Ntdtv.com- Saat ini Tiongkok dilanda wabah virus corona dan banjir bandang. Bencana menyusul, kawanan belalang menyerbu sejumlah daerah di Tiongkok. Banyak kalangan menilai, gelombang bencana itu adalah akhir perjalanan rezim komunis. Komunis Tiongkok telah tamat. 

Kota Xiangyang, Provinsi Hubei, Distrik Jiangcheng, Kota Pu’er, Yunnan jadi korban. Kawanan belalang memenuhi permukaan tanah dan angkasa. Di lahan pertanian di Quanzhou, provinsi Guangxi, tanaman digerogoti belalang hingga tak berbentuk. Pakaian petani juga dipenuhi kawanan belalang.

Zhao, warga di kota praja Shaoshui, Quanzhou, Kota Guilin, provinsi Guangxi menuturkan: 

“Beberapa lahan kami di sini digerogoti belalang hingga tak berbekas. 

Kerugian sangat besar. Tahun ini adalah bencana hama belalang. 

Baru tahun ini terjadi bencana seperti itu, sebelumnya tidak.”

Data pejabat Heilongjiang dan Jilin awal Juni 2020 mengumumkan, area pertanian di Harbin terkena dampak mencapai 24.631 mu atau sekitar 1650.277 ha. Belalang juga menyerbu pinggiran Kota Jiamusi. Kabupaten Huachuan, provinsi Heilongjiang timur dan Ningyuan, Kota Yongzhou, Hunan. Belalang tampak di mana-mana. Pada tanaman di sawah, di dinding rumah. Ukurannya sangat besar.

Dokumen Biro Pertanian dan Pedesaan Chengdu, provinsi Sichuan berisi, meminta warga desa gunakan lahan pertanian, taman kota dan perkebunan pohon digunakan untuk tanaman padi. Warga dijanjikan subsidi sebesar RMB 3.000/ Rp. 6 juta per mu (1 mu = 0.067 ha).

Pejabat Kota Xiaogan, Provinsi Hubei janjikan subsidi 150 yuan, setiap lahan sawah seluas satu mu atau sekitar 0.067 hektar. Namun para petani enggan bercocok tanam.

Mr. Yu, warga Xiaogan, provinsi Hubei mengatakan: 

“Beberapa tempat memang disubsidi.

Kami juga disubsidi, tetapi sangat sedikit.

Bagi orang yang bekerja di luar, subsidi ini sebenarnya tidak ada artinya. 

Beberapa tempat mungkin mendapatkan subsidi lebih besar, tetapi itu juga karena area penanamannya relatif luas. 

Sedangkan subsidi di tempat kami sangat sedikit, dan benar-benar tidak dapat meningkatkan semangat petani untuk menanam padi.”

Tn. Yu mengatakan:

“Saya merasa mungkin akan terjadi masalah di paruh kedua kalender lunar (Kalender Tiongkok). 

Banjir di paruh pertama tahun ini sudah terjadi.

Di paruh kedua tahun ini, siapa tahu akan terjadi bencana kekeringan lagi. 

Jika bencana ini terus terjadi secara silih berganti.

Saya pikir banyak petani mungkin akan tercekik. 

Saat itu mungkin ada gelombang perebutan makanan. 

Begitu terjadi perebutan makanan, orang-orang dari lapisan masyarakat bawah mungkin yang paling menderita.”

Bencana berdampak besar pada produksi tanaman pokok. Ditambah pengurangan produksi dari negara-negara pengekspor pangan utama, membuat harga pangan melonjak tajam. Krisis pangan di Tiongkok sudah dalam kondisi darurat. (Johny/ rp)

Video Rekomendasi

Share

Video Popular