Reporter Li Yun / Editor: Li Quan – NTDTV.com

Aturan baru dari cern.ac.cn. – CERN (Chinese Ecosystem Research Network) Komunis Tiongkok akan diimplementasikan pada 1 Maret 2020. Hal itu memicu kekhawatiran kalangan luar. Mereka menduga Komunis Tiongkok sedang melakukan penutupan total terkait epidemi.

Sebelum peraturan baru diumumkan, Komunis Tiongkok telah memperkuat peninjauan dan pengawasan jaringan internet. Dalam kasus epidemi pneumonia Wuhan, WeChat menutup akun pengguna secara besar-besaran dengan alasan banyaknya “rumor” yang beredar. 

Akun netizen yang diblokir mengeluh, kehilangan banyak catatan harian, dan kontak relasi. Ada yang tiba-tiba diblokir ketika mengirim pesan, ada juga yang kaget akun mereka telah diblokir saat bangun tidur.

Provinsi Hubei telah menerapkan penutupan rumah paling ketat pada  16 Febuari lalu. Penyiar daerah setempat mengatakan bahwa sejak tanggal tersebut, peraturan yang membolehkan satu orang dari setiap keluarga untuk berbelanja setiap hari selama 7 hari itu dibatalkan. 

Lingkungan di komunitas pemukiman warga sekarang sepenuhnya tertutup dan siapa pun dilarang keluar. Mereka diminta kerjasama dengan pemerintah.

Sepenggal video online menunjukkan suasana penutupan di komunitas Wuhan: Beberapa warga bertanya, “Anda ingin menutup lingkungan komunitas kami disini, kami akan bekerja sama, dan kami akan mendaftar, tapi bagaimana dengan kehidupan kami sehari-hari ? bagaimana jika ingin membeli makanan ? Ingin melihat kami mati kelaparan ya ?”

Untuk diketahui, Kota Wuhan telah ditutup selama hampir satu bulan, karena terperangkap dalam kepanikan epidemi di dalam kota, lalu lintas terhenti, dan persediaan barang langka. Dalam beberapa hari terakhir, telah terjadi pemutusan akses internet dan pemadaman listrik di Wuhan.

Beberapa netizen mengatakan sudah beberapa hari tidak ada stok makanan lagi di rumah.

“Sebentar lagi akan mati kelaparan dalam keadaan hidup-hidup! “ komentar mereka. 

Sebelumnya beberapa netizen memperkirakan, bahwa ketika akan terjadi kelaparan, komunis Tiongkok akan menerapkan pemutusan akses internet di Wuhan untuk mencegah penyebaran berita tersebut yang akan dikutuk dunia internasional.

Beberapa netizen mengatakan, “Yang paling ditakutkan adalah pemadaman listrik, pemutusan pasokan air dan gas, kemudian diikuti dengan putusnya pasokan makanan. Akses internet sekarang terputus, sementara polisi bertugas 24 jam sehari.”

Banyak netizen bertanya: “Apa pemerintah ingin warga Wuhan mati sakit atau mati kelaparan?

Sejumlah netizen Tiongkok mengatakan, bahwa saat ini, Provinsi Hubei telah mulai melakukan pemadaman listrik, pemutusan akses internet secara wilayah. Komunitas Wuhan menyiarkan pemberitahuan bahwa sejumlah wilayah di Wuhan mulai menerapkan pemutusan jaringan  internet sebagian, alasannya karena berita di Internet memengaruhi penilaian pakar WHO terhadap epidemi domestik.

Beberapa netizen di Distrik Jiang’an, kota Wuhan mengkonfirmasi  bahwa, hingga malam 19 Februari 2020, jaringan internet tidak bisa diakses, beberapa kali hotline ke walikota juga tidak diangkat. Mereka terpaksa sehemat mungkin menggunakan data ponsel.

    

Seorang aktivis demokrasi, Zeng Jieming (Ceng Cie Ming) mengatakan teman-temannya mengkonfirmasi bahwa pemutusan akses internet di Wuhan tiba-tiba saja terjadi pada malam hari tanggal 11 Februari 2020.

Zeng Jieming mengatakan, dua temannya yang masing-masing berada di Distrik Caidian dan Distrik Jiangxia, melaporkan bahwa lingkungan di komunitas mereka tidak bisa mengakses internet, dan mereka mengeluarkan pemberitahuan, mengatakan bahwa karena banyak rumor di dunia maya, sehingga secara serius mengganggu bantuan di daerah bencana. 

Kedua wilayah tersebut adalah daerah wabah yang paling parah. Pemda Wuhan semakin hati-hati dalam mengeluarkan pernyataaan pasca pergantian pejabat provinsi Hubei. Ying Yong adalah anggota Komite Hukum dan Politik Keamanan Publik Tiongkok. Selain itu juga seorang politisi Tiongkok dan Sekretaris Partai Komunis Hubei saat ini, posisi yang telah dipegangnya sejak Februari 2020.

Aktivis Zeng Jieming mengatakan, “Tidak jelas apakah hanya komunitas yang diputus akses internetnya atau seluruh kota. Penilaian saya adalah itu adalah tindakan dari setiap subdivisi, tetapi yang pasti atas instruksi dari otoritas komunis Tiongkok.”

“Penutupan kota Wuhan telah memasuki status keadaan perang. Saat ini, langkah-langkah penanganan komunis Tiongkok terhadap wabah tidak lebih dari mati-matian meningkatkan penutupan kota dan pemutusan akses internet, yang memperburuk bencana kemanusiaan berskala besar di Wuhan,” jelas aktivis Zeng Jieming.

Beberapa netizen di Twitter mengatakan bahwa sejak dulu Komunis Tiongkok  pernah membuat jutaan orang mati kelaparan. Komunis Tiongkok tak peduli dengan krisis kemanusiaan.

Orang-orang Tiongkok sekarang jauh lebih mudah ditangani. Mereka hanya pasrah saja diminta menunggu ajal di rumah. Ketika terjadi kelaparan hebat tahun 1958-1962 dimana ada 43 juta orang tewas, di persimpangan jalan juga dilengkapi dengan milisi bersenjata dan langsung menembak ketika melihat orang melarikan diri, menutup jalan hidup orang-orang yang berusaha melarikan diri.

Sekarang cukup dengan pengawal merah sudah bisa menutup seluruh komunitas tanpa harus dilengkapi dengan gagang senjata. Entah, berapa banyak  orang-orang Wuhan yang tewas sejauh ini?  (jon)

Video Rekomendasi : 

 

Share

Video Popular