Wu Ying – Epochtimes.com

Tiga orang pejabat Amerika Serikat mengungkapkan bahwa badan intelijen dalam laporan rahasia yang diserahkan kepada Gedung Putih menyimpulkan bahwa Beijing sengaja menyembunyikan data laporan tentang jumlah pasien yang didiagnosa terinfeksi virus komunis Tiongkok atau pneumonia Wuhan serta jumlah kematian yang disebabkannya.

Bloomberg melaporkan pada hari Rabu, 1 April bahwa tiga orang pejabat Amerika Serikat yang namanya  dirahasiakan mengungkapkan bahwa laporan rahasia yang diberikan kepada Gedung Putih oleh badan intelijen menyimpulkan bahwa pihak berwenang Tiongkok telah dengan sengaja merilis data yang tidak lengkap tentang kasus yang dikonfirmasi terinfeksi virus komunis Tiongkok serta jumlah korban kematian yang terjadi di negaranya. Kedua orang dari mereka menegaskan bahwa data dari komunis Tiongkok itu tidak mencerminkan kebenaran.

Ketiga orang sumber tersebut menolak mengungkapkan rincian laporan rahasia tersebut. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa Gedung Putih pekan lalu telah menerima laporan itu.

Baik Gedung Putih maupun Kedutaan Tiongkok untuk Amerika Serikat tidak menanggapi permohonan penjelasan dari Bloomberg.

Pada akhir tahun lalu, seorang pasien yang terinfeksi pneumonia misterius muncul di rumah sakit di kota Wuhan, Provinsi Hubei. Beberapa dokter lokal pada saat itu menemukan melalui hasil tes laboratorium bahwa penyakit yang diidap pasien tersebut mirip dengan penyakit SARS. Kemudian segera memberitahu unit terkait dan dokter lain untuk menaruh perhatian. Tanpa diduga, yang bersangkutan dipanggil oleh pejabat berwenang rumah sakit termasuk Kantor Keamanan dan Ketertiban Publik Tiongkok di Wuhan untuk menerima wawancara sekaligus “teguran”.

Meskipun pihak berwenang komunis Tiongkok kemudian memberitahu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), namun para jurnalis domestik dan pengguna internet terus mendapat tekanan jika mengungkap kebenaran tentang epidemi. 

Sementara itu kepada dunia luar pihak berwenang mengklaim bahwa epidemi tidak sulit untuk dikendalikan dan dicegah. Dan menyangkal fenomena penularan dari manusia ke manusia. Saat itu, kegiatan untuk menyambut tahun baru Imlek masih terus diselenggarakan. Sampai pada 23 Januari tepat malam Tahun Baru Imlek, walikota Wuhan baru mengumumkan lockdown. Walikota ketika itu mengatakan bahwa sekitar 5 juta orang di Wuhan telah meninggalkan kota atau pergi ke luar negeri, alias mengungsi.

Komunis Tiongkok terus menindas penyebaran informasi dan tidak serius dalam mengambil langkah-langkah untuk mengamankan kesehatan masyarakat, sehingga menyebabkan virus dengan cepat menyebar ke luar negeri. Hal ini menimbulkan ketidakpuasan negara-negara di dunia. 

Selain itu, masyarakat sangat meragukan data epidemi yang dirilis oleh komunis Tiongkok, karena mereka berulang kali merevisi metode pencatatan agar warga yang positif terinfeksi tetapi tidak menunjukkan gejala sakit tidak dimasukkan ke daftar yang dikonfirmasi. 

Pada 31 Maret, komunis Tiongkok kembali menerapkan metode ini, karena pada hari itu, jumlah orang yang diagnosa positif terinfeksi dengan asimtomatik naik mencapai lebih dari 1.500 orang.

Baru-baru ini, sejumlah rumah duka di Provinsi Hubei yang menjadi daerah terserang wabah paling parah di Tiongkok, mendistribusikan puluhan ribu kotak abu jenazah warga yang menjadi korban, sekali lagi meningkatkan keraguan publik tentang data resmi yang dirilis komunis Tiongkok.

Deborah Birx, ahli imunologi yang menjabat sebagai koordinator Kelompok Pengendalian Epidemi Gedung Putih pada hari Selasa 31 Maret  mengisyaratkan bahwa akibat komunis Tiongkok memodifikasi data laporan tentang epidemi menyebabkan Amerika Serikat terlambat dalam merespons perkembangannya.

Deborah Birx mengatakan bahwa seperti data yang disampaikan oleh pihak berwenang komunis Tiongkok, wilayah Provinsi Hubei dengan populasi 80 juta jiwa, jumlah kasus infeksi yang dikonfirmasi adalah 50.000. 

“Hal ini membuat Anda berpikir bahwa itu mirip dengan SARS, mungkin tidak sampai menyebabkan pandemi global”, kata Deborah Birx. 

Interpretasi komunitas medis terhadap data yang disajikan komunis Tiongkok adalah ini adalah hal yang serius, tetapi lebih kecil dari yang diperkirakan orang.

Deborah Birx menunjukkan bahwa mungkin ada kesenjangan besar antara data resmi komunis Tiongkok, sehingga tidak mencerminkan apa yang saat ini terlihat di Italia atau Spanyol.

Komunis Tiongkok bukan satu-satunya negara yang memodifikasi data tentang epidemi. Pejabat Barat menunjukkan bahwa Iran, Rusia, Indonesia, Arab Saudi, dan Mesir mungkin semua meremehkan jumlah kasus. Korea Utara bahkan sampai saat ini belum melaporkan jumlah kasus.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Michael Pompeo secara terbuka mendesak komunis Tiongkok dan negara-negara lain untuk menjaga agar data tentang epidemi mereka tetap terjaga secara transparan. Pompeo berulang kali menuduh komunis Tiongkok menutup-nutupi, menunda berbagi informasi, dan mencegah para ahli memasuki Tiongkok untuk membantu yang kemudian mengakibatkan negara-negara gagal untuk mengambil langkah-langkah penanggulangan dini.

Sebuah laporan studi yang diterbitkan oleh University of Southampton pada bulan Maret lalu menemukan bahwa jika otoritas komunis Tiongkok tidak menyembunyikan data yang benar tentang epidemi dan lebih cepat mengimplementasikan rencana penanggulangan, tindakan itu dapat mengurangi penyebaran virus komunis Tiongkok hingga sebesar 95%.

Menurut penelitiannya, jika tanggapan komunis Tiongkok dilakukan satu minggu lebih cepat, dua atau tiga minggu lebih cepat, maka kasus-kasus tersebut dapat dikurangi hingga masing-masing sebesar 66%, 86%, dan 95%. (sin)

Share

Video Popular