Saat wabah virus Komunis Tiongkok masih terus menyebar, pihak berwenang telah menyerukan untuk kembali bekerja dan sekolah. Guizhou, yang lebih dulu membuka kembali sekolahnya, diduga mengalami infeksi skala luas pada siswanya. Menurut pengumuman tim Pencegahan dan pengendalian epidemi Provinsi Guizhou, bahwa insiden keselamatan kesehatan masyarakat tiba-tiba terjadi di Kabupaten Jinping. Sebanyak 209 siswa menderita demam, sakit perut, diare dan gangguan kesehatan lainnya.

Li Yun/Li Quan

Menurut sebuah laporan dari media lokal di Guizhou pada tanggal 27 Maret, bahwa kantor dari tim pencegahan dan pengendalian wabah virus komunis Tiongkok untuk sekolah di kabupaten Jinping, provinsi Guizhou, mengedarkan instruksi kerja darurat terkait situasi 209 siswa yang mengalami gejala demam kolektif.

Instruksi itu menjelaskan keadaan darurat kesehatan masyarakat. Isinya mengatakan bahwa insiden itu memiliki dampak negatif di saat pembukaan sekolah kembali, itu selama pencegahan dan pengendalian epidemi di Provinsi tersebut.

Guizhou adalah provinsi pertama di Tiongkok yang mengumumkan pembukaan kembali sekolah.  Siswa kelas tiga menengah atas kembali bersekolah sejak 16 Maret 2020 lalu. Sementara itu, provinsi dan kota lain juga berencana untuk membuka kembali sekolah.

Dilihat dari kondisi 209 siswa yang dilaporkan media corong komunis Tiongkok dan dokumen resmi Komunis Tiongkok, gejala dari 209 siswa itu sangat mirip dengan gejala pasien virus komunis Tiongkok yang kini masih merajalela di dunia.

(webscreenshoot)

 Insiden itu telah memicu diskusi hangat di antara banyak netizen di Twitter:

“Guizhou, yang lebih dulu membuka kembali sekolah, 209 siswa mengalami gejala demam. Istilah yang digunakan memang indah – kesehatan dan keselamatan masyarakat, tapi yang jelas terinfeksi virus komunis Tiongkok!”

Cuitan lainnya menulis : “Pejabat di Guizhou tidak peduli dengan keselamatan siswa, memimpin dalam pembukaan kembali sekolah-sekolah di provinsi Guizhou, akibatnya terjadi infeksi skala luas, 209 siswa mengalami gejala terinfeksi.”

“Katanya mereka juga mengalami gejala demam dan batuk, takutnya mereka semua terinfeksi pneumonia!”

Selain itu, cukup banyak netizen di Pinsong.com yang membahas masalah itu :

 Ada yang menulis : “Pneumonia Wuhan memiliki gejala diare, tapi anggap saja keracunan makanan. Buka terus sekolahnya dan kembali bekerja seperti biasa, lagi pula kan katanya nol tambahan infeksi baru.”

Tulisan lainnya menyebutkan : “Jika para pekerja terinfeksi saat kembali bekerja, maka karier pucuk pimpinan juga berakhir. O ya, katakanlah dengan keras keracunan makanan untuk menutupi fakta sebenarnya!”

Netizen lainnya menulis : Pemerintah daerah disalahkan! Percaya atau tidak, pemerintah pusat mengedarkan pemberitahuan bahwa pemda Guizhou sengaja menyembunyikan epidemi dan tidak bertanggung jawab kepada rakyat? Tentu saja, jika Guizhou tidak membuka kembali sekolah dan kembali bekerja, pemerintah pusat juga akan mengkritiknya dengan tajam.

Saat penyebaran Virus komunis Tiongkok sudah di luar kendali selama 3 bulan. Pada awal epidemi, komunis Tiongkok, dari pejabat pemda hingga pemerintah pusat menyembunyikan situasi epidemi. Pada saat yang sama juga menangkap 8 dokter garis depan yang menyebarkan fakta tentang epidemi. Parahnya, berbohong bahwa epidemi itu “dapat dicegah dan dikendalikan” dan tidak ada “penularan dari orang ke orang.” Sedangkan informasi palsu lainnya menyebabkan epidemi menyebar dengan cepat.

Komunis Tiongkok menerapkan penutupan kota, menutup lingkungan komunitas atau pemukiman, menutup pintu yakni larangan keluar rumah, menutup gedung atau apartemen, menutup jalan, memutus akses internet, dan menutup fakta epidemi yang sebenarnya. Sehingga  akhirnya menyebabkan virus tersebut menyebar ke seluruh dunia. (jon)

Share

Video Popular