Ntdtv, oleh Li Yun- Oxfam dalam laporan peringatan yang diberi judul ‘The Hunger Virus : How COVID-19 is Fuelling Hunger In A Hungry World,’ menyebutkan bahwa 122 juta orang penduduk dunia dikhawatirkan meninggal dunia kelaparan akibat epidemi.

Laporan mengutip data dari Program Pangan Dunia (WFP) menyebutkan bahwa sekitar 821 juta orang mengalami kerawanan pangan pada tahun 2019, di mana sekitar 149 juta orang menghadapi kelaparan yang mendesak. 

Tahun ini, jumlah orang yang menghadapi kelaparan mendesak ini bisa naik 82%, sehingga mencapai total hampir 270 juta orang karena pengaruh epidemi.

Hal ini menunjukkan bahwa setiap hari ada sekitar 6.000 hingga 12.000 orang mati kelaparan, karena dampak sosial dan ekonomi dari epidemi tersebut.

Laporan tersebut merangkum 7 penyebab meningkatnya kelaparan : 1. Pengangguran. 2. Petani tidak dapat bekerja karena instruksi blokade (lockdown) atau sakit. 3. Menurunnya jumlah bantuan kemanusiaan. 4. Kerusakan sistem pasokan makanan. 5. Krisis iklim. 6. Pincangnya rasa keadilan. 7. Konflik perang.

Oxfam juga menyerukan kepada pemerintah untuk secepatnya mengambil tindakan mengatasi kelaparan.

Menurut laporan itu, masalah kelaparan bahkan lebih serius dalam rumah tangga yang lebih banyak dikelola oleh wanita. Selain itu, wanita juga harus melakukan pekerjaan perawatan yang tidak menghasilkan pendapatan, setelah penutupan sekolah dan kerabat yang terjangkit pneumonia Wuhan.

Organisasi internasional memperingatkan bahwa dunia akan menghadapi kekurangan pangan. (AFP/Getty Images)

Krisis pangan sedang mengancam dunia

Saat ini, epidemi virus komunis Tiongkok masih menyebar secara global selama lebih dari 7 bulan. 

Pada 8 Juli, sudah 12,07 juta orang dari 188 negara di seluruh dunia terdiagnosa mengalami infeksi dan 550.000 orang telah meninggal.

Sementara negara-negara di seluruh dunia sibuk merespon epidemi, krisis bahan pangan datang mengancam dunia. 

Pada akhir bulan Maret, penanggung jawab dari ketiga organisasi global, termasuk Organisasi Pangan dan Pertanian PBB atau FAO, memperingatkan bahwa jika negara-negara tidak dapat menanggapi epidemi dengan benar, maka dunia akan menghadapi krisis pangan.

Tiongkok yang telah dilanda masalah pangan selama bertahun-tahun, akan menghadapi situasi yang lebih buruk.

Pada awal bulan Maret, negara tetangga Tiongkok, seperti Vietnam, Kirgistan, Kazakhstan, Rusia, Thailand, Malaysia dan negara-negara lain telah membatasi ekspor biji-bijian demi melindungi pasokan biji-bijian domestik mereka. Di pasar internasional, harga biji-bijian seperti gandum dan beras berfluktuasi.

Komunis Tiongkok adalah pengimpor biji-bijian terbesar di dunia, pada tahun 2018, Tiongkok mengimpor produk pertanian mencapai USD. 137,1 miliar. Kekurangan pangan global pasti akan mempengaruhi negara berpenduduk terbesar di dunia itu.

Pada 1 April, dokumen rahasia yang dikeluarkan oleh Kantor Komite Prefektur Linxia dari Provinsi Gansu, justru mendesak pejabat setempat untuk memulai menyimpan bahan pangan, produk daging sapi, kambing, minyak dan garam yang merupakan bahan pokok. Sementara itu, para pejabat diharapkan dapat memimpin dan memobilisasi massa untuk berinisiatif menyimpan biji-bijian. Pastikan bahwa setiap rumah tangga memiliki simpanan biji-bijian untuk persediaan pangan, selama 3 hingga 6 bulan sebagai antisipasi kemungkinan krisis.

Rakyat Tiongkok pada tahun-tahun 1959 – 1961, menghadapi bencana kelaparan, selain menyebabkan sedikitnya 45 juta orang meninggal, juga memunculkan kanibalisme di berbagai provinsi. Provinsi Gansu yang pada tahun 1957 memiliki penduduk sekitar 12 juta jiwa, lebih dari 10 juta di antaranya telah melayang dalam kurun waktu 3 tahun bencana tersebut.

Banyak provinsi di Tiongkok panik membeli biji-bijian dan minyak pada bulan April lalu untuk disimpan. Ditambah dengan hujan es dan salju lebat yang datang tiba-tiba pada bulan April dan Mei di berbagai tempat Tiongkok. Sehingga mengakibatkan berkurangnya panen produksi pangan, serta invasi serangga, belalang, dan banjir di 26 provinsi di Tiongkok, krisis pangan Tiongkok sudah pasti tak terhindarkan.

Organisasi internasional memperingatkan bahwa dunia akan menghadapi kekurangan pangan. (Cancan Chu/Getty Images)

Krisis pangan yang parah

Baru-baru ini, Partai Komunis Tiongkok menghimbau agar para petani di daratan Tiongkok untuk mengamankan pangan melalui pengolahan maksimal lahan pertanian, ini mengindikasikan bahwa krisis biji-bijian sangat parah.

Menurut laporan, baru-baru ini, Biro Pertanian dan Pedesaan Chengdu Sichuan, mengeluarkan instruksi yang meminta diadakan pengalihan lahan tanaman buah dan pepohonan di seluruh perkotaan untuk difungsikan kembali, tak lain sebagai lahan tanaman biji-bijian guna menanggapi kemungkinan krisis pangan.

Ada petani lokal berpendapat, bahwa besar kemungkinan cadangan pangan Tiongkok sudah gawat, sampai rela “membuang” kebun buah-buahan.

Mengamankan pangan melalui pengolahan maksimal lahan pertanian ini, merupakan tugas nasional yang saat ini masih dalam tahap investigasi, dan pendanaan akhirnya perlu ditentukan oleh pemerintah. Demikian kata pejabat Biro Pertanian dan Pedesaan Chengdu.

Selain Sichuan, Mr. Fang, pejabat akar rumput di Kota Xiaogan, Hubei mengatakan, bahwa Kota Xiaogan juga mendesak penduduk desa untuk memobilisasi lahan guna keperluan pertanian biji-bijian, bahkan memberikan beberapa insentif kepada para petani. Pemerintah takut bencana kelaparan seperti tahun 1959 terulang kembali.

Mr. Chen dari Kota Chongqing, juga memberi konfirmasi bahwa berbagai krisis terjadi bersamaan pada saat ini, situasi politik komunis Tiongkok terjadi pergolakan, pejabat khawatir tentang masalah keamanan pangan, karena sepanjang pangan aman, rakyat masih bersedia menanggung kesulitan. Begitu bahan pangan tak tersedia lagi, maka semua upaya menjaga stabilitas akan menghadapi kegagalan. (Sin/asr)

Video Rekomendasi

Share
Tag: Kategori: OPINI

Video Popular