hk.Epochtimes.com

Julian Urban, seorang dokter Italia menulis sebuah doa dan menjadi viral. Dalam doa  itu Julian Urban berkata, “Kita bukan lagi dokter, tetapi kami perlu mengkategorikan ada yang harus diselamatkan dan ada yang harus pulang untuk menunggu kematian … kami tiba-tiba tersadar, kami perlu meminta bantuan Tuhan!” 

Dr. Julian Urban mengatakan, “Kami hampir ambruk, setiap hari melihat satu persatu orang yang meninggal. Sungguh tak ada harapan! Kami tiba-tiba tersadar: kami harus meminta bantuan Tuhan! Kami mulai berdoa. Sulit dipercaya bahwa kami selalu adalah Atheis yang setia. Mulai sekarang ini kami berdoa setiap hari, meminta Tuhan untuk memberi kami kedamaian dan kekuatan untuk bertahan dan merawat pasien kami dengan baik. “

“Saya melihat diri saya sebagai debu di dunia, dan saya benar-benar berharap dapat membantu orang lain sampai nafas penghabisan saya. Hari ini, saya senang bisa kembali kepada Tuhan, meskipun saya masih dalam penderitaan!”

Italia adalah negara barat dengan wabah virus Komunis Tiongkok yang terburuk. Pada 21 Maret 2020, 793 orang meninggal karena virus itu di Italia dalam satu hari, yaitu satu orang meninggal setiap dua menit. Jumlah kematian mengharuskan bantuan tentara untuk mengangkut mayat-mayat, dan gereja penuh dengan mayat yang menunggu untuk dikremasi.

Di Twitter, seorang netizen memposting sebuah petikan dari Perdana Menteri Italia, yang tidak diketahui apakah benar atau tidak, tetapi secara luas diposkan ulang oleh media sosial luar negeri.

“Kami telah kehilangan kendali, kami telah secara fisik dan mental membunuh epidemi tersebut.  Tidak bisa mengerti apa lagi yang bisa kami lakukan, semua cara di bumi ini telah kami lakukan tetapi tidak ada solusi. Satu-satunya harapan kami adalah dari udara, Tuhan selamatkan umatmu! “

Berdoa, pengakuan dosa, pertobatan selain itu tidak ada cara lain lagi

Selain itu, Mario Vargas Llosa, pemenang Nobel Sastra 2010, seorang penulis dan penyair Peru, menerbitkan sebuah artikel berjudul “Kembali ke Abad Pertengahan” di Harian Nasional pada 15 Maret. Walaupun kemajuan dunia sudah luar biasa,  ketakutan manusia tidak akan hilang, karena sains tidak dapat menenangkan ketakutan orang.

Mario Vargas Llosa mengatakan bahwa pada Abad Pertengahan, itulah membuat nenek moyang mereka gila karena putus asa. Bangsa kuno mengunci diri di belakang tembok kota yang menjulang tinggi dan melindungi diri mereka sendiri dengan parit beracun dan jembatan gantung. Tapi pertahanan itu hanya bisa menahan “orang”, tidak bisa menghentikan wabah. Karena wabah itu bukan manusia, tetapi mahakarya iblis, hukuman dari Tuhan. Mario Vargas Llosa percaya bahwa dalam menghadapi wabah, orang tidak punya pilihan selain berdoa dan mengaku dosa serta bertobat.

Di Jepang, Kuil Zenkoji di Prefektur Nagano mengadakan upacara doa pada tanggal 25 Maret, berharap mereka yang meninggal dalam wabah akan beristirahat dengan tenang, sambil berdoa memohon belas kasihan para dewa dan Buddha untuk menenangkan wabah itu.

Wakil kepala biara Kashiwagi Kazunari, yang memimpin upacara doa, mengatakan: “Sangat perlu untuk hormat dan rendah hati terhadap alam dan dewa, dan saat bencana tiba harus saling membantu. Ini adalah kebajikan yang paling berharga dalam kehidupan manusia.”

Biksu Kuil Zenkoji generasi ke-80 dari pada zaman Edo Jepang, karena terjadi “bencana kelaparan”. Ketika gunung berapi Gunung Asama meletus, ia berdoa memohon belas kasihan dan pertolongan para dewa dan Buddha, sehingga bencana itu akan mereda. Pada saat yang sama, membuka gudang bahan makanan kuil untuk menyelamatkan para korban bencana, menjadi legenda. (hui)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular