Epochtimes, oleh Yu Ping- Baru-baru ini pleno Majelis Nasional Austria dengan suara bulat menyetujui usulan Komite Hak Asasi Manusia Austria tentang transplantasi organ ilegal di daratan Tiongkok. Menurut usulan Rancangan Undang Undang/ RUU itu, pemerintah Austria akan memperkuat kerja sama dengan organisasi internasional  dalam upaya melindungi hak-hak korban perdagangan organ ilegal di daratan Tiongkok. Dalam pidatonya, anggota parlemen dengan jelas menunjukkan bahwa organ praktisi Falun Gong di daratan Tiongkok diambil secara paksa guna diperdagangkan.

Usulan kemasyarakatan itu diberi nama “Kami Orang Austria Tidak Menghendaki Organ dari Tiongkok, Jangan Bunuh Orang yang Tidak Bersalah.” Usulan tersebut mendapat dukungan dari partai-partai seperti Partai Rakyat Austria (ÖVP), Partai Demokrat Sosial, Partai Hijau, Austria Baru dan Forum Liberal (NEOS) dan lainnya.

Dalam pertemuan Nationalrat pada 9 Juli 2020 lalu, beberapa anggota Majelis Nasional mengutuk keras  kejahatan genosida, pengambilan paksa dan penjualan organ manusia di Tiongkok. 

Mereka dengan jelas menyebutkan bahwa sebagian besar organ-organ berasal dari tubuh para etnis minoritas dan orang-orang yang dianggap berbeda pendapat politik dengan penguasa, seperti etnis Uighur, Tibet, para praktisi Falun Gong, serta termasuk orang-orang Kristen.

Mengingat Undang-Undang Keamanan Nasional versi Hongkong, para anggota parlemen menekankan bahwa situasi hak asasi manusia di Hongkong sekarang mengkhawatirkan. Pemerintah Austria harus menyatakan sikapnya dan segera bekerja sama dengan organisasi internasional, seperti United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) di Wina, Komisi Eropa dan lainnya guna menghentikan kejahatan dan melindungi hak asasi manusia para korban perdagangan organ.

Skala transaksi organ ilegal di luar imajinasi

Anggota parlemen Austria mendesak masyarakat untuk ikut memperhatikan kejahatan pengambilan organ secara paksa di Tiongkok. 

Petra Bayr, anggota parlemen dari Partai Sosial Demokrat (SPO) Austria mengatakan bahwa organ manusia juga dapat dibeli seperti komoditas, dan skalanya luar biasa besar. 

“Skala perdagangan organ di Tiongkok sekarang sebanding dengan perdagangan senjata, perdagangan narkoba, dan perdagangan manusia,” kata Petra Bayr.

Petra Bayr memberi saran agar Austria belajar dari Israel. Di Israel, setiap operasi transplantasi organ di luar negeri harus dinyatakan dan disetujui terlebih dahulu oleh negara.

Ewa Ernst-Dziedzic, anggota parlemen dari Partai Hijau  Austria mengatakan dalam pidatonya bahwa perdagangan organ dipromosikan sebagai produk industri di Tiongkok. Dia bahkan menunjukkan sebuah gambar organ manusia dengan harganya dalam pertemuan itu. 

Ewa Ernst-Dziedzic mencontohkan kepada para peserta pertemuan, misalnya untuk membeli kornea membutuhkan berapa banyak uang, ginjal berapa, liver berapa dan seterusnya. Skala perdagangan organ Tiongkok menjadi sangat besar itu karena memiliki pasar di Barat. Misalnya, perusahaan farmasi besar Barat membeli organ manusia dari Tiongkok untuk tujuan pengembangan obat-obatan.

Ewa dalam pidatonya juga mengatakan bahwa komunis Tiongkok memiliki sistem transplantasi organ terbesar di dunia. 

Ada pejabat komunis Tiongkok mengatakan : “Jumlah transplantasi organ tahunan di rumah sakit Tiongkok adalah 10.000 kasus, tetapi dalam praktiknya jumlahnya bisa mencapai sedikitnya 100.000 kasus, dan jumlah ini mungkin masih merupakan bagian kecil saja”.

Kira Grunberg, anggota parlemen dari Partai Rakyat Austria (OVP) mengecam komunis Tiongkok bahwa pengambilan organ manusia secara paksa untuk diperdagangkan adalah kejahatan yang benar-benar tidak dapat diterima dari sifat dan etika manusia.

Praktisi Falun Gong di Tiongkok berada dalam situasi kritis

Ewa Ernst-Dziedzic menegaskan bahwa organ-organ para praktisi Falun Gong diambil secara ilegal. Kejahatan ini telah terungkap pada tahun 2006 dan masih terjadi. Sekarang situasi praktisi Falun Gong bahkan lebih kritis. 

“Karena banak praktisi Falun Gong telah menemui kita baru-baru ini, banyak dari mereka tinggal di Hongkong. Sekarang Hong Kong telah menerapkan Undang Undang Keamanan Nasional sehingga mereka khawatir dengan masalah keselamatan,” kata Ewa Ernst-Dziedzic.

Lebih jauh Ewa Ernst-Dziedzic menghimbau pemerintah Austria untuk menyatakan sikap yang jelas dan  mengambil berbagai tindakan bersama organisasi dunia, termasuk organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Uni Eropa guna memerangi sistem transplantasi organ ilegal terbesar di dunia ini. (sin/rp)

Video Rekomendasi

Share

Video Popular