oleh Li Jing

Wabah pneumonia Wuhan yang kini disebut COVID-19  telah merebak ke berbagai negara di dunia. Akan tetapi di daratan Tiongkok yang menjadi sumber wabah, jumlah orang yang didiagnosa positif terinfeksi COVID-19 maupun jumlah kematiannya tiba-tiba dilaporkan komunis Tiongkok terus menurun. Pada saat yang sama, fenomena kambuh justru sering terlihat pada pasien yang dinyatakan sembuh oleh institusi medis Tiongkok, aneh bukan ?!?

Pada 3 Maret 2020, media ‘Renmin Rebao’ memuat sebuah artikel yang mengutip keterangan dari Direktur Komite Kesehatan Nasional Tiongkok, Ma Xiaowei menyebutkan bahwa rumah sakit berbentuk fangcang atau persegi panjang seperti bangunan gudang, di kota Wuhan telah mencapai “nol infeksi, nol kematian, dan nol kembali”.

Tetapi seorang penanggung jawab rumah sakit berbentuk fangcang di kota Jiang’an, Wuhan pada 4 Maret kepada media ‘ThePaper’ membenarkan bahwa pihaknya telah mengeluarkan sebuah  Pemberitahuan Darurat yang isinya berupa : Menurut laporan terbaru dari Komando Pencegahan Epidemi Kota (Wuhan), akhir-akhir ini muncul banyak pasien yang kembali minta dirawat karena penyakitnya kambuh setelah diizinkan pulang.

Laporan menyebutkan bahwa rumah sakit berbentuk fangcang di Jiang’an, memutuskan untuk mengambil sampel darah dan melakukan pemeriksaan antibodi virus Ig-M dan Ig-G  mulai 5 Maret. Pemeriksaan itu dilakukan bagi semua pasien sebelum mereka diperbolehkan keluar rumah sakit.

Akibat banyak pasien pneumonia Wuhan masih memiliki hasil tes ulang asam nukleat positif setelah diperbolehkan keluar rumah sakit, pernyataan resmi komunis Tiongkok mengenai tindakan pencegahan setelah diperbolehkan keluar rumah sakit telah diubah. Kalimat yang berbunyi : Pasien wajib untuk tetap melakukan pemantauan kesehatan diri dalam waktu 14 hari diganti menjadi : Pasien wajib untuk tetap melakukan pemantauan kesehatan diri dan melanjutkan karantina diri selama 14 hari.

Tidak saja terjadi di kota Wuhan, fenomena kambuh juga muncul di berbagai tempat lainnya. 

Pada 21 Februari, Pusat Medis di kota Chengdu mengumumkan bahwa seorang pasien pneumonia Wuhan yang tinggal di kompleks Wangjiang Jinyuan, Distrik Jinjiang kembali menghasilkan tes ulang asam nukleat yang positif selama menjalani karantina dalam rumah.

Pada 25 Februari 2020, Pusat pengendalian dan Pencegahan Penyakit di provinsi Guangdong juga membenarkan, sekitar 14% pasien yang diizinkan pulang oleh pihak rumah sakit ternyata kambuh kembali.

Pada 27 Februari, begitu pula yang menimpa seorang warga kota Xuzhou, Jiangsu, 3 hari lalu warga sekitar tempat tinggalnya menggelar acara selamatan bagi dirinya yang diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Akhirnya menyebabkan 65 orang tetangganya itu positif terinfeksi COVID-19.

Saat ini, wabah telah menyebar ke berbagai negara di dunia, Pasien positif terinfeksi bertambah sehingga negara-negara terus meningkatkan upaya pencegahannya. Anehnya, jumlah pasien yang diagnosis terinfeksi maupun meninggal karena COVID-19 yang dilaporkan oleh pihak berwenang komunis Tiongkok justru terus menurun angkanya. 

Menurut laporan media corong Partai Komunis Tiongkok,  China Central TV pada 2 Maret, jumlah tambahan kasus baru terinfeksi di 27 provinsi, daerah otonom, dan kota adalah Nol. Di antara mereka, 10 provinsi, termasuk Jiangsu, disebut-sebut tidak memiliki kasus baru yang dikonfirmasi terinfeksi selama lebih dari 10 hari berturut-turut.

Seorang pria bermarga Wu yang telah tinggal selama 40 tahun di kota Wuhan sekarang pindah di Kanada. Ia mengatakan bahwa ke-15 orang kerabatnya di Wuhan telah positif terinfeksi COVID-19, dan 3 di antaranya telah meninggal dunia. 

Ia mengatakan, Komunis Tiongkok sejak awal terus berbohong, tidak mengakui. Kerabatnya yang terinfeksi, mereka sekarang menghadapi satu masalah, yakni tidak diakui sebagai penyakit paru-paru yang bukan karena coronavirus jenis baru. 

“Dalam surat keterangan diagnosa rumah sakit disebutkan bahwa terdapat lesi infeksi pada kedua paru-paru yang melalui pantauan CT scan menunjukkan bentuk mirip kaca buram”, katanya. Ini adalah gejala khas penyakit paru-paru akibat terinfeksi coronavirus jenis baru. Tetapi mereka tetap tidak bersedia mendiagnosis sebagai pneumonia Wuhan atau COVID-19. 

Wu Lihong, seorang aktivis lingkungan terkenal di Jiangsu kepada Epoch Times mengatakan bahwa tujuan pihak berwenang menurunkan angka terinfeksi dan kematian adalah untuk melindungi pertumbuhan ekonomi. Pada akhirnya untuk menjaga stabilitas, mempertahankan kekuasaan, bukan mati hidupnya rakyat. 

Menurut laporan terbaru dari komunis Tiongkok yang berjudul ‘Rencana Diagnosis dan Pengobatan Pneumonia Coronavirus Jenis Baru (versi uji coba ke-7)’, disebutkan bahwa tim peneliti ilmiah Tiongkok telah menemukan bahwa coronavirus jenis baru ini telah bermutasi sehingga berdaya infeksi lebih kuat. Selain itu dapat menyebabkan kerusakan pada paru-paru, limpa, jantung, liver dan kantung empedu, ginjal serta organ-organ lainnya. (Sin/asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular