- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Hitungan 2 Hari, 5.000 Kotak Abu Jenazah Dapat Diambil oleh Pihak Keluarga dari Rumah Duka Hankou, Wuhan

oleh Ling Yun – Epochtimes.com

Sejak 23 Maret 2020,  rumah duka di Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok membuka kesempatan bagi warga untuk mengambil kotak abu jenazah keluarga mereka yang meninggal selama berjangkitnya epidemi. Antrian panjang terlihat warga terlihat di semua rumah duka di Wuhan. Media ‘Caixin.com’ mengungkapkan bahwa hanya dalam 2 hari saja, ada 5.000 kotak abu dikirim dari tempat kremasi ke rumah duka Hankou, Ini belum termasuk rumah duka yang lain. Angkanya hampir 2 kali lipat dari jumlah kematian yang dilaporkan oleh komunis Tiongkok di Wuhan. 

 ‘Caixin.com’ melaporkan bahwa pada 26 Maret pukul 8 pagi, Liu Ping (nama samaran) warga  Jalan Hanzheng dengan ditemani oleh staf komunitas tempat tinggalnya datang ke Rumah Duka Hankou Wuhan untuk mengambil kotak abu jenazah ayahnya.  

Pada sore sehari sebelumnya, ia menerima pemberitahuan perihal tersebut. Sampai pukul 2 siang hari itu ia baru mendapat giliran mengambil lantaran warga yang mengantri cukup banyak.

Dalam perjalanan pulang, saat ia baru sampai di depan pintu gerbang Rumah Duka Hankou, Sebuah truk yang berisikan muatan kotak abu jenazah yang dipesan Rumah Duka Hankou sedang berhenti di dekat Jingya Hall atau nama ruang yang difungsikan sebagai gudang untuk menunggu diturunkan.

Sedangkan pengemudinya mengatakan, bahwa kotak yang dimuat kali ini berjumlah lebih dari 2.500 kotak, sementara itu muatan di truk yang kemarin sudah selesai diturunkan.

Tak lama kemudian, belasan karyawan pria mendekati truk untuk menurunkan kotak-kotak tersebut yang di-packing 1 palet berisikan 500 buah kotak. Di atas truk itu terdapat 7 palet.

Ini berarti bahwa Rumah Duka Hankou telah menerima 5.000 kotak abu jenazah dalam 2 hari. Dan ini hanya 1 rumah duka di kota Wuhan. Sampai sekarang tidak jelas persediaan 5.000 buah kotak itu akan dipakai berapa hari oleh Rumah Duka Hankou ?

Dilaporkan bahwa rumah duka yang beroperasi di kota Wuhan saat ini ada 8 unit, mereka itu adalah Rumah Duka Hankou, Rumah Duka Wuchang, Rumah Duka Qingshan, Rumah Duka Caidian, Rumah Duka Huangbo, Rumah Duka Xinzhou, Rumah Duka Jiangxia, dan Rumah Duka Huimin. Sebanyak 3 unit di antara yang berada di depan itu letaknya ada di pusat kota Wuhan.

Menurut berita, bahwa Rumah Duka Wuchang sudah mulai mendistribusikan kotak abu jenazah kepada warga mulai 23 Maret. Menurut yang berwenang bahwa pihaknya mendistribusikan 500 kotak per hari dengan tujuan agar dapat selesai sebelum Festival Qingming pada 4 April mendatang.

Ini berarti diduga bahwa jika distribusi berlangsung dari 23 Maret hingga 3 April, maka 500 kotak dikalikan 12 hari maka berjumlah  6.000, Rumah Duka Wuchang akan mendistribusikan kotak abu jenazah sekitar 6.000 kepada warga.

Sedangkan menurut angka yang diumumkan pihak berwenang kota Wuhan, bahwa korban yang meninggal akibat virus komunis Tiongkok atau pneumonia Wuhan di kota Wuhan hanya berjumlah 2.531 orang.

Sun Jiatong, wakil direktur Biro Urusan Sipil Kota Wuhan yang mengelola urusan pemakaman mengatakan, bahwa dalam 47 hari sejak lockdown kota Wuhan hingga 10 Maret, krematorium di Wuhan telah mengkremasi sebanyak 21.703 jenazah, yang berarti rata-rata 462 jenazah dikremasi setiap hari.

Angka tersebut 8 kali lebih tinggi dari angka resmi, meskipun mungkin masih lebih rendah dari angka yang sebenarnya.

Dunia luar percaya bahwa jumlah korban jiwa akibat virus di Wuhan sesungguhnya jauh lebih tinggi dari angka-angka tersebut.  Bila itu dikaitkan dengan serangkaian fenomena yang terjadi pada saat itu, seperti tungku pembakaran jenazah yang beroperasi selama 24 jam sehari, mental karyawan bagian krematorium runtuh karena terlalu letih. Terjadi krisis persediaan kantong jenazah, krisis persediaan pakaian pelindung dan sebagainya.

Epoch Times melalui kunjungan rahasia mengetahui bahwa hanya satu hari pada 3 Februari itu, jumlah jenazah terinfeksi virus komunis Tiongkok yang dikremasi di 2 krematorium di Hubei sudah mencapai 341, yakni 4 hingga  5 kali jumlah kremasi yang dilakukan pada hari-hari sebelum pandemi. 

Menurut laporan media ‘Southern Weekly’ bahwa mulai sekitar 20 Januari, hanya Rumah Duka Hankou yang ditunjuk untuk menerima jenazah pasien terinfeksi virus komunis Tiongkok.

Namun, karena jumlah kematian meningkat tajam, maka pihak berwenang mengeluarkan “Pedoman” pada 1 Februari 2020. Pedoman itu  mensyaratkan bahwa jenazah pneumonia Wuhan harus langsung dikremasi di tempat terdekat. Sedangkan cara penguburan atau pelestarian jenazah lainnya tidak diperkenankan, juga tidak boleh dipindahkan ke tempat lain.

Tanpa Ditemani Staf dari Unit atau Komunitas, Warga Tidak Bisa Mengambil Kotak Abu Jenazah 

Keluarga mendiang pada 23 Maret, memposting di WeChat berita bahwa keluarga mendiang sekarang harus ditemani oleh staf dari unit atau komunitas, di mana ia tinggal jika ingin mengambil kotak abu jenazah, yang mana akan diatur oleh pihak  berwenang agar waktu pemakaman tidak terjadi berbarengan.

Anggota keluarga itu dengan emosi bertanya kepada pihak berwenang : Apa yang kalian takutkan ? Apa yang kalian khawatirkan ? Sehingga mengatur pertemuan satu per satu, menggunakan berbagai metode, termasuk polisi juga ikut berbicara melalui sambungan telepon. Kalian takut keluarga korban akan datang bersama-sama untuk mengejar kalian ? Bencana manusia ini telah dibuat penjahat, penjahat yang pembunuh.

Ada juga anggota keluarga yang menceritakan pengalaman pribadinya ketika di Rumah Duka Hankou.  Ia melihat polisi berbaju preman berada di mana-mana, begitu telepon diangkat, ada orang yang akan datang mendekat untuk melarang berbicara, melarang keluarga menangis atau bersedih.

Ada netizen yang sehari-hari berurusan dengan anggota keluarga yang meninggal karena virus itu, mengungkapkan bahwa dirinya pernah melayani seorang nenek yang datang untuk mengurusi jenazah putrinya, menantu laki-laki, putranya, menantu perempuan dan cucunya.

Ia juga mengungkapkan, bahwa banyak jenazah yang bukan diurus oleh keluarga langsungnya, melainkan kerabatnya. Banyak orang yang datang untuk mengurus jenazah dengan membawa 2 atau 3 lembar surat keterangan kematian. Ada juga seorang bocah berusia 7 atau 8 tahun datang mengurus jenazah kedua orang tuanya. 

 Taman makam penuh sesak dengan orang

Di rumah duka, warga antri untuk mengambil kotak abu jenazah, di pemakaman penuh sesak dengan manusia yang mengurusi pemakaman kota abu.

Majalah mingguan bernama He Ji, memuat sebuah artikel yang memuat kutipan wawancara dengan keluarga berduka pada 24 Maret 2020. Media Tiongkok itu melaporkan, bahwa keluarga mengeluh karena sekarang untuk masuk ke Taman Pemakaman BiandanShan saja perlu mendapatkan nomor antrian. Sehari sebelumnya hanya melepas 70 nomor, hari itu 80, tetapi nomor sudah habis dibagikan pada pukul 7:30 pagi. Beberapa anggota keluarga sampai datang 3 hari berturut-turut, hingga akhirnya baru berhasil menyelesaikan penguburan kotak. Entah bagaimana jika keluarga yang meninggal sampai beberapa orang, seperti keluarga seorang sutradara.

Meskipun pengambilan kotak abu jenazah tidak dipungut biaya oleh rumah duka, namun telah beredar berita bahwa harga tanah makam sudah naik.

Anggota keluarga yang disebutkan di atas mengungkapkan, bahwa harga tanah makam saat ini adalah  78.800 renminbu, meskipun diskon 70 persen. Angka itu diberikan kepada anggota keluarga yang meninggal dunia selama epidemi berlangsung, tetapi harganya masih  54.500 renminbi.

Pada awal pekan lalu, dalam sebuah artikel yang dimuat “Southern Weekly’ yang sudah dihapus,  terdapat laporan wawancara reporter dengan seseorang yang mengaku telah bekerja selama 2 tahun di industri pemakaman di Wuhan.

Orang tersebut mengatakan, bahwa harga perumahan bisa turun. Akan tetapi harga tanah pemakaman malahan naik. Ambil contoh tanah pemakaman di Gunung Jiufeng, harganya sudah naik dari sebelumnya yang berjumlah 48.800 renminbi menjadi 58.800 renminbi pada saat ini. (Sin/asr)

Video Rekomendasi :