Epochtimes, oleh Wu Xin- Rezim Komunis Tiongkok terus berupaya untuk mengendalikan penduduknya dalam negeri. Ketika pandemi masih merajalela, mereka justru memanfaatkan kesempatan ini untuk memperluas pengaruh globalnya. 

Namun demikian, para elit AS mengungkapkan bahwa sejauh ini komunis Tiongkok belum mampu melampaui Amerika Serikat, mereka dalam banyak hal masih tertinggal di belakang Amerika Serikat. Sebagaimana kata pepatah : Walau maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai.

Belum lama ini, Robert Spalding, seorang pensiunan Brigadir Jenderal Angkatan Udara AS dan seorang pakar tentang masalah-masalah komunis Tiongkok mengatakan dalam sebuah wawancara dengan ‘Epoch Times’, bahwa rezim komunis Tiongkok memanfaatkan pandemi ini untuk memperkuat kontrolnya terhadap rantai pasokan global. Selanjutnya, berupaya untuk melepas tanggung jawabnya yang menyebabkan bencana global tersebut.

Komunis Tiongkok bahkan menyebarkan informasi palsu di luar negeri. Rod Wye, mantan kepala Studi Asia di Kantor Luar Negeri Inggris kepada CNN mengatakan bahwa ada 3 tujuan utama yang berada di balik propaganda eksternal komunis Tiongkok : Mempromosikan keberhasilan Beijing dalam mengendalikan virus komunis Tiongkok, kemudian untuk mengirim pasokan dan pakar medis ke seluruh penjuru dunia. Untuk menutupi asal-usul virus. Untuk “menyebarkan kebingungan” dalam menanggapi negara lain, demi meningkatkan kredibilitas komunis Tiongkok dengan menghancurkan kredibilitas pihak lain.

Namun, strategi rahasia komunis Tiongkok menggunakan pandemi untuk menjual narasinya sendiri dapat dibongkar oleh para elit Barat. 

Michael Schuman adalah penulis buku ‘Superpower Interrupted : The Chinese History of the World’ (Impian Negara Adidaya Terhalang : Sejarah Dunia Tiongkok). Baru-baru ini, artikelnya ‘Don’t Believe the China Hype’ diterbitkan di situs web majalah The Atlantic. Michael menunjukkan bahwa meskipun komunis Tiongkok kelihatannya sedang menggantikan posisi Amerika Serikat sebagai negara adikuasa ekonomi utama dunia, tetapi kenyataannya jauh dari itu.

Michael Schuman percaya bahwa meskipun komunis Tiongkok mengalami pertumbuhan pesat selama 40 tahun, namun, Amerika Serikat masih mempertahankan keunggulan besar di hampir semua aspek. 

Berikut ini adalah kelima keunggulan Amerika Serikat yang berada di luar jangkauan komunis Tiongkok.

Pertama, Output ekonomi bruto dan kekayaan rumah tangga

Pada tahun 2018, total nilai output ekonomi AS adalah USD. 20,5 triliun, jauh lebih tinggi daripada total nilai output ekonomi komunis Tiongkok yang USD. 13,6 triliun. Jika dihitung per kapita, jaraknya bahkan semakin kentara.

Derek Scissors, seorang ahli ekonomi Tiongkok di American Enterprise Institute (AEI) melalui laporannya menunjukkan bahwa kekayaan rumah tangga Amerika sampai pertengahan tahun 2019 diperkirakan mencapai USD. 106 triliun, sedangkan komunis Tiongkok hanya memperoleh USD. 64 triliun.

Kedua. Status Amerika Serikat sebagai pusat keuangan global

Komunis Tiongkok tidak dapat menyaingi status AS sebagai pusat keuangan global. Ketika epidemi terjadi, investor di seluruh dunia akan memilih untuk membeli obligasi AS. Sedangkan renminbi masih menjadi mata uang kecil sampai sekarang.

Menurut data dari jaringan layanan keuangan ‘Swift’ pada bulan April, renminbi hanya menyumbang 1% dari pembayaran internasional, sedangkan dolar AS menyumbang 48%.

Ketiga. Sulit bagi perusahaan Tiongkok untuk menjiplak pesawat terbang dan produk chip AS 

Michael Schuman menunjukkan, banyak keunggulan milik Amerika Serikat yang diabaikan oleh dunia luar, seperti pesawat terbang dan chip, dan ini adalah produk yang sulit ditiru oleh komunis Tiongkok. 

Dalam tulisannya disebutkan : Walaupun telah menjalani usaha keras selama 25 tahun dengan dukungan finansial yang besar dari negara (komunis Tiongkok), Dalam hal desain dan pengetahuan, perusahaan semikonduktor Tiongkok masih jauh di belakang perusahaan semikonduktor Amerika Serikat.

Beijing menginvestasikan banyak uang dalam mengembangkan pesawat terbang komersial untuk bersaing dengan Boeing dan Airbus, tetapi proyek ini telah mengalami penundaan yang cukup lama dan kegagalan teknis yang memalukan.

Komunis Tiongkok juga menginvestasikan banyak uang di bidang kecerdasan buatan, tetapi Amerika Serikat masih berkinerja lebih baik dalam mengembangkan alat, teori, dan chip yang mendukung AI dan komputer. Sedangkan komunis Tiongkok mungkin masih mengalami kesulitan untuk melakukan ini.

Sebuah studi dari Center for Strategic & International Studies menunjukkan : Tiongkok masih jauh tertinggal dalam mencapai kemandirian di bidang ini (semikonduktor). Bahkan status kepemimpinannya pada bidang mana pun.

Center for Strategic & International Studies menyimpulkan : Komunis Tiongkok masih jauh dari mencapai kemandirian keseluruhan dari setiap departemen khusus di bidang ini, apalagi posisi kepemimpinan. Perusahaan raksasa teknologi Amerika Serikat seperti Facebook, Alphabet dan Twitter adalah perusahaan yang benar-benar mengglobal, mereka berhasil menarik pengguna dari seluruh penjuru dunia.

Keempat. Kualitas universitas AS berada di luar jangkauan universitas di Tiongkok

Dalam bidang pendidikan tinggi, kualitas universitas-universitas Amerika Serikat berada di luar jangkauan universitas-universitas di Tiongkok. Michael Schuman menunjukkan bahwa di depan universitas Tiongkok terbaik (Universitas Peking) yang masuk ranking no. 92 dalam daftar universitas terbaik dunia, terdapat 50 buah universitas AS.

Saat ini, terdapat lebih dari 360.000 orang mahasiswa asal daratan Tiongkok yang belajar di universitas-universitas Amerika Serikat. Para pejabat intelijen AS juga menyatakan bahwa, komunis Tiongkok memanfaatkan program rekrutmen bakat seperti Program Seribu Talenta. Tujuannya untuk mencuri rahasia akademik dari universitas dan lembaga penelitian AS.

Kelima, Intervensi komunis Tiongkok melemahkan pertumbuhan ekonomi

Michael Schuman menunjukkan, kontrol dan intervensi pemerintah Tiongkok dalam ekonomi Tiongkok ikut melemahkan pertumbuhan ekonomi mereka. 

Birokrat mengalokasikan pinjaman bank, subsidi, dan sumber daya lainnya langsung ke perusahaan milik negara yang terkenal tidak produktif dan tidak efisien, perusahaan “zombie” yang terus merugi, dan proyek infrastruktur yang tidak berguna. 

Michael menulis : Dengan menyusutnya tenaga kerja, sistem kesejahteraan yang tidak memadai, dan industri real estat yang lemah yang disebabkan oleh kebijakan satu anak, maka komunis Tiongkok mungkin harus bersiap untuk menghadapi gejolak ekonomi bukannya lepas landas ekonomi.

Profesor Andrew Lin dari Universitas Chang Gung menerbitkan artikel analitis pada 15 Desember tahun lalu, menyatakan bahwa dengan adanya pemerintah Tiongkok melakukan intervensi dalam perekonomian. Sehingga tidak dapat memberikan permainan penuh pada fungsi harganya, yaitu, ia tidak dapat menyesuaikan penawaran dan permintaan melalui perubahan harga pasar di bawah persaingan bebas. 

Di bawah sistem otokratis komunis, efisiensi alokasi sumber daya ekonomi bahkan lebih buruk. Masalah-masalah kelembagaan ini telah berlangsung selama beberapa dekade dan terus ditutup-tutupi yang berdampak besar pada ekonomi, bahkan di luar imajinasi masyarakat. (Sin/asr)

Video Rekomendasi

Share

Video Popular