- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Komunis Tiongkok Bangun Hampir 200 Gedung Pemerintahan di Afrika, Dicurigai untuk Pantau Uni Afrika

Ntdtv oleh Li Jiaxin- Menurut laporan yang dirilis pada 20 Mei 2020, selama 20 tahun terakhir, perusahaan-perusahaan Tongkok terutama perusahaan milik negara telah membangun atau merenovasi setidaknya 186 buah gedung pemerintah di Afrika. 

Penulis laporan tersebut, Joshua Meservey, seorang analis kebijakan senior di Heritage Foundation mengungkapkan bahwa mengingat sejarah pemerintah Tiongkok menggunakan bangunan seperti itu untuk memantau gerak-gerik penduduknya, bangunan-bangunan di Afrika ini kemungkinan juga bisa dijadikan pembawa bagi kegiatan spionase komunis Tiongkok.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa dengan membangun gedung-gedung pemerintah ini, komunis Tiongkok mungkin mendapat kemudahan dalam memantau Afrika daripada negara lain. Dikarenakan menurut hukum Tiongkok, perusahaan-perusahaan Tiongkok memiliki kewajiban untuk membantu pemerintah mengumpulkan berita intelijen. 

Selain itu, perusahaan telekomunikasi Tiongkok termasuk Huawei telah mendirikan setidaknya 14 jaringan telekomunikasi internal pemerintah yang sensitif di Afrika. Selain itu, Beijing juga telah menyumbangkan komputer ke setidaknya 35 negara Afrika.

Surat kabar Prancis Le Monde melaporkan pada bulan Januari 2018 bahwa server milik  markas besar Uni Afrika yang dipasang oleh perusahaan raksasa telekomunikasi Huawei, yang mana setiap harinya mentransmit konten berupa berita dalam server kepada server yang berada di Shanghai. Inspeksi mengungkapkan bahwa pemasangan peralatan menguping tersembunyi dalam gedung ini dilaksanakan oleh perusahaan konstruksi milik negara Tiongkok.

3 Hari kemudiaan, Financial Times juga membenarkan laporan tersebut.

Kasus serupa tidak hanya terjadi di Eropa, pada 18 bulan ini, agen intelijen Belgia mengonfirmasi bahwa mereka sedang menyelidiki apakah komunis Tiongkok menggunakan gedung Kedutaan Besar Malta di Brussels untuk melakukan kegiatan mata-mata terhadap markas Komisi Eropa yang berada tidak jauh dari sana.

Surat kabar Prancis Le Monde baru-baru ini melaporkan bahwa sejak awal tahun 2010-an, Badan Keamanan Dalam Negeri Belgia telah mulai mencurigai bahwa badan intelijen komunis Tiongkok menggunakan kedutaan Malta yang terletak di seberang markas Komisi Eropa sebagai stasiun mata-mata untuk menguping lembaga-lembaga Uni Eropa.

Laporan itu mengatakan bahwa kedutaan besar di Malta mulai digunakan pada tahun 2007, sebelumnya perusahaan Tiongkok ikut serta dalam kegiatan renovasi gedung kedutaan tersebut. Dinas intelijen Inggris percaya bahwa dinas rahasia komunis Tiongkok terlibat. Laporan itu mengungkapkan kegiatan spionase ini kepada rekannya di Belgia.

Namun, menurut laporan Heritage Foundation, kegiatan spionase komunis Tiongkok di Afrika jauh lebih merajalela.

Menurut laporan itu, setidaknya 40 dari 54 negara di Afrika memiliki gedung pemerintahan yang dibangun oleh perusahaan dari Tiongkok. Mengingat sulitnya mengumpulkan data secara komprehensif, tetapi hampir dapat dipastikan bahwa angka tersebut merupakan angka yang konservatif.

Laporan itu juga secara khusus mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan Tiongkok telah membangun, memperluas atau merenovasi setidaknya 24 tempat tinggal atau kantor presiden atau perdana menteri.  Setidaknya 26 kantor atau gedung parlemen, setidaknya 32 fasilitas militer atau kepolisian, dan setidaknya 19 gedung kementerian luar negeri di Afrika. 

Bagi komunis Tiongkok, melalui mendirikan atau merenovasi bangunan-bangunan ini adalah peluang besar untuk mengumpulkan intelijen langsung dari tingkat tertinggi pemerintahan di Benua Afrika. Bahkan, kesempatan ini sangat menggoda sehingga Beijing mungkin telah mendanai beberapa bangunan ini untuk meningkatkan pengawasan, pemantauannya terhadap pemerintah tertentu.

Afrika adalah gudang suara utama bagi komunis Tiongkok dalam urusan dengan PBB. Dalam 20 tahun terakhir, komunis Tiongkok telah secara aktif mengadakan infiltrasi di Afrika dan menaruh perhatian tinggi terhadap Afrika. Ini mungkin yang menjadi alasan mengapa Afrika menjadi fokus pengawasannya.

Joshua Meservey menganalisis masalah berdasarkan temuannya dalam laporan mengatakan kepada situs berita The Washington Free Beacon, bahwa komunis Tiongkok meningkatkan jumlah proyek-proyek konstruksinya di Afrika. Ini sebenarnya dimulai setelah insiden 4 Juni 1989, ketika itu komunis Tiongkok menjadi semakin dikucilkan oleh dunia internasional, sementara Afrika adalah sumber dukungannya yang kuat dan membantu komunis Tiongkok  mematahkan “kesepian” karena terkucil. (Sin/asr)

Video Rekomendasi