Jack Phillips 

Presiden Donald Trump, dalam sebuah wawancara hari Senin 30 Maret 2020, dengan program TV AS, “Fox & Friends,” mengatakan bahwa kasus virus komunis Tiongkok cenderung memuncak “sekitar Paskah.” Ia mempertahankan pedoman social distancing atau jaga jarak yang dikeluarkan Gedung Putih, yang berlangsung hingga akhir bulan April.

“Kami melakukan banyak hal dan kami tidak ingin [mengurangi batasan] terlalu dini. Kami pikir sekitar Paskah akan menjadi titik tertinggi,” kata Donald Trump.

 Donald Trump mengatakan bahwa ia berharap tanggal 30 April “adalah hari di mana kita dapat melihat beberapa kemajuan yang nyata” dari kasus-kasus tersebut. Ia  menambahkan bahwa pemerintahannya “berharap melihat, singkatnya tanggal 1 Juni, kami pikir kematian — menjadi hal yang mengerikan untuk dikatakan — berjumlah sangat rendah.”

The Epoch Times merujuk  Coronavirus baru, yang menyebabkan penyakit COVID-19, sebagai virus  Komunis Tiongkok karena rezim Komunis Tiongkok merahasiakan dan salah menatalaksana virus tersebut. Sehingga memungkinkan virus tersebut menyebar ke seluruh Tiongkok sebelumnya ditularkan ke seluruh dunia.

Pedoman bahwa Donald Trump dan gugus tugas pandemi dipimpin oleh Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence awalnya diperkenalkan berjudul, “15 hari untuk memperlambat penyebaran,” mencakup aturan jaga jarak untuk mengurangi penularan manusia ke manusia, yang diperpanjang hingga tanggal 30 April.

 Donald Trump mengatakan kepada penyiar itu, bahwa ia menerima informasi dari para pejabat gugus tugas bahwa jika Amerika Serikat pada awalnya tidak melakukan apa-apa, maka 1,6 juta hingga 2,2 juta orang dapat meninggal dunia karena virus Komunis Tiongkok.

“Jika kita tidak melakukan apa-apa, 2,2 juta orang dapat meninggal. Hal terburuk yang dapat kita lakukan adalah menyatakan kemenangan…dan kemudian tidak ada kemenangan. Kita berperang, ini adalah perang,” kata Donald Trump.

 Pernyataan Donald Trump datang beberapa hari setelah memposting di Twitter bahwa ia menginginkan orang Amerika Serikat kembali beraktivitas pada hari Paskah, yaitu tanggal 12 April.

“Saya pikir hal itu akan terjadi dengan sangat cepat,” kata Donald Trump kepada wartawan pada tanggal 26 Maret. Ia mengatakan bahwa pihak berwenang akan “memulai proses dengan segera” untuk memperbolehkan orang Amerika Serikat kembali beraktivitas. 

“Kita harus kembali bekerja. Negara kita dibangun di atas kerja,” kata Donald Trump. Ia menambahkan bahwa orang-orang “akan terlatih” menjaga jarak sebanyak mungkin saat mulai kembali bekerja.

Tetapi keinginan Donald Trump untuk membuka kembali negara itu disambut dengan pernyataan serius pada hari Minggu dari Dr. Anthony Fauci, ahli penyakit menular dan anggota gugus tugas virus Komunis Tiongkok. 

Dr. Anthony Fauci mengatakan kepada CNN bahwa ia memperkirakan antara 100.000 dan 200.000 orang akan meninggal karena COVID-19 di Amerika Serikat tanpa menguraikan jangka waktu.

“Amerika Serikat akan memiliki jutaan kasus,” kata Dr. Anthony Fauci sebelum memenuhi syarat ia mengatakan bahwa “Saya tidak ingin terpaku pada hal tersebut” karena pandemi adalah “target yang bergerak.”

Dr. Anthony Fauci juga mengecilkan pernyataan mengenai pembukaan kembali negara terlalu cepat.

“Hal tersebut dalam hitungan minggu. Tidak akan terjadi besok, dan belum tentu terjadi minggu depan. Akan sedikit lebih lama,” katanya dalam wawancara lain pada hari Minggu.

 Hingga 3 April 2020, sebanyak 7.392 orang meninggal dunia di Amerika Serikat karena virus  ‘Komunis Tiongkok’ yang dikenal sebagai pneumonia Wuhan atau coronavirus. Sementara itu, lebih dari 277.161 kasus yang dipastikan positif terinfeksi.  (Vv)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular