Alexander Zhang

Seorang pejabat senior di pemerintahan Jerman menyerukan kepada Negara-negara Eropa menunjukkan persatuan yang lebih besar terkait hubungannya dengan Tiongkok. Pasalnya, “Tak ada satu pun negara di Eropa yang mampu secara permanen membela kepentingan dan nilai-nilainya melawan Tiongkok secara sendiri.”

“Kita sangat membutuhkan lebih banyak tindakan Eropa dalam berurusan dengan Tiongkok,” kata Michael Roth, menteri Jerman untuk urusan Eropa yang menekankan “kurangnya persatuan adalah kelemahan kita.”

Tiongkok dinilai “lawan sistemik” Uni Eropa dan “semakin  ofensif,” demikian tulisan Roth dalam opininya di media Jerman, Der Spiegel pada Minggu 2 Agustus 2020.

Tindakan rezim komunis Tiongkok di Hong Kong, Xinjiang, dan Laut Cina Selatan menunjukkan  “Tak takut untuk melanggar prinsip-Prinsip utama tatanan internasional berbasis aturan di hadapan mata dunia.”

Roth menegaskan : “Kita tak boleh takut melawan ketika menghadapi masalah sulit seperti hak asasi manusia, keamanan dan teknologi.”

Strategi Divide and Conquer

“Kepemimpinan otoriter, negara satu partai tak melewatkan kesempatan untuk menciptakan perpecahan antara negara-negara anggota Uni Eropa dan melemahkanya,” tulis Roth.

Uni Eropa kini semakin waspada terhadap Strategi Divide and Conquer rezim Komunis Tiongkok. Pada  Mei, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell menuding Beijing “mempermainkan” perbedaan di antara negara-negara anggota Uni Eropa.

Perpecahan di Eropa  membuat sulit untuk mengadopsi strategi terpadu dan merespon tantangan yang ditimbulkan oleh Tiongkok, menurut laporan terbaru dari Royal United Services Institute (RUSI), sebuah lembaga pemikir yang berbasis di London.

Roth menambahkan, Uni Eropa membutuhkan “Kebijakan Tim Eropa” yang konsisten tentang Tiongkok. Ia menambahkan, tindakan itu adalah prioritas enam bulan selama kepresidenan Jerman di Uni Eropa  yang dimulai pada 1 Juli.

Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker dan pemimpin Tiongkok, Xi Jinping, di istana presiden Elysee di Paris pada 26 Maret 2019. (Sumber Foto : www.elysee.fr/Istana Kepresidenan Prancis)

Uni Eropa diserukan harus memperkuat pertukaran di tingkat Eropa dan “menjauh dari hubungan bilateralisasi yang sengaja diupayakan oleh Beijing.”

Di bawah pengaruh Beijing, sejumlah negara kecil Uni Eropa, seperti Yunani, Hongaria, dan Portugal,  berulang kali memblokir kebijakan Uni Eropa tentang Tiongkok.

“Sayangnya, kami juga melihat bahwa iming-iming berbisnis dengan Tiongkok terkadang menantang fondasi nilai Eropa, Uni Eropa harus lebih tegak di dunia daripada hanya anggota lowest common denominator,” katanya.

Saat ini, Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Umum Uni Eropa memerlukan suara bulat. Namun, menurut Roth, Jerman berkomitmen mengubahnya menjadi “pengambilan keputusan mayoritas yang memenuhi syarat,”  akan mencegah sejumlah kecil negara-negara anggota memblokir kebijakan luar negeri Uni Eropa.

Mempertaruhkan Keamanan

Roth dalam opininya menunjuk soal kecenderungan Beijing untuk menggunakan ketergantungan ekonomi sebagai pengaruh dalam politik kekuasaan.

“Krisis Coronavirus menjadi Wake-up call,” tulis Roth. Tulisannya mengacu pada pandemi virus  Komunis Tiongkok secara global yang meletus di Wuhan akhir tahun lalu. Dikarenakan menjadi “pengingat yang menyakitkan bagi kami tentang betapa bergantungnya Eropa  di wilayah tertentu. “

Menteri Negara Jerman untuk Eropa Michael Roth memberikan pernyataan pers di Kementerian Luar Negeri di Berlin pada 16 Juni 2020. (Markus Schreiber / Pool / AFP via Getty Images)

Pada masa-masa awal krisis, rezim Tiongkok mengirim pasokan medis ke banyak negara sebagai upaya memperbaiki citranya dan menjadikan dirinya sebagai pemimpin dalam perang melawan pandemi, daripada seabgai pihak yang bertanggung jawab atas penyebaran virus itu.

Pada Maret lalu, Josep Borrell, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, memperingatkan masyarakat Eropa untuk berhati-hati terhadap “perjuangan Tiongkok untuk memengaruhi melalui spin doctors dan ‘politik murah hati.'”

Roth juga menyebutkan jaringan seluler 5G Eropa, di mana keterlibatan raksasa telekomunikasi Huawei berada di bawah peningkatan pengawasan.  Dia menyebutkan keprihatinan tentang “kepercayaan pabrikan dari negara ketiga, termasuk Tiongkok. Tak kurang dari keamanan warga kita yang dipertaruhkan di sini. “

Amerika Serikat dan Australia sama-sama melarang Huawei, dengan alasan masalah keamanan. Inggris mengikutinya pada 14 Juli 2020, menarik keputusan sebelumnya untuk mengizinkan perusahaan itu memainkan peran terbatas.

Roth tak menyebut nama Huawei, tetapi mengatakan satu-satunya solusi logis adalah “mengutamakan dan mengedepankan pemasok domestik kami”. Uni Eropa juga harus menggunakan kebijakan perdagangan dan pasar tunggalnya secara efektif  “sebagai tuas” mempertahankan nilai dan kepentingan Eropa. (asr)

Mary Clark, Cathy He, dan Ella Kietlinska berkontribusi pada laporan ini.

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular