Tom Ozimek

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional -IMF- Kristalina Georgieva mendesak para pembuat kebijakan untuk merencanakan tindakan sekarang. Tujuannya untuk memberikan kesempatan terbaik bagi ekonominya pada pemulihan. 

Berbicara di sesi tanya jawab virtual pada tanggal 15 April 2020, Bos IMF Kristalina Georgieva mengatakan bahwa wabah tersebut “adalah krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya. ” Sehingga memicu resesi global terburuk sejak Depresi Hebat.

Namun, ia menegaskan, mengutip Abraham Lincoln, bahwa “hal ini juga akan berlalu,” dan mengatakan kini para pemimpin harus merencanakan menghadapi “tantangan yang menanti.” Hal demikian termasuk tingkat utang yang meningkat dan pengangguran yang meningkat, seiring para pemimpin merencanakan kebijakan untuk memberi peluang terbaik bagi  ekonominya untuk rebound tajam.

“Waktu yang luar biasa membutuhkan tindakan luar biasa,” katanya dan menyerukan stimulus fiskal yang terkoordinasi untuk mendorong permintaan dan memulihkan pertumbuhan.

“Adalah sangat penting bagi pemerintah untuk condong ke depan dengan semua yang kita miliki,” katanya. Ia menambahkan bahwa negara-negara dengan “ruang fiskal” untuk merangsang permintaan pengeluaran pemerintah harus dilakukan.

Sambil menyerukan lebih banyak tindakan fiskal, ia mengatakan tindakan fiskal adalah penting diberlakukan secara bertanggung jawab.

“Pesan kami adalah:‘ Belanjakan semampu anda, tetapi simpan tanda terimanya.’ Kami tidak ingin akuntabilitas dan transparansi untuk menjadi kurang penting,” katanya.

Pernyataan Kristalina Georgieva menggemakan pernyataan yang dibuat dalam postingan blog IMF pada tanggal 15 April, yang meminta pemerintah-pemerintah dunia untuk menargetkan bantuannya, dan untuk menilai, memantau, dan mengungkapkan risiko fiskal.

“Kita tidak cukup tahu untuk memperkirakan waktu dan keadaan pemulihan akhirnya. Namun di saat darurat, implikasinya untuk pembuat kebijakan adalah melakukan apa pun yang diperlukan tetapi pastikan untuk menyimpan tanda terima,” tulis penulis posting blog IMF.

“Pemerintah harus memperkuat prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik sepadan dengan skala intervensi, yang harus mencakup, misalnya, akuntansi yang akurat; pengungkapan yang sering, tepat waktu, dan lengkap informasi; dan adopsi prosedur untuk memungkinkan evaluasi ex-post dan akuntabilitas,” tambah penulis IMF. 

Kristalina Georgieva mengatakan bahwa, sejauh ini, negara-negara di dunia telah mengambil tindakan fiskal dalam jumlah sekitar 8 triliun dolar AS, tak lain untuk mengendalikan pandemi dan mengurangi dampak ekonominya.

“Ini adalah luar biasa,” katanya mengenai jumlah yang sangat besar yang dimobilisasi dalam “catatan waktu yang singkat.”

Beberapa langkah yang diambil sejauh ini di negara-negara seperti Amerika Serikat dan Jerman mencakup tunjangan pengangguran yang diperpanjang, penangguhan pajak gaji, serta subsidi upah untuk usaha kecil dan menengah.

“Beberapa negara membutuhkan lebih banyak bantuan, dan di situlah IMF adalah sangat kritis,” Kristalina Georgieva menambahkan. Ia mencatat bahwa Bank Dunia dan lembaga lainnya memobilisasi 200 miliar dolar AS untuk membantu negara-negara tersebut.

“Dalam kasus-kasus itu, di negara-negara seperti India dan Kenya, dilakukan transfer tunai dengan bantuan sistem identifikasi yang unik dan teknologi digital, atau penyediaan makanan dan obat-obatan, seperti di Bangladesh, adalah pilihan yang memungkinkan,” tulis penulis postingan blog IMF.

Kristalina Georgieva mengatakan “novel Coronavirus adalah suatu hal baru yang tidak diketahui yang kita sedang bergulat melawannya” dan menggambarkan sifat tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan mengatakan bahwa “untuk  pertama kalinya dalam sejarah IMF, ahli epidemiologi memberikan masukan untuk proyeksi ekonomi makro.”

Pada hari Selasa lalu, IMF merilis prospek ekonomi dunia, memprediksi ekonomi global akan menyusut 3 persen pada tahun 2020 karena dampak pandemi.

Perkiraan suram adalah revisi turun utama 6,3 poin persentase dari pandangan IMF pada bulan Januari 2020. (Vv)

Video Rekomendasi :

 

Share

Video Popular