oleh Gu Xiaohua, Zhang Bei

Luo Yue yang berusia 60 tahun adalah warga Desa Bashanzhai, Wuhan. Pada bulan Juni atau Juli tahun lalu, ia datang ke kota Wuhan untuk bekerja sebagai bagian kebersihan di sebuah supermarket. Agar dapat memperoleh lebih banyak uang buat menutupi kebutuhan keluarganya, Luo Yue juga mengambil pekerjaan paruh waktu lainnya, sehingga total-total sehari ia menghabiskan waktu 15 – 16 jam untuk bekerja.

Suaminya bernama samaran Wang Tao mengatakan bahwa terakhir kali Luo Yue meninggalkan rumah menuju Wuhan pada 19 Januari 2020. Dan ia tidak dapat pulang lagi setelah itu karena terkena lockdown kota Wuhan pada 23 Januari. Wang Tao terpaksa terus tinggal di asrama perusahaan tempatnya bekerja.

Pada 5 Februari, Luo Yue pulang dengan memakai masker. Wang Tao mengatakan bahwa ia masih tampak sehat-sehat, kecuali ada gejala batuk, mereka semua tidak mengetahui bahwa ia telah terinfeksi virus.

“Ia tidak menunjukkan demam, sehingga perusahaan tempatnya bekerja tidak mengirimnya ke rumah sakit. Setelah ia merasa sudah tidak tahan baru berusaha untuk pulang. Perusahaannya tidak memperdulikan ia pulang, karena sakit ia baru pulang”, kata suaminya.

Setibanya di rumah, Luo Yue menelepon otoritas di desa, minta diantar ke Rumah Sakit Pusat Jalan Lijiaji, Distrik Huangpi. 

“Pemerintah tidak menganggapnya serius, dan tidak mengirimnya ke rumah sakit besar,” kata Wang Tao.

Putra Luo Yue bernama samaran Wang Zheng  mengatakan : ” Saya mencurigai mereka hanya menganggap ini sebagai gejala ringan, Mungkin tidak menggunakan ventilator, misalnya, karena rumah sakit ini tidak memiliki perlengkapan ini”.

Pada 10 Februari, rumah sakit memanggil Wang Tao lewat sambungan telepon untuk memberitahu bahwa Luo Yue telah meninggal dunia. Dan jenazahnya langsung dikirim ke Krematorium Huangpo untuk dikremasi. Pada saat itu, keluarga berada dalam situasi menjalani karantina, dan tidak ada yang melihat untuk terakhir kalinya.

Wang Zheng mengatakan bahwa ia merasa terpanggil untuk memahami seluruh proses infeksi dan perawatan medis Luo Yue. 

“Saya akan pergi ke rumah sakit dan unit kerja untuk menanyakan mengapa kasusnya bisa begitu serius. Sebagai unit dan pemimpin perusahaan, jika itu sangat serius, setidaknya harus menaruh lebih banyak perhatian. Apa masalahnya ? Tapi unit mereka sama sekali tidak melakukan tindakan yang diperlukan. Saya juga meragukan kelambanan dokter,” kata Wang Zheng.

Setelah kematian Luo Yue, pamong desa menghubungi keluarga untuk menghapus almarhumah dari kartu identitas dan daftar keluarga, dan tidak ada lagi yang menaruh perhatian setelah itu. 

“Sejauh ini, pemerintah belum peduli dengan kita, dan tidak pernah melakukan panggilan lagi,” kata pamong itu. 

Wang Tao mengatakan : “Bahkan uang bantuan sebesar puluhan ribu yuan dari negara sampai sekarang juga belum kita terima”.

Wang Tao menderita penyakit hati dan penyakit jantung, perlu minum obat sepanjang tahun, ia tidak memiliki kemampuan untuk bekerja. 

Luo Yue, istrinya sudah meninggal. Sumber keuangan keluarga menjadi masalah, termasuk biaya pengobatan. Dia berharap kepada pemerintah daerah untuk memberikan tunjangan hidup minimum agar hidupnya lebih terjamin.

Wang Zheng tidak tahu apakah tunjangan hidup minimal ayahnya bisa diperoleh atau tidak. 

“Sekarang saya dengar untuk mengurus tunjangan itu perlu memberikan uang kepada sekretaris desa dan sekretaris kabupaten,” kata Wang Zheng.

Meskipun Wuhan telah dibebaskan dari lockdown, tetapi Wang Zheng yang seorang sopir truk belum berani pulang ke kampungnya. Ia mengatakan bahwa epidemi di Wuhan masih serius, sudah ada warga yang terinfeksi virus komunis Tiongkok dengan tanpa gejala, ia takut juga kalau membawa virus ke kampung halamannya.

“Banyak komunitas yang relatif kecil berada dalam kondisi setengah lockdown. Saya sekarang selalu membawa alkohol ke mana pun pergi. Botol berisi 180ml alkohol saya sudah habis separonya dalam sehari,” katanya.  (sin/rp) 

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular