bulan Februari ini. Pernyataan menimbulkan  teguran cepat dari Kementerian Kesehatan Iran. Pemerintah Iran bersikeras bahwa angka kematian akibat wabah Coronavirus adalah jauh lebih rendah.

Ahmad Amirabadi Farahani, anggota parlemen Iran, menyampaikan klaim dalam sebuah wawancara dengan kantor berita The Associated Press sebelum menuduh kepemimpinan Iran gagal mengendalikan wabah virus corona COVID-19.

 “Saya pikir kinerja pemerintah Iran dalam mengendalikan virus adalah belum sukses,” kata Ahmad Amirabadi Farahani, merujuk pada pemerintahan Presiden Hassan Rouhani.  

Ia mengatakan, tidak ada perawat yang memiliki akses ke alat pelindung yang tepat. Sejauh ini, ia belum melihat tindakan khusus pemerintah Iran dalam menghadapi virus corona COVID-19. 

Namun juru bicara Kementerian Kesehatan Iran menolak klaim Ahmad Amirabadi Farahani dan hanya mengatakan 47 orang terinfeksi Coronavirus dan belasan orang meninggal akibat terinfeksi Coronavirus.

 “Tidak ada seorang pun yang memenuhi syarat untuk membahas berita semacam ini,” kata Harirchi  kepada The Associated Press. Ia mengatakan bahwa anggota parlemen Iran tidak memiliki akses ke data tersebut. Ia mengatakan bahwa Ahmad Amirabadi Farahani mungkin memiliki angka kematian akibat virus corona COVID-19 dicampur dengan angka kematian akibat influenza atau penyakit lainnya.

 Sejumlah negara tetangga Iran telah menerapkan pembatasan perjalanan atau sejauh ini telah menutup perbatasannya.  Turki, Irak, Kuwait, Afghanistan, Pakistan, dan Armenia mengumumkan penutupan perbatasan darat beberapa hari terakhir.

Pada hari Senin 24 Februari 2020, Kuwait, Irak, Afghanistan, Bahrain, dan Oman masing-masing mengumumkan kasus pertama Virus Corona, yang menyebabkan penyakit COVID-19 dan diyakini muncul di Wuhan, Tiongkok. 

Puluhan ribu orang dicurigai terinfeksi oleh virus corona di dalam negeri Tiongkok, meskipun para ahli meningkat kekhawatiran bahwa Komunis Tiongkok belum memberikan gambaran wabah virus corona dengan akurat.

Kasus-kasus baru  virus corona yang dipastikan muncul saat bos Organisasi Kesehatan Dunia Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan pada konferensi pers bahwa dunia harus “melakukan segalanya semampunya untuk mempersiapkan pandemi potensial.” 

Tetapi memperingatkan bahwa “menggunakan kata pandemi kini tidak sesuai dengan fakta, tetapi tentu saja menimbulkan ketakutan.”

Dengan terperinci, Dr. Mike Ryan dari Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan bahwa para pejabat “perlu sangat berhati-hati dalam gelombang pertama infeksi di negara yang baru terinfeksi, karena kita mungkin hanya mendeteksi kasus-kasus parah dan kematian yang akan terlalu berlebihan mewakili keadaan yang sebenarnya. Kita juga harus sadar bahwa virus corona baru mungkin sudah ada lebih lama dari yang kita duga sebelumnya.”

Virus corona COVID-19 diyakini menyebar terutama melalui pertemuan keagamaan di Qom. Dr. Mike Ryan,  mencatat beberapa kesamaan dengan kelompok kasus lain, termasuk kapal pesiar Diamond Princess, tempat ratusan orang menjadi sakit setelah menghabiskan dua minggu dalam isolasi medis di lepas pantai Jepang. (Vivi/asr)

Video Rekomendasi :