Ntdtv, oleh Luo Tingting- Mantan Presiden Republik Tiongkok (Taiwan) Lee Teng-hui  meninggal dunia di Taipei Veterans General Hospital pada 30 Juli 2020 malam dalam usia 97 tahun. Almarhum Lee Teng-hui adalah presiden pilihan rakyat pertama Republik Tiongkok. 

Sebelum meninggal, Lee Teng-hui juga pernah memberikan penilaian tentang diri Pemimpin Tiongkok, Xi Jinping dan menegaskan bahwa sulit bagi Xi Jinping untuk menjadi pemimpin dunia.

Lee Teng-hui secara aktif mempromosikan pemilu yang demokratis di Taiwan

Lee Teng-hui lahir di Taiwan pada tahun 1923. Dia keturunan leluhur etnis Hakka yang tinggal di Yongding, Fujian. Lee Teng-hui mengantongi gelar Ph.D dari Universitas Cornell di Amerika Serikat yang disukai oleh Chiang Ching-kuo dan memasuki arena politik. 

Pada tahun 1988, Chiang Ching-kuo meninggal semasa menjabat Presiden Republik Tiongkok (Taiwan), dan Lee Teng-hui kemudian menggantikan kedudukannya sebagai presiden.

Setelah itu, Lee Teng-hui aktif mempromosikan pemilihan presiden langsung dan menjadi presiden terpilih pertama secara langsung dalam sejarah Republik Tiongkok pada tahun 1996. 

Setelah masa jabatannya berakhir pada 19 Mei 2000, ia dikenal sebagai pelopor demokrasi Taiwan dan diakui sebagai Bapak Demokrasi secara internasional, lantaran menyelesaikan demokratisasi Taiwan tanpa perang saudara atau kudeta, yang jarang sekali terjadi di dunia.

Lee Teng-hui : Komunisme itu bohong

Ketika masih muda, Lee Teng-hui pernah mempelajari buku ‘Das Kapital’ tulisan Karl Marx, pendiri komunisme, bahkan pernah masuk anggota partai komunis. Tetapi ia kemudian sadar  bahwa komunisme itu bohong. Dia menemukan bahwa hubungan antara pekerja dan kapitalis bukanlah seperti apa yang dikatakan Karl Marx. Sejak Lee Teng-hui meninggalkan paham komunisme.

Setelah Lee Teng-hui memperoleh gelar PhD dalam bidang ekonomi pertanian dari Cornell University di Amerika Serikat lalu kembali ke Taiwan dan bergabung dengan Partai Kuomintang (KMT).

Dalam sebuah wawancara dengan BBC pada tahun 2014, Lee Teng-hui mengatakan : “Komunisme itu bohong. Tujuan dari pemerintahan partai komunis bukan untuk menggulingkan sistem kapitalis, tetapi untuk memperoleh kekuasaan dan menipu rakyat.

Lee Teng-hui secara khusus menekankan soal kekuatan dari keimanan manusia. Ia mengatakan, “Rakyat Tiongkok harus mulai dengan iman dan hak asasi manusia, mempraktikkan keyakinan, memungkinkan individu memiliki kebebasan, dan mengejar nilai universal hak asasi manusia. Hanya dengan cara ini Tiongkok dapat memiliki transisi kualitatif dari otokrasi ke demokrasi. Perubahan dan demokratisasi Tiongkok serta kualitas demokrasi masa depan tergantung pada kepercayaan, cita-cita partai yang berkuasa dan oposisi, serta masyarakat umum yang mempromosikan demokratisasi.”

Di luar dugaan Lee Teng-hui memberi penilaian tentang diri Xi Jinping

Dalam sebuah wawancara yang pernah dilakukan dengan Lee Teng-hui, di luar dugaan Lee memberikan penilaian terhadap diri seorang Xi Jinping. Ia mengatakan bahwa dirinya tidak percaya Xi Jinping mampu memimpin Tiongkok menuju demokrasi. “Xi Jinping tidak memiliki dasar ini”, kata Lee Teng-hui.

Pada bulan Mei 2014, Lee Teng-hui saat menemui mahasiswa Soochow University. Ia dengan blak-blakan mengatakan : “Xi Jinping mungkin lebih ambisius daripada Mao Zedong.” Dia tidak setuju dengan Xi Jinping yang kembali menapak jalan yang digariskan oleh Mao Zedong.

Pada saat itu Lee Teng-hui langsung menegaskan bahwa sejauh yang dirinya amati, Xi Jinping menginginkan kekuasaan yang lebih besar, dan ingin bersaing dengan Amerika Serikat. Xi Jinping punya ambisi menjadi pemimpin dunia. Namun, jika masalah yang cukup kompleks di daratan Tiongkok tidak teratasi, akan sangat sulit untuk menjadi pemimpin dunia.

Lee Teng-hui menilai, masalah terbesar bagi daratan Tiongkok adalah tidak memiliki kebebasan berpikir, kebebasan bertindak dan kebebasan berkeyakinan. Inilah kesenjangan terbesar antara negara komunis dengan negara demokrasi.

Pada tahun 2018, Partai Komunis Tiongkok mengesahkan amandemen konstitusi untuk menjadikan Xi Jinping ketua seumur hidup. 

Menurut sebuah laporan media ‘Central News Agency’, Lee Teng-hui meyakini bahwa meskipun kekuasaan absolut sudah berada di genggaman Xi Jinping, namun ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dalam keadaan seperti itu, penting untuk mempromosikan keanggotaan Taiwan di PBB.

Lee Teng-hui memuji buku ‘Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis’ sebagai sumber kedamaian sejati

Semasa hidup, Lee Teng-hui sangat memuji buku “Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis” yang diterbitkan pada bulan November 2004 oleh Epoch Times. Lee Teng-hui  merekomendasikan buku tersebut kepada publik dalam berbagai kesempatan.

Lee Teng-hui mengatakan bahwa siapa saja yang ingin mendalami lebih jauh tentang karakteristik Partai Komunis Tiongkok, silahkan membaca buku ini. Seri editorial buku itu adalah sumber kedamaian sejati.

Keterangan foto: Dalam konferensi pers pada tahun 2005, Lee Teng-hui memperkenalkan buku ‘Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis’ yang memicu gelombang jutaan orang mengundurkan diri dari Partai Komunis Tiongkok dan organisasi afiliasinya. (NTD)

Dalam konferensi bertemakan “Menghadapi krisis nasional yang mendesak, menentang kunjungan Lien dan Soong ke Daratan Tiongkok yang diselenggarakan bersama oleh 100 organisasi lokal di Taiwan pada 21 April 2005, Lee Teng-hui mengangkat buku “Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis.” Lien Chan adalah Ketua Partai Kuomintang dan James Soong Chu-yu adalah Ketua Partai Pertama Rakyat. 

Lee Teng-hui mengatakan bahwa buku itu menjelaskan secara rinci urusan mengenai Partai Komunis Tiongkok. Banyak anggota Partai Komunis Tiongkok berniat  mundur dari partai komunis setelah membaca buku ini. Mustahil jika tidak mundur dari partai itu.

Pada 8 Mei tahun yang sama, dalam forum bertemakan “Menghadapi krisis nasional yang mendesak, memobilisasi kekuatan nasional untuk mencegah Lien-Soong menjual Taiwan,” Lee Teng-hui  kembali menegaskan bahwa untuk memahami karakteristik asli Partai Komunis Tiongkok, silahkan membaca buku ‘Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis.

Juga pada 2 November tahun yang sama, Lee Teng-hui menulis surat dalam bahasa Jepang yang dikirim kepada Hakudai Jepang. Isinya memuji mereka yang ikut menyebarkan ‘Sembilan Komentar’ yang merupakan buku sumber kedamaian sejati. 

Lee Teng-hui  juga memuji mereka yang dengan berani menyatakan mundur dari keanggotaan Partai Komunis Tiongkok serta organisasi afiliasinya. (sin/rp)

Video Rekomendasi

Share

Video Popular