Xiao Jing/Ming Xuan- NTDTV.com

Pada 17 Juni 2020, Pompeo dan Yang Jiechi mengadakan pertemuan tujuh jam di Honolulu, Hawaii.  Pertemuan ini menarik perhatian dunia. Pada  19 Juni 2020, Pompeo berpartisipasi dalam konferensi video KTT Demokrasi Kopenhagen.

Ketika menjawab pertanyaan yang diajukan pembawa acara, ia menyebutkan bagian dari pertemuan dengan Yang Jiechi.

Menurut laporan media Hong Kong, selama pembicaraan, Pompeo menekankan kepada Yang Jiechi bahwa Amerika Serikat “tidak hanya akan mendengarkan apa yang dikatakan Tiongkok di masa depan, tetapi untuk mengamati tindakan apa yang telah diambil Tiongkok.”

Pompeo berkata : “Kami semua melihat apa yang mereka (Komunis Tiongkok) lakukan, Saya menunjukkan beberapa diantaranya, termasuk Hong Kong, Tibet, Xinjiang, dan operasi militer yang dilakukan Tiongkok di India, serta di Filipina, Malaysia, dan Indonesia. Hal yang dapat dilakukan di dekat Zona Ekonomi Khusus Vietnam. “

Pada Senin 15 Juni 2020,  konflik  Tiongkok dan India pecah di perbatasan dalam 45 tahun. Penyebabnya adalah pelanggaran terang-terangan Komunis Tiongkok atas konsensus “penyelesaian damai perselisihan” yang dicapai oleh para pemimpin militer kedua pihak pada 6 Juni 2020. 

Saat ini, data yang diperoleh dari pemerintah India menunjukkan bahwa konflik menyebabkan kematian setidaknya 20 tentara India dan 43 tentara Komunis Tiongkok.

Sedangkan, UU Keamanan Nasional versi Hong Kong yang disahkan oleh Kongres Rakyat Nasional Komunis Tiongkok pada tanggal 28 Mei 2020, menyebabkan ketidakpuasan yang kuat di banyak negara Barat. Departemen Luar Negeri AS menunjukkan dalam sebuah pernyataan bahwa Amerika Serikat mengutuk proposal Komunis Tiongkok untuk “secara sepihak memaksakan undang-undang keamanan nasional yang sewenang-wenang di Hong Kong.” 

Pasalnya, keputusan itu “memotong prosedur legislatif Hong Kong yang sempurna dan mengabaikan keinginan rakyat Hong Kong.” Bahkan terhadap otonomi tingkat tinggi Beijing yang dijanjikan ke Hong Kong di bawah “Pernyataan Bersama Tiongkok-Inggris” akan menjadi lonceng kematian.”

Presiden AS Trump juga mengumumkan pembatalan perlakuan perdagangan khusus untuk Hong Kong. Pompeo juga mengatakan kepada media pada 31 Mei bahwa jika Komunis Tiongkok menyamakan Hong Kong dengan kota-kota lain seperti di Tiongkok daratan, maka Amerika Serikat akan “mencabut satu per satu” semua perlakuan istimewa yang diberikan kepada Hong Kong.

Selain itu, pertemuan Pompeo dengan Yang Jiechi juga menyebutkan masalah tarif pembalasan Komunis Tiongkok terhadap Australia.  Pompeo mengatakan, hanya karena permintaan berani Australia untuk menyelidiki bagaimana coronavirus menyebar dari Wuhan, Tiongkok ke Milan, Italia, dari Wuhan ke Teheran, Iran, dan dari Wuhan ke Kota Oklahoma, AS, Belgia, dan Spanyol , Akhirnya menghancurkan ekonomi global.

Pada April tahun ini, pemerintah Australia memprakarsai sebuah inisiatif untuk melakukan penyelidikan internasional independen tentang isu-isu terkait dengan epidemi Komunis Tiongkok. Tindakan itu membuat marah Komunis Tiongkok. 

Pada 12 Mei 2020, Komunis Tiongkok melarang empat pabrik daging sapi Australia untuk mengekspor daging sapi ke Tiongkok. Alasannya dikarenakan “kualitas di bawah standar.”  Pada 18 Mei 2020, Komunis Tiongkok terus menawarkan langkah-langkah tarif pembalasan.

Pemerintahan itu mengumumkan bahwa mulai dari  19 Mei, ekspor Barley dari Australia ke Tiongkok akan dikenakan tarif 80% anti-dumping dan anti-subsidi. Sedangkan Departemen Pendidikan menerbitkan “peringatan belajar di luar negeri” pada 9 Juni 2020. Tujuannya untuk mengingatkan mayoritas yang belajar di luar negeri untuk “memilih  belajar dan kembali ke Australia dengan bijaksana.” (Hui/asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular