oleh Zheng Gusheng

Pada 4 Maret 2020, ada sebuah “Pemberitahuan” yang dikeluarkan oleh seorang pejabat dari komite pedesaan partai komunis suatu desa kepada para warga desa. Pemberitahuan itu  diunggah netizen di media sosial Tiongkok. Pemberitahuan tersebut resmi karena menggunakan stempel, dan ada nama penerima. Itu membuktikan bahwa Pemberitahuan tersebut bukan berupa pengumuman yang ditempelkan pada suatu tempat atau dinding, tetapi cenderung berupa edaran yang diberikan kepada setiap warga desa ataupun kepada kepala keluarga.

Pemberitahuan itu berbunyi : “Pihak Korea Utara telah memberitahu pihak Tiongkok bahwa pencegahan dan pengendalian terhadap pneumonia Wuhan dalam negeri Korea Utara telah dinaikkan ke tingkat tertinggi. Sehubungan dengan itu, pihak Tiongkok juga diharapkan dapat ikut membantu dengan memperkuat kontrol perbatasan. Jika ditemukan ada warga yang melanggar dengan melintasi perbatasan, pihak Korea Utara dapat langsung menembak mati yang bersangkutan. Untuk ini, pihak berwenang Tiongkok memutuskan untuk segera melarang penduduk desa pergi ke Sungai Yalu untuk memancing, atau membuang sampah, mengembara, memelihara ternak dan unggas, melarang warga menyentuh, melampaui batas, dan merusak pagar. Badan keamanan publik akan melakukan pemantauan di tepi sungai selama 24 jam dan dapat menahan warga yang melanggar. Agar diketahui bahwa segala konsekuensi yang ditimbulkan adalah risiko sendiri.”

Komite pedesaan di Tiongkok umumnya tidak memiliki badan keamanan publik, hal ini  menunjukkan bahwa keputusan diedarkannya “Pemberitahuan” tersebut diyakini berasal dari otoritas lokal yang lebih tinggi.

“Pemberitahuan” itu menyebutkan bahwa penerapan larangan melintasi perbatasan ini adalah demi keselamatan jiwa dan harta penduduk desa. Namun ditinjau dari kerasnya nada isi pemberitahuan, tampaknya bukan demi keselamatan jiwa dan harta penduduk. Akan tetapi cenderung pada menunjukkan niat berkolaborasi dengan pihak Korea Utara yang bagaimanapun juga masih saudara sesama komunis.

Pemberitahuan yang dikeluarkan oleh pejabat dari komite pedesaan partai komunis suatu desa kepada para warga desa. (foto internet)

Setelah merebaknya wabah pneumonia Wuhan, negara-negara Barat secara berturut-turut memutuskan untuk membatasi masuknya warga dari daratan Tiongkok ke negara mereka. Sedangkan pihak komunis Tiongkok berulang kali mengeluarkan protes keras atas tindakan tersebut. 

Pihak Tiongkok menuduh negara Barat ini bereaksi yang berlebihan. Namun, di sisi lain, komunis Tiongkok justru sangat toleran terhadap Korea Utara dan Rusia. Yang mana, pada awal bulan Januari lalu pertama-tama melaksanakan pemblokiran perbatasan mereka dengan Tiongkok.

Sedangkan  komunis Tiongkok pun selain tidak memprotes rezim Korut tentang intimidasi terhadap kehidupan penduduk Tiongkok, yang mana hidup di wilayah dekat perbatasan dengan Korea Utara. Akan tetapi malahan berkolaborasi dengan ikut memperingatkan warganya untuk menanggung konsekuensinya jika kena tembak. Hal mana membangkitkan kemarahan para netizen daratan Tiongkok.

Pada 19 Februari, Rusia menginstruksikan penutupan perbatasan dengan Tiongkok, juga mengumumkan akan sepenuhnya melarang masuknya warga negara Tiongkok, Hongkong dan Makau. 

Pada hari yang sama, seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok dalam siaran persnya menyatakan bahwa pihak Tiongkok dapat memahami keputusan tersebut. Si juru bicara itu, mengucapkan terima kasih atas dukungan pihak Rusia terhadap Tiongkok dalam memerangi wabah pneumonia. Penjelasan juru bicara tersebut kemudian menyulut cemooh netizen daratan Tiongkok. (Sin/asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular