Oleh Dr. Xie Tian

Daratan Tiongkok semenjak merebaknya pandemi virus Komunis Tiongkok, masa depan ekonomi semakin suram. Tadinya Partai Komunis Tiongkok masih berharap di saat negara di dunia letih berjuang melawan pandemi dan ekonomi tengah merosot,  Komunis Tiongkok  yang akan dapat membuat Tiongkok menjadi satu-satunya negara unggul. 

Tapi kenyataan tidak demikian. Di Beijing kembali merebak pandemi gelombang kedua, dan lebih dari setengah wilayah Tiongkok dihantam banjir. Sementara pasar dunia yang terus tiarap, memaksa Partai Komunis Tiongkok  menurunkan ekspektasinya, dari “enam stabilitas” berubah menjadi “enam perlindungan.” Dari membeber dagangan di kaki lima untuk menstimulus ekonomi berganti menjadi “sirkulasi ekonomi dalam negeri.”

Sekarang ada lagi kabar yang menyebutkan, bahwa pejabat Partai Komunis Tiongkok telah mulai melakukan “enam persiapan.” Mulai mempersiapkan jalan keluar yang terakhir.

Karena pemerintahan Amerika Serikat semakin merasa jijik terhadap Tiongkok. Lagipula  pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump telah kehilangan kepercayaan bahwa Partai Komunis Tiongkok akan merealisasikan kesepakatan dagang tahap pertama, juga tak berniat mencari kesepakatan tahap kedua. Kecepatan lepasnya keterkaitan Amerika Serikat dengan Tiongkok secara menyeluruh semakin bergulir pesat. 

Ekonomi Tiongkok yang merosot drastis dan kondisi masyarakatnya membuat petinggi Partai Komunis Tiongkok terus menerus mundur dari sikap kerasnya, dan meminta ampun. 

Komisi Luar Negeri Partai Komunis Tiongkok sekaligus Menteri Luar Negeri, Wang Yi telah dikabarkan “mengembalikan pada jalurnya” hubungan antara Tiongkok dengan Amerika Serikat, kembali memberi janji, seperti di bidang moneter. 

Di bidang dengan menghapus pembatasan jumlah saham modal asing pada perbankan, rasio kepemilikan saham modal asing pada perusahaan sekuritas, perusahaan pengelola dana investasi, perusahaan berjangka, dan perusahaan asuransi dilonggarkan menjadi 51%. Tahun depan akan menghapus rasio saham seluruh modal asing di sektor finansial. 

Bahkan sektor infrastruktur krusial Partai Komunis Tiongkok seperti jaringan Kereta Api utama, dan jaringan listrik, juga akan dihapus pembatasannya. Dengan demikian, jika janji tersebut benar, berarti tingkat penurunan dan memburuknya perekonomian Tiongkok mungkin jauh lebih besar daripada yang diprediksi oleh kalangan luar.

Faktanya, Amerika Serikat melepaskan keterkaitan dengan Komunis Tiongkok, kemungkinan mundurnya Amerika dari WTO juga akan semakin besar. Perwakilan dagang Amerika Serikat, Robert Lighthizer mengatakan, perdagangan dunia membutuhkan suatu lembaga WTO yang multilateral, atau membutuhkan serangkaian kesepakatan bilateral. Keduanya tidak bisa eksis secara bersamaan. 

Amerika Serikat telah menandatangani kesepakatan tripartite dengan Kanada dan Meksiko, juga segera akan membuat kesepakatan dengan badan ekonomi utama di Asia. Uni Eropa juga telah menandatangani lebih dari 70 kesepakatan bilateral. Sebagai negara ekonomi non-pasar, Tiongkok menghadapi situasi terpinggirkan oleh negara-negara ekonomi pasar di dunia.

Pergesekan antara Tiongkok dengan India di perbatasan barat, pertikaian mematikan yang dilakukan dengan batu dan tongkat, membuat Partai Komunis Tiongkok  terkejut mendapati, awalnya hanya berniat mengalihkan perhatian dunia dengan sedikit menghukum India.

Tapi tak dinyana reaksi India begitu besar, bahkan tidak segan-segan mengobarkan perang total membalas Tiongkok. Tapi masyarakat internasional termasuk Amerika Serikat dan Rusia, ternyata berpihak pada India! 

Di tengah situasi internasional seperti ini, Partai Komunis Tiongkok jelas merasakan ancaman dari segala aspek mulai dari politik, ekonomi, militer, dan diplomatik! Apalagi ancaman tersebut datang dari berbagai negara di dunia! Oleh karena itu pula, pejabat tinggi Partai Komunis Tiongkok kemudian telah mengemukakan “enam persiapan besar”.

Mantan wakil direktur Departemen Hubungan Internasional Zhou Li menuliskan, “Harus secara aktif melakukan enam persiapan besar terhadap situasi di luar yang memburuk.” 

Enam hal yang “harus dipersiapkan dengan baik” itu masing-masing adalah: 

  1. Hubungan Amerika Serikat dengan Tiongkok yang semakin memburuk dan pertikaian yang semakin meningkat. 
  2. Permintaan luar negeri menyusut, rantai industri/ pasokan terputus.
  3. Pandemi virus Komunis Tiongkok semakin normal, virus dan manusia eksis bersamaan.
  4. Terlepas dari supremasi USD, realisasikan RMB lepas kaitan dengan USD.
  5. Krisis pangan dunia meletus.
  6. Kekuatan terorisme internasional bangkit kembali.

Istilah para pejabat Partai Komunis Tiongkok “mempersiapkan”, adalah kata ganti bagi kekhawatiran dan ketakutan mereka. Tentu mereka bisa “mempersiapkan”, tapi apakah persiapan itu efektif? 

Diprediksi saat ini tidak ada seorang pun di Tiongkok yang bisa memberikan jawaban yang pasti. Tiongkok telah dirusak oleh Partai Komunis Tiongkok sampai ke tahap seperti ini, segalanya ditutupi dengan kebohongan dan penipuan, mulai dari fakta pandemi hingga air bah. Siapa pun tidak kuasa memutar-balikkan situasi, tidak bisa kembali lagi.

Ini adalah hal yang sudah sangat dipahami oleh masyarakat di luar Tiongkok dan sebagian rakyat Tiongkok yang menyadarinya. Hanya saja segelintir pejabat tinggi Partai Komunis Tiongkok mungkin masih belum memahami, juga tidak ingin memahami, dan masih terus berpura-pura bodoh.

Hubungan Amerika Serikat dengan Komunis Tiongkok  terus memburuk, konflik terus meruncing. Ini adalah hal yang sudah mutlak. Partai Komunis Tiongkok pun tidak berdaya melakukan persiapan apa pun. Mereka hanya bisa berharap Presiden Trump kalah dalam pemilu dan digantikan oleh seorang Biden yang “mungkin” tidak akan bersikap begitu keras terhadap Partai Komunis Tiongkok.

Namun itu juga hanya bertepuk sebelah tangan, kini Partai Komunis Tiongkok pun mungkin telah melupakan harapan ini. Permintaan pasar di luar Tiongkok menyusut dan terputusnya rantai industri/ pasokan, sampai beralihnya rantai industri, Partai Komunis Tiongkok sama sekali tidak berdaya dalam hal ini. 

Tiongkok sudah tidak berdaya untuk terus menyerap dan mencerna investasi asing, “pasar Tiongkok” yang tadinya dimanfaatkan untuk menarik modal internasional, sekarang sudah dianggap sebuah gelembung busa raksasa semata.

Virus Partai Komunis Tiongkok dan normalisasi pandemi, eksistensi bersama virus dengan  manusia, serta datangnya gelombang kedua, adalah masalah yang memang sewajarnya dikhawatirkan masyarakat dunia. 

Yang lebih dicemaskan Komunis Tiongkok atas masyarakat dunia, yang masih dikhawatirkan adalah penyelidikan negara lain terhadap Partai Komunis Tiongkok dan menuntut pertanggung jawaban serta membuat perhitungan. 

Baru-baru ini pakar virologi Tiongkok yang telah membelot dan mengungkap rahasia, menjadi tekanan yang semakin besar bagi Partai Komunis Tiongkok. Melepaskan diri dari supremasi mata uang USD, adalah mimpi Partai Komunis Tiongkok di siang bolong. Melepaskan keterkaitan RMB dari USD, adalah mimpi buruk Partai Komunis Tiongkok di siang bolong. Supremasi USD bisa diperkirakan, untuk jangka waktu yang sangat panjang ke depan masih akan terus eksis, dan setelah kekuasaan Partai Komunis Tiongkok runtuh, masih akan terus menguat.

Lepasnya kaitan RMB dengan USD, seharusnya akan terjadi setelah mata uang HKD lepas kaitan dengan USD, yang juga akan terjadi saat perang finansial dimulai nantinya. 

Permasalahannya adalah, kemungkinan sebelum perang finansial dimulai secara menyeluruh, Partai Komunis Tiongkok sudah tidak bisa bertahan lagi secara politik. Pecahnya krisis pangan yang bersifat global, juga merupakan hal yang semakin memungkinkan. Entah karena parahnya banjir bandang di Tiongkok sehingga panen pangan sedikit, atau karena negara sekitarnya membatasi ekspor bahan pangan, sudah terlihat tanda-tandanya. 

Jika krisis pangan global benar-benar terjadi, mungkin pengecualian bagi Amerika Serikat, tapi walaupun Amerika berniat membantu negara lain, ditakutkan sudah terlambat, bagaimanapun bahan pangan bukanlah sesuatu yang bisa dihasilkan dalam satu malam. 

Mengenai yang dikatakan Partai Komunis Tiongkok tentang “kebangkitan kembali kekuatan terorisme internasional”, yang dimaksud bukanlah  kekuatan  teroris internasional yang sebenarnya, karena justru Partai Komunis Tiongkok sendirilah kekuatan terorisme internasional tersebut. 

Hal yang dimaksud Partai Komunis Tiongkok adalah suku Uighur di Xinjiang yang bangkit melakukan perlawanan dengan dibantu kekuatan dari luar yakni Gerakan Turki Timur Merdeka. Jika hancurnya rezim Partai Komunis Tiongkok mengakibatkan Tiongkok terpecah belah, setiap provinsi bangkit melawan, masalah Xinjiang mungkin akan terjadi, tapi sepertinya bukan merupakan hal yang diprioritaskan masyarakat.

Jadi, enam persiapan besar Partai Komunis Tiongkok, persis telah menampakkan enam krisis sesungguhnya yang sedang dihadapi Komunis Tiongkok, mulai dari krisis diplomatik, ekonomi, finansial, kesehatan, pangan, sampai krisis sosial. 

Menteri Luar Negeri Komunis Tiongkok, Wang Yi baru-baru ini mengatakan, selain menunjukkan mundurnya dan sikap Partai Komunis Tiongkok yang melemah memohon ampun, juga menunjukkan kartu di tangan Partai Komunis Tiongkok yang bisa dimainkan dengan Amerika sudah tidak banyak. 

Menurut Wang Yi, Partai Komunis Tiongkok  tidak berniat menantang apalagi menggantikan Amerika Serikat. Tidak berniat melawan Amerika Serikat di segala aspek. Tiongkok “mendambakan” dunia yang damai dan stabil.

Pernyataan Wang Yi yang memperlihatkan sikap lemah itu, menandakan setelah Partai Komunis Tiongkok meninggalkan strategi merendahkan diri (sejak zaman Deng Xiaoping), belum sempat lama menyombongkan diri. Tidak bisa tidak takluk dan terus  “mengelus jenggotnya sendiri.”

Ketika Wang Yi mengatakan Amerika tidak seharusnya menuntut Tiongkok untuk “memberikan pemahaman dan dukungan bagi Amerika” dalam masalah bilateral dan masalah dunia, sebenarnya ia memberitahu dunia, kartu Korea Utara, kartu Iran atau kartu Venezuela yang bisa dimainkan oleh Partai Komunis Tiongkok, sudah tidak ada nilai guna. Bahkan telah sama sekali kehilangan nilainya. 

Sikap pejabat Partai Komunis Tiongkok yang seperti bunglon yang selalu berganti pernyataan dan sikap, juga membuat Amerika Serikat merasa sangat terkejut. Tapi takluknya Partai Komunis Tiongkok, ibarat serigala perang yang kabur dengan menjepitkan ekor di sela kaki belakang, telah menjelaskan kondisi sebenarnya mereka saat ini. 

Sempat belum lama ini, Partai Komunis Tiongkok masih sesumbar mengatakan, “Dialog, maka pintu terbuka lebar; perang, akan dilayani sampai akhir!” Belum lagi selesai berucap, sikapnya sudah berubah lagi. 

Tapi Amerika tidak bodoh, Amerika Serikat tidak hanya bisa memahami perbedaan dalam tulisan dan perkataan, bahkan bahasa tubuh para pejabat Partai Komunis Tiongkok pun diteliti dengan seksama. Amerika seharusnya telah melihat, rezim Partai Komunis Tiongkok sekarang sudah menemui jalan buntu dan tidak punya jurus apa pun lagi.

(sud/ rp)

(Penulis adalah Ketua Profesor Sekolah Bisnis Aiken, Universitas Carolina Selatan)

Video Rekomendasi

Share

Video Popular