oleh Lin Yan

Reuters melaporkan pada hari Kamis, 13 Agustus 2020, bahwa jika ketegangan hubungan komunis Tiongkok dengan Amerika Serikat terus meningkat, dikhawatirkan mata uang renminbi akan ditendang keluar dari dolar global oleh AS, yang mana dapat mengakibatkan konsekuensi yang menghancurkan bagi komunis Tiongkok. Meskipun di masa lampau “serangan nuklir finansial” ini dianggap hampir tidak mungkin terjadi, namun sekarang sangat berpotensi.

Laporan menyebutkan bahwa pejabat dan ekonom komunis Tiongkok belakangan ini, kerap berkumpul untuk membahas skenario terburuk yang dapat diakibatkan dari situasi memburuknya hubungan Tiongkok – AS. Pembahasan itu tentang, Bagaimana sampai mata uang renminbi dikeluarkan dari sistem clearing melalui dolar AS, atau jika pihak Washington membekukan obligasi AS yang dimiliki komunis Tiongkok ?

Beijing mempersiapkan opsi pilihan jika ditendang, namun internasionalisasi RMB kurang memuaskan

Mereka menyerukan pengurangan ketergantungan terhadap dolar AS. Ada juga dari mereka yang mengusulkan untuk menggunakan mata uang renminbi atau mata uang digital renminbi, dalam perhitungan vaksin buatan Tiongkok yang diekspor ke negara-negara lain. Dengan demikian diharapkan dapat terhindar dari perhitungan clearing melalui dolar AS.

Ding Shuang, Direktur Forum Ekonomi Tiongkok mengatakan, bahwa internasionalisasi renminbi dulunya adalah sebaiknya dilakukan, tetapi sekarang telah menjadi tidak bisa tidak dilakukan.

Namun, kebijakan internasionalisasi renminbi telah diusulkan selama bertahun-tahun, tetapi kemajuan aktualnya tidak memuaskan.

Karena kontrol modal yang ketat dari komunis Tiongkok sendiri itu sudah merupakan penghalang bagi internasionalisasi renminbi. Selain itu, karena semakin banyak negara yang menolak proyek One Belt One Road komunis Tiongkok, sehingga urusan menginternasionalisasikan renminbi akhirnya mengalami stagnasi.

Hingga kuartal pertama tahun 2020, mata uang renminbi hanya menyumbang sekitar 2% dari cadangan devisa global, yang jauh dari ukuran ekonomi Tiongkok.

Ding Xuang mengatakan bahwa ancaman putus gandengan antara mata uang AS dengan renminbi kian jelas tampak, bahkan bisa segera terjadi. Beijing tidak punya pilihan selain mempersiapkan diri untuk berada di luar sistem SWIFT atau Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunications.

Sanksi mungkin termasuk membekukan obligasi AS yang dimiliki komunis Tiongkok

Yu Yongding, ekonom di Akademi Ilmu Sosial Tiongkok, wadah pemikir teratas Partai Komunis Tiongkok mengatakan kepada Reuters : “Perang finansial yang luas sudah mulai … jurus paling mematikan belum digunakan”.

Dia mengatakan bahwa pemisahan total antara komunis Tiongkok dengan Amerika Serikat bukanlah tidak mungkin. Sanksi berat AS mungkin saja termasuk membekukan obligasi AS yang dimiliki oleh komunis Tiongkok.

Yu Yongding adalah mantan anggota Komite Kebijakan Moneter Bank Sentral Tiongkok. Setahun yang lalu, ia menerbitkan sebuah artikel di jurnal AS ‘Project Syndicate’ (berjudul: Langkah Trump Berikutnya dalam Perang Dagang dengan Tiongkok). Ia memprediksikan bahwa jika perang dagang meningkat menjadi perang mata uang, Ekonomi Tiongkok akan terpukul keras, dan komunis Tiongkok hampir tidak memiliki ruang untuk bermanuver.

Ia juga mengatakan bahwa prospek komunis Tiongkok dalam menanggapi sanksi keuangan AS juga suram. “Jika lembaga keuangan komunis Tiongkok dibatasi dan tidak diizinkan menggunakan dolar AS dan hak atas berbagai layanan penting, seperti dikeluarkan oleh sistem SWIFT dan sistem CHIPS atau clearing house interbank payment system di New York, maka sangat sedikit ada perusahaan komunis Tiongkok yang mampu bertahan dengan hukuman ini, Dan pemerintah Tiongkok nyaris tidak punya pilihan lain dalam hal ini”.

Jika renminbi ditendang keluar dari SWIFT itu adalah pukulan yang fatal

Jika Washington mengambil tindakan untuk mengeluarkan komunis Tiongkok dari sistem clearing lewat dolar AS, itu akan menjadi pukulan yang fatal. Karena sebagian besar transaksi lintas batas Tiongkok dilakukan melalui sistem SWIFT yang dapat dipengaruhi oleh Amerika Serikat. 

Setelah koneksi tersebut terputus, transaksi keuangan antara Tiongkok dengan dunia juga akan terputus. Bahkan, pejabat ekonomi Partai Komunis Tiongkok pun secara terbuka mengakui hal ini.

Fang Xinghai, wakil ketua Komisi Pengaturan Sekuritas Tiongkok mengatakan dalam forum ekonomi pada bulan Juni lalu bahwa, Tiongkok rentan terhadap kemungkinan sanksi yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat.

Fang Xinghai berkata : “Hal seperti itu telah terjadi pada banyak perusahaan dan lembaga keuangan Rusia.”

Guan Tao, mantan kepala Departemen Neraca Pembayaran Internasional dari Lembaga Administrasi Valuta Asing Negara Tiongkok, dan sekarang menjabat sebagai kepala ekonom Bank of China Securities juga mengatakan bahwa, Amerika Serikat dapat mendepak Tiongkok keluar dari sistem penyelesaian perhitungan lewat dolar AS. (sin/asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular