Hk.Epochtimes.com- Pada 9 Juni lalu, media Partai Komunis melaporkan, bahwa Li Keqiang memimpin pertemuan eksekutif Dewan Negara. Topiknya adalah membantu perusahaan ekspor-impor Tiongkok mengatasi kesulitan. Pertemuan itu menentukan bahwa untuk membantu penyelamatan dan pengembangan perusahaan yang melibatkan hampir 200 juta pekerjaan, mendorong perusahaan untuk melakukan ekspansi di pasar internasional, sambil mendukung produk ekspor yang dapat dipasarkan untuk mengembangkan pasar domestik. Dengan kata lain, mendukung perusahaan ekspor-impor untuk mengalihkan penjualan produknya ke pasar domestik. 

Tenaga kerja Tiongkok ada sekitar 775 juta, atau lebih dari seperempat lapangan pekerjaan tergantung pada perusahaan ekspor-impor. Jika tenaga kerja itu kehilangan penghasilan, maka akan memicu keruntuhan rantai seluruh ekonomi.

Perusahaan-perusahaan ekspor-impor memangkas urat nadi ekonomi Tiongkok. Sebelumnya para pejabat tidak pernah mengumumkan jumlah pekerja di perusahaan ekspor-impor. Beberapa analis mengatakan bahwa jika ditambah dengan pemasok dan perusahaan hulu dan hilir yang bergantung pada perusahaan asing untuk bertahan hidup, diperkirakan jumlah pekerja akan mencapai 300 juta orang. 

Menurut laporan media Tiongkok sebelumnya, di empat kota utama seperti Beijing, Shanghai, Guangzhou, dan Shenzhen, perusahaan asing di Guangzhou menyumbang lebih dari 62% dari total nilai output industri kota. Di Shanghai, investasi asing menyumbang 2/3 dari total nilai output industri, dan berkontribusi hingga 70% terhadap perekonomian di Shenzhen. Dapat dikatakan perusahaan-perusahaan yang didanai asing telah menopang ekonomi di empat kota utama tersebut.

Depresi ekonomi memicu pengangguran

Ekonomi Tiongkok mengalami kesulitan yang belum pernah terjadi sebelumnya karena perang dagang dan situasi pandemi virus Komunis Tiongkok. Sementara itu, pabrik-pabrik investasi asing yang beroperasi di sektor ekspor-impor satu persatu mengalihkan pabriknya ke negara lain. 

Sebelumnya dilaporkan, bahwa setelah dimulainya perang dagang pada tahun 2018, sekitar 400 perusahaan Amerika Serikat mengumumkan bahwa mereka akan mengalihkan pabriknya dari Tiongkok. Apple juga mengatakan bahwa mereka akan memindahkan jalur produksi iPhone kelas atas ke India. Kyodo News melaporkan bahwa 60% perusahaan Jepang telah dipindahkan dari Tiongkok ke negara lain atau sedang dialihkan, sisanya 40% sedang merencanakan pengalihan aset. 

Setelah wabah virus Komunis Tiongkok merebak ke dunia, Amerika Serikat dan Jepang telah mengumumkan bahwa pemerintah akan menyediakan dana untuk membantu perusahaan mereka hengkang dari daratan Tiongkok. 

Taiwan People News sebelumnya telah menganalisis bahwa perang dagang telah menghantam ekonomi Tiongkok. Jika modal Amerika Serikat ditarik sepenuhnya, itu akan menyebabkan pukulan fatal bagi Komunis Tiongkok.

Selain perusahaan asing, perusahaan lokal yang mengandalkan perdagangan luar negeri juga secara bertahap jatuh ke dalam kesulitan. Karena penyebaran epidemi secara global, perusahaan ekspor-impor Tiongkok telah kehilangan pesanan dari luar negeri dan tidak bisa memulihkan produksi. Banyak perusahaan terpaksa gulung tikar atau libur panjang tanpa batas, sehingga memicu gelombang pengangguran. 

Video yang beredar di internet menunjukkan pekerja di sebuah perusahaan ekspor-impor berbaris untuk menjalani prosedur pengunduran diri. Ada yang baru 3 bulan kerja terpaksa pulang kampung lagi.

Liu Chenjie, kepala ekonom di Shenzhen Upright Asset Management co.,Ltd, menulis di majalah Caixin pada awal April 2020 lalu yang menyebutkan, bahwa wabah virus corona mungkin dapat menyebabkan 205 juta pekerja di Tiongkok menjadi pengangguran, dengan tingkat pengangguran lebih dari 25%. 

Li Keqiang menghancurkan impian menyingkirkan kemiskinan

Dipengaruhi oleh epidemi, pendapatan masyarakat Tiongkok telah turun secara signifikan, dan pengeluaran konsumen juga telah turun ke titik terendah. Tanda-tanda depresi ekonomi tampak terjadi di berbagai daerah Tiongkok. Banyak toko di sepanjang jalan ditutup atau dialihkan, mal-mal tampak sepi, sejumlah pedagang mengaku sangat sulit berdagang saat ini.

Pada konferensi pers penutupan Kongres Rakyat Nasional Tiongkok belum lama ini, Li Keqiang menyatakan kepada dunia luar bahwa Tiongkok memiliki 600 juta orang dengan pendapatan bulanan hanya 1.000 yuan atau sekitar Rp. 2 juta. Di bawah hantaman wabah, orang-orang itu menghadapi kesulitan besar dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Fakta yang diungkapkan Li Keqiang ini sontak membuat terkejut dunia luar. Itu dianggap sebagai pernyataan  terbuka yang berlawanan, yang menghancurkan impian pihak berwenang untuk menghilangkan kemiskinan. 

Sejak pecahnya perang dagang, Li Keqiang, yang bertanggung jawab atas ekonomi, selalu menekankan masalah lapangan pekerjaan dengan mengatakan bahwa lapangan pekerjaan terkait dengan stabilitas keseluruhan masyarakat. Li Keqiang juga meminta pemerintah daerah untuk menjaga garis bawah jangan sampai terjadi “pengangguran massal”.

Menurut Radio France Internationale, ekonomi kerakyatan atau pedagang kios bukanlah hal yang baru, Li Keqiang juga tidak punya pilihan lain. Membiarkan Biro Administrasi dan Penegakan Hukum Perkotaan istirahat dan membiarkan para pengangguran menyelamatkan diri mereka sendiri. Sama seperti tahun 80-an, Deng Xiaoping juga tidak memiliki cara yang mumpuni. Para petani di Sichuan, Anhui, harus mempertahankan tanah mereka masing-masing. Deng Xiaoping memerintahkan komune rakyat untuk dibubarkan, dan masalah pangan para petani pun bisa dipenuhi. 

Namun, “kembang api” dari ekonomi pasar ala Li Keqiang belum juga sepenuhnya mekar, telah dipadamkan dengan cepat oleh media partai dengan alasan itu merusak wibawa pemerintah.

Pada 7 Juni, media partai Beijing “Beijing Daily” mengatakan bahwa “ekonomi pasar tidak cocok untuk Beijing”. Komentar tajam dari media corong Partai Komunis “People’s Daily” menyebutkan: “Suhu ekonomi pasar tidak bisa berkembang”.

CCTV juga mengatakan dalam komentar, “Ekonomi pasar tidak bisa langsung dipraktikkan tanpa pertimbangan matang.”

Xie Tian, ​​seorang profesor di University of South Carolina Aiken School of Business, menilai  bahwa hal itu menunjukkan adanya perbedaan pandangan dari para pemimpin tingkat tinggi Komunis Tiongkok. Di satu sisi pergolakan internal yang sengit, dan perseteruan internal dalam kebijakan eksternal. Di sisi lain atau orientasinya mencerminkan gejolak perseteruan ini. (Johny / rp)

Video Rekomendasi 

Share

Video Popular