The Epoch Times

Berbulan-bulan mengalami pandemi, ketidakpastian mulai merebak. Kenyataannya adalah, kemanusiaan telah berkali-kali selamat dari penyakit epidemi, dan jauh lebih mematikan besarnya. Tetapi kita tidak dapat selamat dari penyakit epidemi jika kita kehilangan kemanusiaan kita, menurut film baru oleh NTD Television.

Film dokumenter baru “When the Plague Arrives” atau  “Saat Wabah Tiba,” melihat wabah dalam konteks kisah kemanusiaan, untuk melihat arti wabah yang sebenarnya. Pemutaran perdana dokumenter online tersebut pada tanggal 12 Juli.

The Epoch Times mewawancarai produser Hyesoo Yoon mengenai film dokumenter tersebut.

The Epoch Times: Apa yang mengilhami film dokumenter ini?

Hyesoo Yoon: Film dokumenter itu benar-benar sebuah gagasan para eksekutif kami, saat mereka mulai mencari ke dalam sejarah pandemi dan mengenali banyak kesamaan antara berbagai peristiwa. Jujur, sebagai generasi milenium yang berwawasan global, “pelajaran dari sejarah” bukanlah topik yang paling menarik, dan benar-benar merupakan suatu proses upaya mencari tahu apa yang terjadi di zaman dahulu bukan hanya menarik, tetapi mengasyikkan. 

Ditambah, saat kami mulai mendiskusikan film dokumenter itu, karantina diterapkan, yang merupakan seluruh rangkaian pengekangan yang berbeda saat anda berupaya membuat sebuah film dokumenter. Tetapi sesungguhnya semua pengekangan ini memaksa kami untuk mundur dan melihat pandemi dengan pandangan yang segar.

Saat mulai karantina diterapkan, banyak orang di sekitar saya menderita frustrasi dan tertekan. Ada lingkungan ketakutan dan frustrasi ini, dan saya sama sekali tidak ingin berbicara mengenai jumlah korban tewas dan semua kehancuran yang kami hadapi karena krisis ini. Sama sekali bukan itu yang ingin saya lakukan.

 

Keterangan gambar : Evan Mantyk, presiden dari Perkumpulan Penyair Klasik, muncul dalam film dokumenter “Ketika Wabah Tiba.”

Saya ingin kita menemukan cara untuk menciptakan sesuatu yang akan menyemangati orang-orang, dan memberdayakan jiwa kita di tengah krisis ini, dan karena penulis naskah kami Catherine Yang dan saya baru saja mengerjakan sebuah film dokumenter seni rupa, saya tahu seni bisa menjadi jalan bagi kami untuk mencapai tujuan itu. Kami juga saling bertukar pikiran dengan Evan Mantyk, Presiden Masyarakat Penyair Klasik dan seorang guru sastra, yang menceritakan film tersebut, mengenai peran wabah dalam cerita dan sejarah.

Dalam lukisan, puisi, sastra, anda dapat menemukan diri anda di sana, hanya dalam  kostum dan keadaan yang berbeda. Emosi manusia yang mendasar, seluruh kondisi manusia dapat ditemukan di sana — anda memahami diri anda di sana. 

Begitulah cara yang kami inginkan untuk menggunakan sejarah dalam cerita ini — bukan suatu hafalan fakta dan angka, tetapi sebagai cara untuk terhubung ke orang-orang di mana mereka berada sekarang.

“The Plague of Rome” by Jules Elie Delauney.

The Epoch Times: Jadi film dokumenter ini bukan hanya mengenai pandemi saat ini?

Hyesoo Yoon: Film dokumenter ini bukan hanya mengenai pandemi saat ini, film dokumenter ini mengenai bagaimana pandemi ini cocok dengan kisah kemanusiaan. Film dokumenter ini bukanlah film dokumenter sejarah semata-mata; dan dengan bagian-bagian sejarah, kami benar-benar berusaha memasukkan konteks sejarah, menggunakan kutipan dari orang-orang pada waktu itu dan seni waktu pada waktu itu  untuk mewakili bagaimana orang-orang dari periode itu melihat kehidupannya dan menghadapi peristiwa yang menghancurkan ini.

Sebagian besar orang — kecuali mereka yang selamat dari pandemi tahun 1918 mungkin — belum pernah mengalami hal seperti ini, tetapi pada saat yang sama kita tahu ada semua wabah dan pandemi besar di masa lalu. Dan semakin banyak kita membaca mengenai pandemi ini, maka semakin kita melihat kisah pandemi bukan mengenai penyakit saja, tetapi juga mengenai krisis dan sebuah ujian kemanusiaan kita dan hal-hal yang benar-benar sangat universal. 

Saya bukan orang  Tionghoa, saya bukan orang Romawi, tetapi kisah-kisah ini mengenai pengalaman manusia dan nilai-nilai universal, dan kami pikir semua orang — tidak peduli negara atau pendidikan atau usia atau latar belakang anda — dapat terhubung dengan hal-hal universal ini.

Keterangan gambar : “Wabah dalam Sebuah Kota Kuno,” sekitar tahun 1652, oleh Michael Sweerts, dianggap mewakili wabah Athena. Hadiah dari Yayasan Ahmanson. Museum Seni Los Angeles County. (Domain publik)

Misalnya, kita berbicara banyak mengenai  keadilan hari ini, tetapi apakah kita benar-benar memiliki keberanian untuk melawan kejahatan? Itu adalah sulit. Kebudayaan kita tidak memiliki standar moral yang kuat, dan hasilnya adalah martabat manusia menderita karenanya.

Martabat manusia benar-benar merupakan inti dari hal itu — inilah yang terdepan saat anda benar-benar masuk ke kisah-kisah krisis ini. Dalam masa yang sulit ini, dan kita benar-benar sedang melewati masa-masa sulit, harapan saya adalah orang-orang ingat mereka dapat menjadi baik, memilih yang baik, tidak masalah siapa anda atau dari mana anda berasal. Setiap saat, setiap pilihan yang kita buat akan menjadi bagian sejarah manusia dan apa yang kita tinggalkan untuk sejarah manusia dan  generasi selanjutnya. 

Saya ingin orang-orang memiliki kekuatan melalui krisis ini, bukannya hanya menjadi terpuruk dan tertekan. Ini adalah sesuatu yang harus kita hadapi, tetapi benar-benar tergantung pada bagaimana anda menghadapinya, bagaimana anda berpikir mengenai hal ini. Anda dapat memiliki kekuatan, daripada hanya memendam kebencian dan kemarahan.

The Epoch Times: Ada seorang ahli kaligrafi terkenal yang ditampilkan sangat mencuri perhatian. Peran apa yang ia mainkan dalam film ini?

Hyesoo Yoon: Sebenarnya kami sudah dalam pasca- produksi saat saya hadir dengan gagasan ini. Saya benar-benar ingin membuat satu urutan dan adegan yang kuat dan bermakna sebelum film berakhir, dan saya mendapat inspirasi saat saya secara kebetulan menemukan sebuah kutipan dari sebuah buku mengenai sejarah dan idiom Tiongkok. Kutipan ini tertera dalam teks Tiongkok klasik “Empat Buku” di mana Zhu Xi menerjemahkan “Kumpulan Kesusasteraan Konfusius”: “Saat segalanya kacau hingga ekstrem, tatanan harus dipulihkan.”

Saya pikir kutipan itu benar-benar menyuarakan banyak kisah sejarah yang kami jelajahi dalam film dokumenter ini, dan saat ini. Karena bukan hanya mengenai penyakit, seluruh dunia benar-benar dilemparkan ke dalam kekacauan.

Keterangan gambar : Ahli kaligrafi terkenal Liu muncul di film dokumenter “Saat Wabah Tiba”.

Saya pikir akan sangat kuat jika kami dapat  menyampaikan kaligrafi ini. Tuan Liu, yang muncul dalam film dokumenter ini, pada menit terakhir. Ia adalah seorang ahli kaligrafi yang sangat terkenal di Tiongkok Daratan, dan telah tampil di banyak program TV. 

Apa yang ingin kami lakukan dengan syuting adalah tulisan yang besar dari pepatah yang terdiri empat karakter Mandarin ini, diletakkan di lantai, di mana semacam hubungan pepatah ini dengan bumi. Ia bekerja dengan gaya tradisional, dan menulis di lantai memang bukan cara yang umum untuk menulis, dan hal itu adalah sangat menantang baginya. Ia tidak ingin melakukan seni pertunjukan modern atau hal seperti itu — “tatanan harus dipulihkan ”—kami ingin memiliki jenis energi yang benar dapat mewakili hal tersebut.

Pengaturan membutuhkan waktu sekitar lima jam,  jadi akhirnya saya banyak mengobrol dengan tuan Liu saat pengaturan dan ia berbagi cerita yang luar biasa ini dan memberitahu saya saat-saat ia berada di Tiongkok. Saya tidak tahu bahwa ia pernah dianiaya dengan sangat kejam, oleh rezim komunis Tiongkok, semuanya itu karena keyakinannya, karena ia tidak ingin melepaskan keyakinannya.

Orang-orang melupakan ini, tetapi orang-orang percaya spiritual dari semua agama ortodoks menghadapi penganiayaan di Tiongkok komunis. Tuan Liu dianiaya dengan sangat brutal, ia dibiarkan sekarat, ia benar-benar hampir mati, dan adalah mukjizat bahwa ia tidak hanya selamat tetapi berhasil keluar dari Tiongkok. Itu adalah cerita yang sangat dramatis dan setelah saya mendengar kisahnya saya tahu ia benar-benar orang yang tepat untuk adegan itu. (Vv/asr)

Share

Video Popular