oleh Ling Yun, Xiao Hua

Baru-baru ini, fenomena memborong beras dan biji-bijian lainnya muncul di kota Huanggang, Yichang, Ezhou dan tempat-tempat lain di Provinsi Hubei, Tiongkok. 

Sebuah video menunjukkan bahwa setelah sebuah toko yang menjual bahan pangan di kota Ezhou diserbu oleh pembeli, pihak berwenang gagal menghentikan konsumen yang berebut membeli bahan pangan. Kemudian menginstruksikan seluruh toko penjual beras, gandum, jagung dan minyak goreng untuk menutup pintu dan menyetop penjualan.

Setelah itu, otoritas di Ezhou, Huanggang dan tempat-tempat lain mengeluarkan pengumuman yang isinya untuk menyangkal desas-desus. Menekankan bahwa persediaan biji-bijian dan minyak goreng di kota masih cukup. Otoritas itu mengimbau masyarakat agar tidak termakan rumor lalu ikut berebut membeli biji-bijian dan minyak goreng.

Seorang warga Ezhou bermarga Li kepada reporter mengatakan, fenomena berebut membeli beras memang terjadi 2 hari lalu, kemudian dicegah oleh pihak berwenang. Seorang wanita di Hainan ditangkap gara-gara memposting berita tersebut. Namun reporter Epoch Times melalui penelusuran, mengetahui bahwa wanita asal Hainan ini bukan ditangkap karena postingannya. Tetapi karena mengingatkan temannya untuk membeli beras yang terjadi pada bulan Januari lalu. Jadi tidak ada kaitannya dengan kejadian ini.

Selain provinsi Hubei, warga kota Chongqing juga beredar desas-desus persediaan pangan Tiongkok akan menghadapi masalah, sehingga warga saling mengingatkan untuk menyetok bahan pangan pokok. Karena dampak coronavirus sehingga banyak negara menghentikan ekspor beras.

Nyonya Zhang yang tinggal di Fixingzheng adalah sebuah keluarga besar dengan anggota keluarga yang mencapai belasan orang. Setelah mendengar rumor ini, ia pun bergegas pergi ke pedagang beras yang dikenalnya untuk membeli 3 kuintal beras. Selain itu, video yang berisikan adegan berebut membeli beras di supermarket di Chongqing juga beredar di internet.

Otoritas Chongqing pada 1 April 2020,  segera mengeluarkan pengumuman untuk “meredakan” situasi, isi pengumuman itu antara lain : … Secara keseluruhan, produksi biji-bijian dan minyak di kota Chongqing masih normal dan cadangannya pun cukup …”

Selain itu, wanita warga Shandong Changyi, Weifang bermarga Chen menuturkan kepada reporter bahwa fenomena borong beras juga terjadi di tempatnya, hingga persediaan toko ludes. Sampai-sampai mertua perempuannya pergi ke daerah terdekat untuk membeli beras, karena di sana warga belum mendengar rumor tersebut.

Fenomena memborong beras juga muncul di Prefektur Otonomi Linxia, ​​Provinsi Gansu. Video online menunjukkan bahwa, pada 28 Maret, beberapa warga pergi ke supermarket dan toko penjual beras, gandum dan minyak goreng untuk membeli dalam jumlah yang tidak seperti biasanya.

Surat Edaran yang dikeluarkan oleh Komite Prefektur Linxia perihal ‘Menjaga Ketahanan Pangan’. Dalam kurung merah : …. memastikan bahwa setiap rumah tangga memiliki cadangan makanan selama 3 hingga 6 bulan. mempercepat pengalokasian Uang Kesejahteraan bagi warga…. (foto internet)

Fenomena memborong beras juga muncul di kota Lanzhou, bahkan merebak sampai kota Pingliang. Wanita warga Lanzhou bermarga Huang mengatakan, ia sudah menyetok 2 kuintal beras, 2 karung mie, 2 jerigen minyak goreng dan 5 bungkus garam dalam rumahnya.

Pada 29 Maret, akun publik WeChat di Prefektur Otonomi Linxia merilis pengumuman bersifat menyangkal rumor yang beredar. Isinya  menyebutkan bahwa persediaan bahan pangan pokok masih aman, harga masih normal. Masyarakat diminta membeli secara rasional tanpa harus sengaja menimbun.

Namun, dari isi dokumen “rahasia” yang dilampirkan dalam surat edaran yang dikeluarkan oleh Komite Prefektur Linxia perihal ‘Menjaga Ketahanan Pangan’ menunjukkan bahwa, pihak yang berwenang diminta untuk memperhatikan stok persediaan bahan kebutuhan pangan rakyat. Selain itu, memberikan pengarahan kepada masyarakat agar berinisiatif menyimpan makanan. Untuk memastikan bahwa setiap rumah tangga memiliki cadangan makanan selama 3 hingga 6 bulan. Bahkan, mempercepat pengalokasian Uang Kesejahteraan bagi warga.

Menanggapi maraknya fenomena berebut membeli beras di banyak tempat, media resmi komunis Tiongkok mengutip ucapan Wang Liaowei, seorang ekonom senior Pusat Informasi Biji-Bijian dan Minyak Goreng, demi menyangkal rumor mengatakan bahwa Tiongkok telah mencapai swasembada bahan pangan berupa biji-bijian, sehingga dapat menjamin kecukupan pangan rakyat. Ia mengatakan, pasokan dan permintaan biji-bijian secara umum cukup longgar. Sehingga sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan konsumsi harian masyarakat.

Lalu bagaimana dengan situasi sebenarnya ?

Dengan merebaknya epidemi pneumonia komunis Tiongkok ke seluruh dunia, pemerintah Vietnam telah mengumumkan bahwa mulai 24 Maret, melarang ekspor berbagai produk beras. Vietnam adalah negara pengekspor beras ketiga terbesar di dunia setelah India dan Thailand. Sedangkan Tiongkok dengan penduduknya yang di atas 1 miliar, merupakan negara pengimpor beras terbesar di dunia.

Pada tahun 2012, jumlah beras yang diimpor Tiongkok melampaui Nigeria dan menjadi importir beras terbesar di dunia, menyumbang lebih dari 10% impor beras global. Vietnam, Thailand, dan Pakistan adalah tiga negara yang paling banyak mengekspor beras ke Tiongkok.

Selain Vietnam yang melarang ekspor beras, Thailand, negara penghasil beras terbesar kedua dunia juga membatasi ekspor beras walau tidak secara eksplisit. Harga beras dari kedua negara tersebut telah naik 10% dalam 1 bulan terakhir ini.

Berbagai pengumuman yang isinya menghimbau para petani agar beralih ke tanaman yang menghasilkan bahan makanan pokok. (foto internet)

Pakistan, negara pengekspor beras ketiga ke Tiongkok dan India negara pengekspor beras terbesar di dunia, telah mengalami bencana berupa serangan belalang.  Sehingga berdampak serius terhadap produksi beras mereka tahun ini.

Selain beras, Kazakhstan, salah satu negara yang mengekspor gandum ke Tiongkok juga telah melarang ekspor gandum, wortel, gula, kentang, gandum kuda dan bawang merah. Kyrgyzstan juga melarang ekspor 11 komoditas pertanian dalam 6 bulan ke depan, terutama makanan dan bahan makanan. Serbia telah menangguhkan ekspor komoditasnya berupa minyak bunga matahari.

Padahal, Tiongkok sudah lama merasakan ancaman krisis pangan. Beberapa waktu  lalu, komunis Tiongkok secara berturut-turut memperkenalkan berbagai kebijakan, misalnya,  meminta para petani di Shandong untuk menebang pohon-pohon yang ditanam di ladang untuk ditanami biji-bijian. 

Beberapa provinsi penghasil biji-bijian, telah mengeluarkan pemberitahuan agar petani di sana untuk beralih dari menanam kacang tanah, jagung, sayuran ke tanaman biji-bijian.

Ada juga pengumuman yang isinya mengharuskan, petani di wilayahnya untuk sedikitnya menanam biji-bijian selama 2 musim dalam setahun. Dan, meminta pertanggungjawaban bagi petani yang telah meninggalkan tanah pertanian. Opini publik berpendapat bahwa krisis pangan Tiongkok sudah berada di depan mata. (Sin/asr)

Share

Video Popular