- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Pejabat Setempat : Wabah Virus Corona Tak Terkendali di Wuhan Meskipun Ada Tindakan Pengendalian Secara Menyeluruh

Eva Fu

Ada pejabat setempat di sebuah distrik di Wuhan, pusat wabah virus corona, yang buka suara soal kondisi di sana. Pejabat itu  mengungkapkan wabah itu tidak terkendali, meskipun pemerintah telah mengambil langkah-langkah secara menyeluruh untuk membatasi penyebaran wabah virus corona di Wuhan.

Sejak 23 Januari 2020, Wuhan di tengah Tiongkok menghentikan hampir semua transportasi darat, menunda pembukaan sekolah, menutup kompleks perumahan, dan membangun lebih banyak rumah sakit darurat di gedung olahraga dan sekolah. Bersamaan dengan laju sekitar satu rumah sakit darurat setiap dua hari — untuk mengakomodasi masuknya pasien COVID-19.

Melansir dari The Epochtimes, saat ini, satu penduduk dari setiap rumah tangga diperbolehkan meninggalkan kompleks tempat tinggalnya setiap tiga hari sekali untuk membeli bahan makanan dan persediaan lain yang diperlukan.

 “Kendalinya bahkan lebih ketat dari sebelumnya. Cukup jelas bahwa wabah virus coorna tidak mereda dan tidak terkendali,” kata seorang pejabat pemerintah yang bekerja di Jiujie, sebuah sub-distrik di bawah distrik Xinzhou, kepada The Epoch Times selama panggilan telepon yang menyamar.

Hingga tanggal 25 Februari, Wuhan mencatat lebih dari 47.000 kasus infeksi — lebih dari setengah jumlah total kasus infeksi di Tiongkok  — meskipun para pakar internasional menduga jumlah kasus infeksi sebenarnya jauh lebih tinggi.

Pejabat pemerintah lainnya di Zhucheng, sebuah kecamatan di Xinzhou, mengatakan pihak berwenang yang lebih tinggi jabatannya menganggap wabah di daerah itu sebagai “sangat serius.” Distrik Xinzhou melaporkan jumlah kasus infeksi terendah di antara 13 distrik di Wuhan. “Situasinya sangat intens di sini sehingga kami berhenti mengerjakan yang lain untuk berkonsentrasi mengendalikan wabah,” katanya kepada The Epoch Times saat panggilan telepon lainnya lagi dengan menyamar.

Pada tanggal 24 Februari, Wuhan melonggarkan tindakan karantina transportasi melalui pemberitahuan, namun menarik kembali pernyataan itu beberapa jam kemudian. Pemerintah Wuhan menjelaskan bahwa “kelompok kerja kendali transportasi” bersama badan pengendalian wabah membuat pengumuman tanpa mendapatkan izin sebelumnya dari atasannya.

“Aturan praktis yang diberikan oleh pihak berwenang pusat adalah: Wuhan dan Provinsi Hubei harus memiliki nol kasus baru selama 14 hari sebelum kami melonggarkan aturan karantina,” kata pejabat Zhucheng.

 Di sebuah sekolah di Zhucheng, seorang penjaga keamanan mengatakan sekolah ditutup selama wabah virus corona. Ia bertahan hidup dengan mie instan ramen sejak pasar sayuran setempat ditutup. “Anda tidak boleh santai-santai berjalan di jalan, atau anda akan ditangkap dan dipenjara,” kata pejabat itu kepada The Epoch Times.

Di sub-distrik Yangluo Xinzhou, seorang perwira mengatakan selama panggilan telepon rahasia bahwa supermarket ditutup di tengah ketakutan akan wabah virus corona, sementara kasus-kasus baru tetap menumpuk setiap hari. “Tidak ada bantuan akibat wabah virus corona,” katanya.

Lebih dari 32.000 tenaga kesehatan nasional datang untuk membantu staf garis depan yang kewalahan di Wuhan pada tanggal 20 Februari, menurut Wakil Walikota Wuhan.

Dua perawat Tiongkok dari Provinsi Guangdong, selatan Tiongkok dikirim ke Wuhan, pusat wabah virus corona, menyerukan kepada dunia untuk meminta bantuan pada jurnal medis Inggris The Lancet [1].

“Kondisi dan lingkungan di sini di Wuhan lebih sulit dan ekstrem daripada yang dapat  kita bayangkan,” tulis mereka dalam sebuah surat terbuka diterbitkan pada tanggal 24 Februari 2020.

 Selain tekanan pada pekerja kesehatan dan pekerja pemerintah di garis depan, ada rasa ketidakpercayaan yang semakin besar terhadap data resmi yagn dikeluarkan otoritas komunis Tiongkok.

 Xinzhou hanya melaporkan satu kasus baru pada tanggal 26 Februari, sehingga total kasus baru lebih dari 1.000 untuk distrik ini.

Wang, penduduk setempat mengatakan angka itu hanyalah “angka yang dipastikan oleh pemerintah,” karena banyak pasien virus corona belum ditegakkan diagnosisnya  yang berarti pasien-pasien tersebut tidak menjadi bagian penghitungan resmi.

Sebuah penelitian pra-cetak baru-baru ini oleh para peneliti Amerika Serikat menyimpulkan bahwa wabah virus corona yang terjadi di Wuhan dapat lima hingga 10 kali lebih parah daripada yang dinyatakan data resmi.

Sebuah penelitian [2] baru-baru ini oleh Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tiongkok juga menemukan virus corona lebih menular daripada SARS dan MERS. Bulan lalu sebagian besar waktu Wang dihabiskan berada di dalam rumah. Ia memakai kacamata dan masker sebelum melangkah keluar dari apartemennya. “Jika satu orang terinfeksi, keluarga itu akan hancur. Orang-orang sekarat di dalam rumah,” katanya. (vivi/asr)

Video Rekomendasi :