Lin Nan – Epoch Times

Senator Amerika Serikat Martha McSally menuntut bos WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus,agar mengundurkan diri dari jabatannya. Dia percaya bahwa Tedros membantu Komunis Tiongkok untuk menutupi data virus Komunis Tiongkok atau pneumonia Wuhan. Tuntutan ini adalah dari serangkaian kritik dari Partai Republik AS terhadap Organisasi Kesehatan Dunia itu.

Senator republikan dari Arizona,  Martha McSally mengatakan di Fox Business pada hari Kamis 2 April 2020, bahwa Tan Desai atau Tedros Adhanom Ghebreyesus harus mengundurkan diri dari WHO. Itu dikarenakan organisasi tersebut gagal menangani pandemi virus yang berasal dari Tiongkok. 

Sekarang virus itu telah membunuh ribuan orang Amerika. Meskipun otoritas Komunis Tiongkok mengklaim bahwa pemerintahan itu pada dasarnya telah menyingkirkan  virus yang mematikan ini, akan tetapi laporan terbaru mempertanyakan data yang dikeluarkan oleh Komunis Tiongkok.

McSally mengatakan, bahwa ada laporan bahwa statistik pemerintah Komunis Tiongkok yang mana mungkin jauh lebih sedikit daripada situasi aktual. Hal ini menunjukkan bahwa WHO telah gagal menskrening Beijing untuk kasus terinfeksi dan kematian.

McSally berkata: “Saya tidak pernah percaya pada Komunis. Mereka menutupi virus yang berasal dari mereka dan telah menyebabkan kematian yang tidak perlu di Amerika Serikat dan dunia.”

McSally  mengatakan : “WHO perlu berhenti menutupi mereka. Saya pikir Tan Desai harus mengundurkan diri. Kita perlu mengambil tindakan untuk menyelesaikan masalah ini. Ini tidak bertanggung jawab. Dalam kasus banyak kematian di seluruh dunia, apa yang mereka lakukan di sini, segala sesuatu tidak masuk akal. “

Tan Desai berasal dari Ethiopia dan menjadi Sekretaris Jenderal WHO pertama dari Afrika pada tahun 2017. Namun, penanganan epidemi ini oleh WHO di bawah kepemimpinannya telah menuai kritik dari banyak negara.

BBC Chinese baru-baru ini menyusun pernyataan publik Tan Desai. Ia membuat orang-orang mempertanyakan peran Organisasi Kesehatan Dunia saat ini.

Pada 21 Februari, Tan Desai berkata, “Kasus pneumonia Corona Virus terus menurun, dan trennya menggembirakan.”

Pada 24 Februari, dia berkata, “Penggunaan istilah pandemi tidak benar dan pasti akan menyebabkan kepanikan.” 

Pada 2 Maret, Organisasi Kesehatan Dunia sekali lagi menyatakan bahwa wabah coronavirus COVID-19 atau virus Komunis Tiongkok belum merupakan pandemi global.

Pada 11 Maret 2020, Organisasi Kesehatan Dunia secara resmi mengumumkan bahwa pneumonia coronavirus -COVID-19 atau Pneumonia dari Komunis Tiongkok telah menjadi penyakit pandemi.

Senada dengan senator McSally, Senator Rick Scott pada awal pekan ini juga menyerukan penyelidikan kongres AS, apakah WHO membantu Komunis Tiongkok untuk menyembunyikan kasus sebenarnya dari wabah yang terjadi di Tiongkok.

Menurut kelompok PBB, Amerika Serikat menyediakan 14,67 persen dari pendanaannya. Ini sumber pendanaan terbesar bagi WHO.

“Mereka harus bertanggung jawab atas peran mereka dalam mempromosikan informasi yang salah dan membantu Komunis Tiongkok menutupi pandemi global,” kata Scott dalam sebuah pernyataan.

Scot juga berkata : “Kami mengetahui Komunis Tiongkok berbohong tentang berapa banyak kasus dan kematian yang mereka miliki, apa yang mereka ketahui dan kapan mereka mengetahuinya — dan WHO tak pernah repot untuk menyelidiki lebih lanjut. Kelambanan mereka menelan banyak biaya. ”

Dalam sebuah pernyataan, juru bicara WHO Carla Drysdale mengatakan bahwa lembaga itu “mengharapkan semua Negara Anggotanya untuk melaporkan data secara tepat waktu dan akurat di bawah protokol internasional yang telah disetujui oleh Negara-negara anggota WHO.”

“Keanggotaan dalam WHO dan penandatanganan Peraturan Kesehatan Internasional keduanya memikul tanggung jawab untuk memprioritaskan kesehatan masyarakat, secara nasional dan internasional, tidak hanya karena norma-norma kesehatan global , tetapi karena keduanya terkait erat, karena pandemi global ini telah membuat jelas bagi dunia,” katanya dalam email.

Juru bicara itu menunjuk pejabat WHO, Dr. Mike Ryan kepada wartawan pada minggu ini bahwa orang-orang harus “sangat berhati-hati” untuk tidak “membuat profil bagian-bagian dunia tertentu sebagai tidak kooperatif atau tidak transparan.”

“Kadang-kadang kita mengaitkan kurangnya transparansi dengan apa yang merupakan batasan alami dalam respons kita, Kita perlu menunjukkan sedikit keseimbangan,” ” katanya. 

Pejabat WHO berulang kali mempromosikan narasi yang mirip dengan rezim Komunis Tiongkok. Klaim itu mengatakan, bahwa Komunis tiongkok memberikan waktu kepada dunia untuk menanggapi pandemi. Hal demikian, ketika para pejabat benar-benar menutupi secara detail tentang wabah tersebut.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengecam para pejabat Komunis Tiongkok karena menyebarkan disinformasi, seperti tuduhan tidak berdasar bahwa militer AS memperkenalkan virus Komunis Tiongkok di Wuhan, Tiongkok.

Sementara itu, penasihat keamanan nasional AS, Robert O’Brien menegaskan bahwa pejabat Komunis Tiongkok menutup-nutupi awal wabah tersebut. 

Pejabat top kesehatan masyarakat  pada minggu-minggu ini mengatakan bahwa berdasarkan data yang dirilis Tiongkok, ia percaya virus baru itu mirip dengan SARS.

“Saya pikir mungkin kita kehilangan sejumlah besar data, sekarang kita melihat apa yang terjadi pada Italia, apa yang terjadi pada Spanyol,” kata Dr. Deborah Birx, koordinator respon untuk Satgas Coronavirus Gedung Putih,  kepada wartawan di Washington. (hui/asr)

Video Rekomendasi : 

 

Share

Video Popular