Theepochtimes, Zhang Ting- Konflik tentara Komunis Tiongkok dengan India pada 15 Juni 2020 lalu di Lembah Sungai Galwan tercatat sebagai konflik berdarah terburuk dalam hampir 45 tahun. 

U.S. News & World Report Amerika Serikat mengutip sebuah sumber  menyatakan bahwa menurut penilaian intelijen, Zhao Zongqi, komandan Barat Tentara Komunis Tiongkok, menyetujui serangan di daerah perbatasan antara Tiongkok dan India

Sumber itu mengatakan bahwa Zhao Zongqi telah mengawasi konfrontasi  Tiongkok dan India. Dia melihat konfrontasi pekan lalu sebagai cara untuk “memberikan pelajaran kepada India.”

Laporan itu mengatakan bahwa hasil penilaian intelijen Amerika Serikat bertentangan dengan interpretasi Komunis Tiongkok terhadap konflik yang terjadi minggu lalu.

Penilaian menunjukkan bahwa peristiwa yang mematikan dan kontroversial ini tidak sama dengan konflik sebelumnya. Ini bukan hasil dari ketegangan yang tiba-tiba dan tidak terkendali, tetapi keputusan sengaja Beijing untuk mengirim sinyal ke India guna menunjukkan kekuatannya. 

Konflik berdarah itu mengakibatkan kematian setidaknya 20 tentara India dan 35 tentara Komunis Tiongkok. Di kedua pihak ada tentara yang ditangkap, tetapi sudah dibebaskan.

Hasil dari rencana serangan Komunis Tiongkok menjadi bumerang

Nampaknya rencana Komunis Tiongkok  kontraproduktif, karena insiden tersebut menyebabkan kemarahan yang meluas di India. Beijing berusaha membuat India lebih patuh pada negosiasi di masa depan, termasuk wilayah yang disengketakan. Tetapi sebaliknya,  tampaknya membawa India, negara raksasa ekonomi ini, lebih dekat ke Amerika Serikat.

Amerika Serikat telah menekan India selama beberapa bulan, mendesaknya untuk tidak membiarkan perusahaan teknologi Tiongkok Huawei berpartisipasi dalam konstruksi 5G India. Setelah peristiwa minggu lalu, India memulai gelombang boikot barang-barang Tiongkok. Orang India menghapus aplikasi media sosial Tiongkok seperti TikTok dan menghancurkan ponsel buatan Tiongkok.

Kementerian Telekomunikasi India pada 17 Juni 2020 lalu  telah memerintahkan   melarang perusahaan telekomunikasi milik negara membeli peralatan dari perusahaan Tiongkok seperti ZTE dan Huawei. 

Pihak berwenang India juga secara pribadi memperingatkan operator telekomunikasi untuk tidak bekerja sama dengan perusahaan Tiongkok dalam peluncuran jaringan 5G.

“Ini benar-benar kebalikan dari yang diinginkan Tiongkok. Ini bukan kemenangan bagi militer Tiongkok,”  kata sumber itu.

Hawkeye 360, sebuah perusahaan intelijen geografis swasta, melaporkan pekan lalu bahwa gambar satelit dari akhir Mei menunjukkan bahwa pihak Tiongkok tampaknya membangun kapal-kapal pengangkut personel bersenjata dan artileri self-propelled.

Masalah pengungkapan intelijen Amerika Serikat sepenuhnya bertentangan dengan interpretasi Komunis Tiongkok.

Menurut sumber yang akrab dengan penilaian intelijen Amerika Serikat tentang konflik Tiongkok-India, pada 15 Juni, seorang perwira senior militer India dan dua perwira yang tidak ditugaskan pergi ke tempat pertemuan tanpa senjata, di mana mereka berharap bertemu dengan seorang wakil Tentara Komunis Tiongkok Resimen untuk membahas penarikan pasukan. 

Diluar dugaan pihak India, lusinan tentara militer Tiongkok sedang menunggu mereka dengan tongkat besi dan mulai menyerang mereka. Tentara India lainnya segera meminta bantuan yang mengakibatkan perkelahian dan jatuh lebih banyak korban.

Setelah insiden itu, media resmi Komunis Tiongkok menyalahkan India atas serangan tersebut.

Zhao Li, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, bersikeras bahwa pada malam 15 Juni 2020 itu, penjaga perbatasan India sekali lagi dengan sengaja memprovokasi garis kontrol yang sebenarnya, dan bahkan dengan kejam menyerang para perwira dan tentara Tiongkok yang bernegosiasi di tempat itu hingga menyebabkan konflik fisik yang hebat dan menyebabkan korban.

Pernyataan Zhao Lijian sangat berbeda dengan hasil pantauan intelijen Amerika.

Perdana Menteri India, Narendra Modi   pada 19 Juni 2020 mengatakan bahwa India, yang kehilangan 20 tentara setelah konflik perbatasan, “terluka dan marah”. Modi memperingatkan bahwa Angkatan Darat India telah diberi wewenang untuk merespons secara bebas semua pelanggaran baru.

Sementara itu Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo pada 19 Juni 2020,  mengkritik tentara Komunis Tiongkok karena mengintensifkan ketegangan di perbatasan Tiongkok-India.

Menurut Pompeo saat Konferensi Tingkat TInggi/ KTT Demokrasi Kopenhagen, militer Komunis Tiongkok meningkatkan ketegangan perbatasan.

“Hari ini kita melihat ini di India, demokrasi dengan penduduk terpadat di dunia. Kami melihatnya  militerisasi Laut Cina Selatan dan mengancam saluran kunci maritim. Ini adalah melanggar satu lagi janji lain,” kata Pompeo. (hui/rp) 

Editor yang bertanggung jawab: Lin Yan #

Video Rekomendasi

Share

Video Popular