Simone Gao

Hai, selamat datang di China Angle. Saya Simone Gao. Tiongkok dan Iran berada di tahap akhir penandatanganan kesepakatan senilai USD 400 miliar, yang menantang sanksi Amerika Serikat yang saat ini dijatuhkan pada Iran. Kesepakatan ini terjadi pada saat Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok melakukan banyak latihan militer besar-besaran di Laut China Selatan dan Laut Bohai dan pesawat militer Tiongkok sering beroperasi di wilayah udara dekat Taiwan.

Apa niat kepemimpinan Partai Komunis Tiongkok di daerah ini? Apakah Amerika Serikat memiliki kemauan dan kemampuan untuk menghalangi Partai Komunis Tiongkok dan tindakannya di Laut China Selatan dan Taiwan? Kami akan mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan ini  episode China Angle hari ini.

Kita mulai dengan kepentingan Tiongkok di Iran. Menteri Luar Negeri Iran baru-baru ini menegaskan bahwa pemerintah Iran sedang dalam tahap akhir peninjauan atas perjanjian yang diusulkan selama 25 tahun antara Teheran dengan Beijing yang melibatkan investasi Tiongkok sebesar USD 400 miliar. Sebuah dokumen yang bocor memberikan rincian lebih lanjut mengenai perjanjian tersebut, yang mencakup investasi Tiongkok sebesar USD 280 miliar di industri minyak dan gas Iran dan USD 120 miliar di bidang produksi dan infrastruktur transportasi.

Tiongkok juga akan mengembangkan infrastruktur 5G di Iran dan menjalin kerjasama pertahanan dan berbagi intelijen yang lebih erat. Pada gilirannya, Iran akan menyerahkan akses kepada Tiongkok untuk pasokan minyak mentah dan gas dengan harga diskon selama 25 tahun berikutnya. Hasilnya adalah apa yang kedua rezim sebut sebagai “kemitraan strategis.”

Mengapa tiba-tiba Partai Komunis Tiongkok memilih untuk menginvestasikan USD 400 miliar di Iran?

Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu mempertimbangkan urusan ekonomi Partai Komunis Tiongkok dengan Amerika Serikat. Pada tahun 2018, Trump menarik Amerika Serikat keluar dari kesepakatan nuklir Iran dan kembali menjatuhkan sanksi terhadap Iran. Sanksi tersebut diberlakukan untuk mencegah Iran mengembangkan kemampuan senjata nuklir dan melanjutkan sponsor terhadap terorisme dan pelanggaran hak asasi manusia yang meluas yang dilakukan oleh Iran. 

Berdasarkan Undang-Undang Sanksi Iran, sanksi tersebut juga diterapkan untuk semua negara yang membeli minyak dari Iran. Negara-negara seperti Tiongkok, Jepang, dan India diberi waktu  pembebasan selama enam bulan dari sanksi ini, dan sementara Jepang dan India benar-benar menghentikan impor minyak Iran, Tiongkok tidak menghentikan impor minyak Iran.

Pada bulan Juli 2019, pemerintah Amerika Serikat memberi sanksi kepada perusahaan Tiongkok Zhuhai Zhenrong Company Limited dan kepala eksekutifnya yang dengan sengaja membeli atau memperoleh minyak dari Iran setelah pengabaian sanksi tersebut berakhir.

Selama beberapa dekade, rezim Tiongkok menjadi mitra dagang utama Iran dan pasar utama untuk ekspor minyak mentah Iran. Partai Komunis Tiongkok juga memfasilitasi modernisasi dan agresi militer Iran di Timur Tengah melalui  kerjasama penjualan senjata dan pertahanan. Padahal, tindakan tersebut sebelumnya sudah dilakukan di balik layar.

Share

Video Popular