Ntdtv, oleh Zhong Gusheng- Kantor berita Reuters pada hari Kamis, 9 Juli 2020 mengutip sumber yang paham dengan kelima bank komunis Tiongkok  menjelaskan, banyak bank BUMN Tiongkok sedang mempersiapkan rencana darurat menghadapi sanksi AS di bidang keuangan ini. 

Kelima perumus itu termasuk Bank of China, Industrial and Commercial Bank of China, Agricultural Bank of China dan lainnya.

Kongres AS baru-baru ini telah mengesahkan Hong Kong Autonomy Act. Kini sedang menunggu implementasinya setelah ditandatangani presiden. 

Undang-undang itu mensyaratkan sanksi pada bank yang melakukan bisnis dengan pejabat komunis Tiongkok, yang mana terlibat dalam penerapan Undang-Undang Keamanan Nasional versi Hongkong. Bank-bank milik pemerintah Tiongkok khawatir bahwa mereka akan menjadi sasaran sanksi.

Di antara mereka, kasus terburuk yang mungkin dihadapi Bank of China dan Industrial and Commercial Bank of China adalah mereka sepenuhnya terputus dari pasokan dolar AS atau tidak dapat melakukan clearing dengan mata uang dolar AS. 

Bank of China juga khawatir tentang hasil kasus terburuk lainnya, yaitu terjadi penarikan dana besar-besaran oleh nasabah Hongkong karena kekhawatiran tentang mata uang dolar. 

Sedangkan situasi yang dihadapi Agricultural Bank of China sedikit lebih ringan, yaitu, hanya perlu menemukan solusi untuk pelanggan tertentu yang masuk daftar hitam pemerintah Amerika Serikat.

Salah seorang sumber mengatakan, bahwa bank-bank tersebut semua berharap untuk menemui situasi yang “terbaik.” Meskipun mau tak mau, perlu mempersiapkan diri menghadapi situasi terburuk. Dikarenakan tidak ada yang mampu memprediksikan bagaimana situasi akan berkembang.

Sanksi kepada industri keuangan komunis Tiongkok yang tertera dalam Hong Kong Autonomy Act sangat “kejam.” Wujud sanks itu adalah  melarang lembaga keuangan AS memberikan pinjaman kepada bank komunis Tiongkok, melarang mereka menjadi dealer utama dalam penjualan obligasi milik negara AS atau lembaga penyimpanan dana pemerintah AS dan melarang mereka untuk memproses transaksi valuta asing apa pun di dalam wilayah hukum AS.  Tak hanya itu, lembaga keuangan AS juga dilarang berpartisipasi dalam transaksi kredit atau pembayaran dalam wilayah hukum Amerika Serikat. Bahkan, melarang warga atau perusahaan AS untuk menyediakan teknologi, dana atau membeli hutang ekuitas kepada mereka. 

Sampai saat ini belum jelas bank mana yang akan dimasukkan dalam daftar sanksi. 

VOA ​​mengutip analisis memberitakan bahwa ruang lingkup sanksi, dapat diperluas ke sebagian besar bank-bank utama komunis Tiongkok. Yang mana, berarti bahwa ada kemungkinan untuk memutuskan kerja sama antara bank-bank ini dan Bank of America, dan membatasi penggunaan transaksi dolar AS mereka.

Media berpendapat bahwa Hong Kong Autonomy Act jelas merupakan “hukuman berat” bagi komunis Tiongkok. Jika semua bank utama komunis Tiongkok dimasukkan dalam daftar sanksi, itu setara dengan decoupling keuangan antara Amerika Serikat dengan komunis Tiongkok.

Reuters melaporkan bahwa bank-bank BUMN Tiongkok juga telah mengacu pada pengalaman Iran, itu ketika merumuskan rencana darurat. Dikarenakan pemerintah totaliter Iran telah dikenakan sanksi keuangan oleh AS selama bertahun-tahun.

Saat ini, mata uang Iran telah sepenuhnya dipisahkan dari dolar AS. Sedangkan rial Iran terus mengalami depresiasi. Sedangkan ekonomi Iran sudah berada di tepi kehancuran. 

Dari sini dapat dilihat bahwa sampai bank-bank komunis Tiongkok “meminjam” pengalaman Iran. hal demikian mencerminkan bahwa komunis Tiongkok sudah benar-benar tidak berdaya. 

Laporan menyebutkan, selain bank-bank milik negara, ada setidaknya 3 perusahaan leasing milik negara, termasuk ICBC Leasing dan CSIC Leasing, anak perusahaan leasing keuangan dari CSSC Group, juga sedang mempersiapkan rencana darurat.

Dolar AS adalah mata uang utama untuk perhitungan transaksi di internasional dan cadangan bank sentral. 

Begitu terjadi decoupling antara RMB dengan USD, maka itu akan memberikan pukulan fatal bagi sistem keuangan komunis Tiongkok.

Beberapa hari yang lalu, Wang Yi, Menteri Luar Negeri Tiongkok yang selama ini bersikap seperti Serigala Perang yang sering berkoar tidak takut dengan ancaman AS dan akan melayani sampai kapan pun, sekarang mulai menunjukkan sikap melembut dan membujuk Amerika Serikat agar tidak memaksakan decoupling. (Sin/asr)

Video Rekomendasi

Share

Video Popular