NTDTV

Pada tanggal 25 April, media resmi Korea Utara seperti KCNA dan Rodong Sinmun memproklamasikan HUT ke-88 Angkatan Bersenjata Korea Utara. Media corong itu memperkenalkan sejarah perkembangan militer Korea Utara secara rinci. Laporannya juga menekankan sikap Kim yang akan terus memperluas kekuatan militernya. Namun demikian, laporan itu tidak menyebutkan kondisi terkini Kim Jong-un, sehingga memperkuat dugaan dunia luar tentang situasi internal Pyongyang.

Media Inggris, The Guardian mengutip sebuah sumber yang mengatakan bahwa komunis Tiongkok telah mengirim tim medis ke Pyongyang pada tanggal 23 April lalu. Sedangkan Media Jepang mengatakan bahwa Kim Jong-un menjadi vegetatif karena kegagalan operasi. Sementara itu, media AS mengatakan bahwa informasi yang diperoleh oleh dinas intelijen AS adalah operasi kardiovaskular Kim Jong-un gagal. Meski bisa mempertahankan nyawanya,tapi kemungkinan juga akan menjadi cacat dan kehilangan kemampuan beraktivitas secara fisik.

“2 Lilin” Menyiratkan Terjadi Sesuatu pada Kim Jong-un ?

 “Apple Daily” melaporkan bahwa Qin Feng, keponakan mantan Menteri Luar Negeri Tiongkok Li Zhaoxing dan wakil direktur HKSTV Hong Kong Satellite Television, meletakkan dua batang gambar lilin di microblog pribadinya pada 24 April, seperti menyiratkan telah terjadi sesuatu pada Kim Jong-un, namun postingan itu telah dihapus.

 Ketika itu, kabar meninggalnya Kim Il Sung diumumkan 34 jam kemudian, sedangkan Kim Jong-il diumumkan 51 jam kemudian.

Qin Feng memgatakan, “Saya hanya mengatakan yang sebenarnya.” Silakan saja jika ada yang tidak keberatan menunggu pengumuman resmi pejabat. Meski tidak ada lagi Kim Jong-un di dunia, tetapi persahabatan Tiongkok-Korut tetap eksis. Mengenai kematian Kim, “Amerika Serikat sebenarnya tidak ingin melihat situasi seperti itu, pun begitu juga dengan Tiongkok, dan merasa bahwa pemetik manfaat terbesar adalah Rusia”, tetapi tidak menjelaskan secara rinci.

 Lebih dari 20 kereta api berhenti mendadak di jalur kereta Tiongkok

Berita menarik lainnya datang dari pejabat Partai Komunis Tiongkok. Setelah tersiar berita tentang penyakit kritis Kim Jong-un pada 20 April, Komunis Tiongkok mengumumkan pada tanggal 21 April, bahwa ada perubahan pada jalur kereta api Tiongkok di dekat perbatasan dengan Korut.

Pada 24 April, pergerakan kereta api Tiongkok mencakup jangkauan yang lebih luas. Menurut pemberitahuan yang diedarkan Shenyang Railway Administration, bahwa dari 28 April hingga 20 Mei, lebih dari 20 kereta akan ditangguhkan sementara operasionalnya. Penangguhan itu melibatkan kereta dari Beijing, Changchun, Jilin, Shenyang, Dalian, Harbin, Harbin dan kota-kota besar lainnya, serta Kota Dandong dan Hunchun terletak di perbatasan antara Tiongkok dan Korea Utara.

 Terbetik berita, bahwa sebelumnya sudah tiga kali Beijing mengirim pasukan ke perbatasan dengan Korea Utara : pertama, setelah kematian Kim Il Sung pada tahun 1994, kedua, setelah ledakan Yongchon, Korea Utara; Ketiga, setelah kematian Kim Jong-il.

Menurut beberapa analis, bahwa tujuan dari mobilisasi militer tidak lebih dari untuk menghadang gelombang pengungsi yang berbondong-bondong ke Tiongkok. Itu setelah jatuhnya rezim Korea Utara, atau persiapan dini dalam mendukung rezim dari partai buruh Korut pro-Tiongkok sebelum kedatangan pasukan AS dan Korea Selatan di Korea Utara.

Bomber militer B-1B AS Menuju ke Semenanjung Korea

Pada saat yang sama, Amerika Serikat juga mengambil langkah-langkah penting. Bomber militer B-1B AS yang dikenal sebagai “Swan of Death,” terbang di atas langit Wonsan, tempat tinggal sementara Kim Jong-un di Semenanjung Korea.

Menurut laporan dari situs pelacak penerbangan, pada pagi 23 April 2020, sebuah bomber strategis supersonik B-1B AS terbang dari Pangkalan Angkatan Udara Eltzworth, South Dakota ke atas langit di sekitar Pangkalan Udara Misawa, Prefektur Aomori, Jepang melalui Samudra Arktik dan Selat Bering.

Di sepanjang area ini, pesawat B-1B itu melakukan pelatihan penerbangan bersama dengan pesawat tempur F-16 dari militer AS yang ditempatkan di Jepang dan pesawat tempur F-2 dari Angkatan Udara Bela Diri Jepang. Laporan itu mengatakan, B-1B kemudian ke selatan di sepanjang kepulauan Jepang ke sekitar Okinawa, lalu ke utara untuk kembali ke pangkalannya di AS.

 Melansir laman Dong-A Ilbo – surat kabar di Korea Selatan, bahwa selama pelatihan pembom B-1B, bomber ini terbang di atas Jepang, yang hanya berjarak 800 hingga 900 kilometer jauhnya dari Wonsan, tempat tinggal sementara Kim Jong-un.

Ini adalah kedua kalinya setelah 4 tahun dan 4 bulan sejak Amerika Serikat dan Korea Selatan melakukan latihan udara bersama skala besar dengan kode “Vigilant ACE,” pembom AS ini kembali muncul di daerah sekitar Semenanjung Korea.

Menurut beberapa laporan media AS, pemerintah paman SAM itu telah merumuskan rencana respon komprehensif. Begitu Kim Jong-un meninggal, militer AS akan merespons kemungkinan kekacauan di Korea Utara dan krisis kemanusiaan skala besar. (jon/asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular