Oleh James Gorrie

Pimpinan Partai Komunis Tiongkok tahu betul apa yang terjadi pada rakyat Tiongkok yakni kekurangan makanan. Itulah alasan di balik pengumuman resmi terbaru  Beijing yang kejam kepada rakyat Tiongkok, disebut Kampanye Piring-Piring Bersih. Begitu diberlakukan, undang-undang baru tersebut akan membatasi jumlah makanan yang boleh dipesan orang di restoran, bahkan juga membatasi jumlah makanan yang boleh dikonsumsi oleh warganegara Tiongkok di dalam rumah tangganya sendiri.

Langkah totaliter terbaru oleh Partai Komunis Tiongkok, menyertai penangkapan yang sangat umum dilakukan Beijing terhadap raja media Hong Kong Jimmy Lai, yang ditetapkan rezim Tiongkok sebagai seseorang yang mengancam keamanan nasional. 

Kedua langkah tersebut mungkin tampak tidak berhubungan. Namun ternyata, kebebasan berbicara maupun kebebasan makan dianggap menimbulkan risiko keamanan nasional oleh Partai Komunis Tiongkok.

Sayangnya, Tiongkok mengalami kenaikan harga pangan yang bermakna, terutama daging babi, yang merupakan makanan pokok nasional. 

Pada bulan Juli, terjadi hampir 90 persen kenaikan harga daging babi dari tahun ke tahun. Sedangkan harga makanan secara keseluruhan naik 10 persen selama periode waktu yang sama.

Partai Komunis Tiongkok memang takut akan kekurangan makanan dan inflasi yang menyertainya, dapat menyebabkan kerusuhan sipil yang meluas di Tiongkok. Terlebih lagi, kekurangan makanan juga diperkirakan tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Faktanya, kekurangan makanan akan bertambah buruk.

Pihak berwenang pemerintah Komunis Tiongkok dan outlet media resmi komunis Tiongkok mengutip pemborosan pangan oleh warga biasa sebagai alasan kebijakan baru.

Pada dasarnya, mereka menyalahkan rakyat Tiongkok atas kekurangan makanan, sementara dengan sengaja mengabaikan penyebab sebenarnya. Sebagian kesalahan terletak pada Ibu Pertiwi, tetapi sebagian besar, Partai Komunis Tiongkok yang harus disalahkan.

Partai Komunis Tiongkok Membuat Bencana Alam Lebih Buruk

Pertimbangkan, misalnya, bahwa pada tahun 2019, Tiongkok kehilangan setidaknya setengah jumlah ternak babi karena tanggapan Beijing yang tidak ditatalaksana dengan baik terhadap flu babi Afrika.

Dengan Tiongkok memiliki lebih dari setengah populasi babi dunia, tidak cukup banyak babi di seluruh dunia untuk mengisi kekosongan itu. Di beberapa daerah, daging babi di pasar sama jarangnya dengan penampakan panda.

Selain flu babi Afrika, panen di Tiongkok terancam oleh serangan dari serangga yang rakus. Kawanan belalang gurun yang sangat parah telah memporak-porandakan Afrika Timur dan Pakistan. Kawanan belalang gurun mungkin juga segera berdampak pada produksi biji-bijian Tiongkok di Provinsi Yunnan, yang terletak di  barat daya Tiongkok. Tetapi belalang gurun bukan satu-satunya ancaman. Kawanan belalang dari jenis yang berbeda dari Laos sudah memakan hasil panen Tiongkok.

Ancaman yang bahkan lebih berbahaya muncul musim gugur ini yang diperkirakan berupa serbuan ulat grayak. Hama ulat grayak, yang berkembang biak lebih cepat dari belalang, pertama kali muncul di Tiongkok tahun lalu, tetapi kini memiliki pijakan di selatan dan barat daya Tiongkok. 

Pejabat pertanian Tiongkok, khawatir kerugian tanaman jagung dan gandum mungkin jauh lebih buruk daripada tahun 2019. Kemudian, ada banjir. Lebih dari 13 juta hektar lahan pertanian terendam air, menghancurkan setidaknya 5 persen produksi beras Tiongkok, dan mungkin kerugian adalah dua kali lipat jika banjir terus berlanjut. Kerugian  melebihi 21 miliar dolar AS dan telah mempengaruhi lebih dari 55 juta penduduk Tiongkok.

Menipisnya Cadangan Gabah dan Mengimpor Lebih Banyak

Akibatnya, impor makanan Tiongkok meningkat secara dramatis. Pada bulan Juli, impor biji-bijian Tiongkok sudah 21 persen lebih tinggi dari keseluruhan tahun sebelumnya. Tetapi hal itu mungkin belum cukup. Karena pandemi masih mempengaruhi dunia, mengimpor makanan mungkin kurang dapat diandalkan dari sebelumnya. Beberapa negara bahkan menghentikan ekspor makanan selama pandemi.

Ketegangan geopolitik dengan Amerika Serikat dan Australia juga menjadi sebuah faktor. Tiongkok mengimpor lebih dari 9 juta ton kedelai, sekitar 100.000 ton gandum, dan hampir 65.000 ton jagung dari Amerika Serikat. Tetapi bila hubungan terus memburuk, Amerika Serikat yang menjadi mitra dagang pertanian teratas bagi Tiongkok, dapat memutuskan ekspor makanan dari Amerika Serikat untuk Beijing, membuat Beijing lebih rentan terhadap kelangkaan makanan daripada sebelumnya.

Bendera merah lainnya adalah larangan terbaru dari Partai Komunis Tiongkok untuk memotret cadangan biji-bijian strategis Tiongkok. Pembatasan baru ini muncul setelah gambar jagung berjamur yang diambil di sebuah gudang penyimpanan di Provinsi Heilongjiang muncul di media sosial Tiongkok.

Secara khusus, cadangan makanan atau bahan bakar  yang strategis digunakan sebagai alat propaganda untuk meredakan kekhawatiran masyarakat. Tetapi per bulan Agustus, dua pihak berwenang pertanian yang utama, yaitu China Grain Reserves Corp dan National Grain Trade Center, telah melepaskan lebih banyak cadangan biji-bijian daripada yang digunakan sepanjang tahun 2019. 

Gambar persediaan makanan busuk yang mengganggu dan larangan foto berikutnya, hanya akan menimbulkan ketakutan dan menimbulkan keraguan di benak rakyat Tiongkok akan kemampuan Partai Komunis Tiongkok untuk memberi makan kepada mereka.

Pendapatan Menurun, Pengangguran Meningkat

Seolah-olah kekurangan pangan, inflasi harga, dan bencana alam tidak cukup mengganggu Komunis Tiongkok, pengangguran dua-digit dan  pendapatan konsumen yang menurun semakin menekan warganegara. Tetapi, keputusan Komunis Tiongkok untuk menambah kesengsaraan dengan meluncurkan Kampanye Piring-Piring Bersih mungkin tidak memberikan hasil yang diinginkan.

Adalah satu hal bagi generasi yang terlahir dalam kelangkaan, tetapi generasi berikutnya mengalami ketidakcukupan yang dipaksakan padanya. Dalam generasi yang terlahir dalam kelangkaan, tidak ada yang tahu kenyataan lain; penerimaan tanpa harapan mungkin semua orang tahu dari hari pertama hingga hari terakhir. Namun, bagi generasi berikutnya mengalami ketidakcukupan yang dipaksakan padanya, kemarahan, perbedaan pendapat, dan pemberontakan terhadap Komunis Tiongkok boleh jadi hasil yang jauh lebih mungkin terjadi.

Virus Komunis Tiongkok, Bumerang Sejarah Boomerang di Tiongkok

Virus Komunis Tiongkok yang menyebabkan penyakit COVID-19, cenderung adalah sebuah patogen yang disintesis, menurut Luc Montagnier, ahli virologi pemenang Hadiah Nobel yang menemukan HIV, dan Dr. Fang Chi-Tai dari Universitas Nasional Taiwan. 

Berasal dari Tiongkok, khususnya di Wuhan, dan kesalahan tatalaksana Komunis Tiongkok dengan sengaja atau yang tidak disengaja, terhadap wabah tersebut telah menjadi faktor utama kekurangan pangan nasional yang muncul.

Penyebabnya adalah sederhana dan dapat diprediksi. Langkah-langkah karantina di negara pengekspor pertanian menyebabkan berkurangnya makanan yang dipanen dan diekspor. 

Singkatnya, pandemi menjadi penyebab utama krisis pangan yang akan segera terjadi di Tiongkok. Efek politik dari kesalahan dan tanggapan Komunis Tiongkok yang tidak efektif terhadap pandemi, di mana Komunis Tiongkok meluncurkan Kampanye Piring-Piring terbaru yang bersifat menghina, tetap harus dilihat. Tetapi mungkin jauh lebih sulit untuk ditatalaksana daripada diantisipasi oleh para pemimpin Partai Komunis Tiongkok.

Mungkin ini hanya kebetulan, tetapi kelangkaan makanan yang terakhir kali menjadi penyebab utama masalah di Tiongkok yang terjadi pada tahun 1970-an, saat seorang pria dengan kekuasaan absolut memerintah bangsa Tiongkok dengan tangan besi, kamp pendidikan ulang, dan sebuah buku kecil kebijaksanaan merah. Tiongkok diasingkan seluruh dunia, dan Partai Komunis Tiongkok berada di ambang kehancuran, yang diselamatkan oleh campur tangan Barat di bidang ekonomi.

Saat ini, seorang pria tunggal yang lain memegang kekuasaan absolut di Tiongkok, yang mana dikuasai dengan tangan digital, kamp pendidikan ulang, dan buku hitam kecil kebijaksanaan pribadi versinya sendiri. Seperti pendahulunya, ia juga dengan cepat membuat Tiongkok diasingkan oleh  seluruh dunia,  didorong oleh penyalahgunaan atas sistem internasional oleh  Komunis Tiongkok dan mengakibatkan ekonomi Barat memisahkan diri dari Tiongkok.

Ya, kelangkaan pangan adalah masalah keamanan nasional bagi Tiongkok. Tetapi, kelangkaan pangan  adalah sebuah ancaman yang jauh lebih besar bagi kelangsungan hidup Partai Komunis Tiongkok. 

 (Vv/asr)

James R. Gorrie adalah penulis “The China Crisis” (Wiley, 2013) dan menulis tentangnya blog, TheBananaRepublican.com. Ia berbasis di California Selatan.

Video Rekomendasi

Share

Video Popular