- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Berapa Banyak Sebenarnya yang Terinfeksi Virus Corona COVID-19 di Iran ?

Wu Ying

Virus corona baru (COVID-19) menyebar dengan cepat di Iran. Sementara itu, kalangan luar mencurigai data resmi yang diumumkan oleh Teheran. Berdasarkan jumlah kasus yang diungkapkan oleh rumah sakit Iran, para ahli memperkirakan sekitar sembilan kali lipat dari angka resmi.

Melansir laman The Washington Post [1], 4 Maret 2020,  menurut data rumah sakit Iran yang diperoleh oleh aktivis Iran Nariman Gharib di Inggris, ada 80 kasus kematian akibat corona di sekitar 12 rumah sakit di Teheran dalam enam hari hingga 4 Maret 2020. Dari 3 Maret hingga 4 Maret saja, jumlah kematian melonjak sebesar 17%.

Perlu dicatat bahwa rumah sakit itu hanya sebagian kecil dari total jumlah rumah sakit di Teheran. Aktivis Gharib mengkritik langkah-langkah pemerintah Iran dalam menangani wabah virus corona dan khawatir pemerintah menutupi informasi. 

Ashleigh Tuite, seorang ahli epidemiologi di Sekolah Kesehatan Masyarakat Dalla Lana Universitas Toronto, Kanada memperkirakan bahwa menurut data yang diperoleh Gharib, penyakit radang paru-paru akibat virus corona di Iran setidaknya ada 28.000 kasus. 

“Saya menduga angka-angka ini akan terus meningkat,” katanya kepada The Washington Post.

Menurut data yang dirilis oleh Iran pada Rabu 4 Maret, ada 92 orang di negara itu meninggal karena virus corona dan hampir 3.000 orang terinfeksi. 

Lima perawat di Teheran dan Mashhad di Iran timur laut mengatakan kepada The Washington Post, bahwa data resmi Iran tidak termasuk kasus baru, termasuk yang terinfeksi dengan gejala virus corona baru (COVID-19) pada CT scan.

Kelima perawat, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya itu mengatakan bahwa beberapa staf medis tidak diizinkan memakai masker untuk menghindari kepanikan, rumah sakit tidak memiliki masker, sarung tangan dan sarana pelindung lainnya. Selain itu, karena kurangnya tenaga medis, staf medis harus bolak balik setiap rumah sakit untuk mengatasi jumlah kasus yang terus meningkat. 

Menurut laporan, pada awal wabah, pemerintah Iran tidak menerapkan langkah-langkah untuk mengekang penyebaran virus, tetapi sebaliknya menerapkan langkah-langkah yang dapat mempercepat penyebaran virus. Misalnya, beberapa hari sejak pecahnya wabah, pejabat Iran menolak untuk mengambil tindakan karantina, sebaliknya justeru mendesak orang-orang Iran untuk secara aktif memilih dalam pemilihan nasional dan menolak untuk menutup tempat-tempat ibadah.

Menurut pejabat Iran, wabah virus corona Iran bermula dari kota Qom, di mana seorang pengusaha Iran yang terinfeksi baru kembali dari Tiongkok. Kementerian Kesehatan Iran mengumumkan dua kasus pertama pada 19 Februari, dua hari sebelum pemilihan parlemen.

Kamiar Alaei, seorang profesor di Universitas Oxford dan seorang ahli penyakit menular dan kebijakan kesehatan global, mengatakan, para pejabat Iran tidak ingin menghalangi orang untuk memilih, sehingga mereka meremehkan keseriusan wabah virus corona, menyesatkan sistem medis, dan memberi informasi yang keliru. 

“Oleh karena itu, para profesional medis tidak siap dan tidak sengaja terpapar risiko, sehingga banyak dokter dan perawat terinfeksi.  Penanganan yang buruk dan kepentingan politik melebihi masalah kesehatan telah menyebabkan wabah,” kata Alaei.

Minggu lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengirim tim ahli ke Iran, dan pihak berwenang Teheran pun mulai mengambil tindakan untuk mengekang penyebaran virus, seperti misalnya menutup sekolah dan bioskop, dan menghimbau masyarakat untuk tinggal di rumah serta menghindari pertemuan publik. Namun, para ahli mengatakan sudah terlambat, virus itu telah menyebar ke hampir semua provinsi di Iran.

Lebih dari 20 anggota parlemen Iran dan setidaknya 15 pejabat senior aktif saat ini atau pensiunan terinfeksi virus corona, termasuk wakil presiden, wakil menteri kesehatan, dan penasihat jaksa agung.  

Mohammad Mir-Mohammadi, penasihat pemimpin tertinggi Iran, dan Hadi Khosroshahi, mantan duta besar Iran untuk Vatikan, meninggal dunia karena virus corona baru.

Alaei mengatakan pucuk pimpinan Iran mungkin berpikir mereka tidak akan terinfeksi, sehingga tidak mengambil tindakan pencegahan.

“Saya pikir pengabaian dan salam tiga ciuman tradisional antara pria Iran, mungkin menjadi penyebab infeksi bagi banyak politisi senior Iran,” kata David Fisman, direktur Departemen Epidemiologi Universitas Toronto, Kanada. (jon)

Video Rekomendasi :