Ntdtv.com- Pada 17 Juni 2020 lalu, pemimpin Partai Komunis Tiongkok Xi Jinping mengumumkan dalam konferensi video di “KTT Solidaritas Tiongkok-Afrika dalam perang melawan pandemi”, bahwa di bawah kerangka “Forum Kerjasama Tiongkok-Afrika,” komunis Tiongkok akan menghapus pinjaman bebas bunga negara-negara Afrika yang akan jatuh tempo pada akhir tahun ini.

Melalui proyek “Belt and Road”, Komunis Tiongkok  sepenuhnya memasuki berbagai bidang ekonomi negara-negara Afrika yang berpartisipasi dalam proyek tersebut. Seiring dengan meningkatnya proyek konstruksi, utang negara-negara ini menjadi semakin besar. Ditambah dengan dampak pandemi, membuat beban utang semakin berat. Negara-negara Afrika ini kemudian meminta Komunis Tiongkok untuk membebaskan utang mereka.

Xie Tian (Baca Sie Thien), seorang profesor di University of South Carolina Aiken School of Business Administration, Amerika Serikat mengatakan : “Pada kenyataannya, negara-negara ini sama sekali tidak sanggup membayar utangnya. Ini karena inisiatif “Belt and Road” Komunis Tiongkok, yang membuat pemerintah daerah setempat memikul beban utang yang besar. Utang-utang ini menjadi kredit macet, dan tidak dapat ditarik kembali.  Komunis Tiongkok menghapus utang-utang ini hanya untuk mendapatkan reputasi yang baik di kancah internasional.”

Namun, publik Tiongkok marah karena Komunis Tiongkok  menyebar uang ke luar negeri dan membebaskan utang negara-negara Afrika. Akan tetapi mereka juga tidak bisa berbuat banyak.

Seorang warga Hunan bermarga He mengatakan : “Itu adalah pajak yang dibayar masyarakat, siapa sih yang tidak kesal! Dia melakukan semaunya untuk menjaga posisi dan kekuasaannya. Jadi kita juga tidak berdaya, apa yang bisa kami lakukan ?”

Zhang, seorang warga Hebei mengatakan : “Kami sudah terbiasa, dan tidak merasa aneh lagi melihat hal seperti itu. Terserah apa yang mau dilakukannya ! Akhir penguasa pasti akan tiba pada akhirnya.”

Warga Sichuan, Tan mengatakan : “Kami tidak memiliki hak menyatakan pendapat. Apa yang bisa kami katakan? Membantu Afrika mengurangi kemiskinan, sebaliknya tidak membantu rakyatnya sendiri secuil pun. Tidak ada pengobatan gratis, tidak ada uang pensiun, tidak ada pendidikan gratis. Kebijakan negara seperti itu, dan pembuat kebijakan seperti ini, kami hanya punya satu kata untuk itu –Tidak!.”

Tan, warga Sichuan mengatakan bahwa Komunis tiongkok  tidak ingin rakyatnya menjadi kaya. Ia memperlakukan rakyatnya bagaikan kucai (Sejenis sayuran), tumbuh sedikit dipangkas lagi. Karena itu, kaum pekerja hanya akan menjadi semakin miskin. Mereka juga tidak akan pernah memiliki harapan untuk mengubah nasib.

VOA melaporkan bahwa dari tahun 2000 hingga 2017,  Komunis Tiongkok meminjamkan sekitar 146 miliar dolar AS kepada negara-negara Afrika. Menteri Keuangan Ghana Ken Ofori-Atta mengatakan bahwa  utang yang sangat besar ini, pembayaran utang Afrika tahun ini sekitar 8 miliar dolar AS.

Terbetik berita bahwa utang Djibouti, yang terletak di Tanduk Afrika, berutang kepada Tiongkok telah melampai 70% dari produk domestik bruto (PDB). Sedangkan utang Ethiopia kepada Tiongkok menyumbang 20% ​​sangat terpukul akibat perang dagang AS-Tiongkok. Ditambah dampak epidemi virus Komunis tiongkok dari output tahunannya.

Selain itu, ekonomi Tiongkok, yang semakin melemahkan kemampuannya untuk berinvestasi di luar negeri. Sehingga tidak bisa lagi melanjutkan atau memperluas proyek seperti sebelumnya.

Xie Tian menuturkan alasan utama adalah perang dagang Tiongkok dengan Amerika Serikat. Faktor itu berimbas pada turunnya ekspor. Ditambah dengan cadangan devisa komunis Tiongkok yang terus berkurang. Hingga kemampuannya untuk mendapatkan devisa berkurang. Jadi, investasi sebelumnya pada dasarnya telah hancur.  Kebenaran tentang penangguhan utang ini adalah bahwa Komunis Tiongkok sendiri, sudah tidak punya uang. Adapun proyek-proyek itu pada dasarnya sudah bangkrut.

Sekitar sepertiga dari negara-negara yang berpartisipasi dalam “Belt and Road” menghadapi krisis utang. 

Pada tahun 2018, wadah pemikir Global Development Center (CGD) menerbitkan laporan penelitian yang menyebutkan bahwa di antara 68 negara yang berpartisipasi dalam inisiatif “Belt and Road atau proyek OBOR,  23 di antaranya menghadapi risiko “beban utang.” Bahkan beberapa negara akan jatuh ke dalam krisis “utang kedaulatan”.

Negara-negara Afrika yang menanggung beban utang kepada Komunis Tiongkok, tidak mampu membayarnya. Karena itu, Komunis tiongkok mempertimbangkan kepentingannya sendiri.

Media keuangan Amerika, Bloomberg mengatakan bahwa Komunis Tiongkok tidak akan melepaskan Afrika. Dikarenakan selain kepentingan komersial, manfaat terbesar  dari Afrika adalah modal politik.

Bloomberg mengatakan bahwa Afrika menempati lebih dari seperempat kursi di PBB. Jumlah itu memiliki peran yang sangat penting dalam perluasan pengaruh komunis Tiongkok di PBB. Terutama sekarang, semakin tidak mungkin bagi Komunis tiongkok melepaskan Afrika. Itu ketika hubungannya dengan negara-negara Eropa dan Amerika semakin tegang.

Selain itu, New York Times juga mengatakan, jika Komunis Tiongkok terlalu menawar dalam masalah utang, negara-negara pengutang mungkin akan bersatu.  Mungkin saja akan mengumumkan skala penerimaan pinjaman dari Tiongkok dan syarat pembayarannya. Pada saat yang sama, ini juga terkait dengan reputasi Komunis Tiongkok di kancah internasional. Dikarenakan Komunis Tiongkok sedang berusaha menyelamatkan citranya yang rusak akibat pandemi. (Jon/asr)

Wawancara / Chang Chun – Editor  / Li Ming – Pasca produksi / Ge Lei

Video Rekomendasi

Share

Video Popular