Oleh Austin Bay

Pada bulan Juli, pejabat senior pemerintah di Taiwan dan Amerika Serikat memperingatkan bahwa komunis Tiongkok secara agresif mengancam kemerdekaan Taiwan.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Mark Esper mengatakan Beijing membawa intimidasinya “ke tingkat yang baru.”

Operasi “gerimis rudal” Tiongkok pada tahun  1995–1996, terkadang disebut Krisis Selat Taiwan Ketiga, menetapkan standar tinggi untuk ancaman agresif ke Taiwan. 

Selama sembilan bulan, Beijing menembakkan rudal jarak-pendek dan jarak-menengah ke laut sekitar Taiwan. Meskipun para kru rudal komunis dengan hati-hati menghindari tepat sasaran, percikan besar mengurung pulau Taiwan.

Peluncuran rudal memiliki beberapa tujuan: (1) menakut-nakuti rakyat Taiwan supaya menerima hegemoni politik Beijing, (2) memamerkan  kekuatan militer Tiongkok Daratan yang tumbuh, dan (3) mengurung niat politik Amerika Serikat untuk mempertahankan Taiwan. Kejenakaan Beijing pada tahun 2020 memiliki tujuan yang sama.

Pada bulan Maret 1996, dua kelompok tempur kapal induk Angkatan Laut Amerika Serikat tiba di daerah tersebut. Beijing secara diam-diam mundur.

Namun, militer Komunis Tiongkok pada tahun 2020 adalah jauh lebih unggul dari militer Tiongkok pada tahun 1996. Amerika Serikat mungkin tidak lagi memiliki keunggulan militer yang pasti. Apalagi ancaman diplomasi dan militer pada tahun 2020 menyertai pencaplokan Beijing yang tidak berperasaan terhadap Hong Kong.

Peringatan resmi tersebut memicu beberapa artikel terbaru yang meneliti timbulnya sebuah peperangan antara Amerika Serikat dengan Tiongkok yang dipicu oleh invasi Beijing ke Taiwan. 

Beberapa di antaranya adalah cukup mengerikan. Misalnya, edisi terbaru majalah Proceedings milik Institut Angkatan Laut Amerika Serikat memiliki sebuah skenario perang Taiwan yang ditetapkan pada bulan Januari 2021.

Penulis mengatakan, Beijing mengalahkan Taiwan dalam tiga hari. Artikel dalam majalah Proceedings itu berjudul “Perang yang Tidak Pernah Ada”, tetapi bukan berarti perang tidak 

meletus. Beijing menyerang setelah pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2020 dan pandemi berkelanjutan. Komunis Tiongkok “menang tanpa berperang,” setidaknya tanpa melawan Amerika Serikat. Pembuat skenario: Admiral James Winnefeld, mantan wakil ketua dari kepala staf gabungan, dan Michael Morell, mantan direktur penjabat dan wakil direktur CIA.

Penulis menilai kemenangan cepat Tiongkok atas Taiwan adalah sangat tidak mungkin, bahkan Taiwan sendiri untuk sementara. Buku terakhir penulis berjudul, “Cocktails From Hell,” menyertakan sebuah skenario perang Selat Taiwan di mana Tiongkok menghantam Taiwan dengan ribuan rudal dan senjata pintar, lalu meluncurkan serangan amfibi menggunakan air-cushion vehicles atau kendaraan bantalan-udara, helikopter, dan penerjun parasut untuk menerjunkan pasukan infanteri ke Taiwan. Apa hasil yang mungkin? Sebuah perang besar dengan Amerika Serikat. Namun, perang yang menduduki Taiwan sebagian mungkin adalah lama dan pahit.

Penulis membuat sketsa beberapa skenario perang lainnya dan setidaknya dua skenario yang penulis pikir lebih cenderung sebagai sebuah serangan ke Taiwan.

Salah satunya adalah “Pertempuran di Laut China Selatan.” Sebuah pertempuran di laut “memicu sebuah perang yang singkat tetapi mematikan antara Amerika Serikat dengan Tiongkok di Laut China Selatan di mana  Filipina dan Vietnam cenderung bersekutu Amerika Serikat. Ini sebuah contoh peristiwa pemicuan: Kapal-kapal Tiongkok dan Filipina saling tembak, Angkatan Laut Amerika Serikat berupaya campur tangan, dan sebuah rudal Tiongkok menghantam kapal perang Angkatan Laut Amerika Serikat.”

Itu adalah spekulasi yang memberi pembelajaran. Inilah realitas provokatif: Pada tanggal 21 Agustus, Filipina menuduh Tiongkok secara ilegal menyita alat tangkap ikan di daerah Scarborough Shoal yang disengketakan di Laut China Selatan. Pada bulan April, Vietnam mengklaim sebuah kapal penjaga pantai Tiongkok menenggelamkan sebuah kapal pukat Vietnam.

Peristiwa terkini membuat apa yang penulis sebut “skenario Tiongkok melawan India” adalah cenderung tidak nyaman. Berikut ini ringkasan dari Perang Tiongkok-India, Babak Kedua, 

atau Perang untuk Tibet Selatan: “Tiongkok  meluncurkan invasi terbatas dengan tujuannya untuk mendorong perbatasan 25 hingga 30 mil lebih jauh ke arah selatan di sektor timur maupun sektor barat. Tiongkok dengan segera akan menyerukan gencatan senjata untuk menghindari peningkatan perang menjadi perang nuklir dan menawarkan upaya negosiasi pembatasan permanen di perbatasan.”

Sebuah khayalan? Tahun ini, tentara India dan tentara Tiongkok bentrok di sepanjang Garis Kendali Aktual yang melintasi Himalaya. Konfrontasi di wilayah Ladakh India dan di celah gunung Naku La di Sikkim adalah sangat berbahaya. Gencatan senjata Perang Tiongkok-India tahun 1962 menghasilkan sejenis stabilitas, tetapi gencatan senjata tersebut bukanlah perjanjian damai yang disahkan.

Tetapi inilah skenario perang internal yang benar-benar mengkhawatirkan Beijing: Revolusi Tiongkok berikutnya. Tiongkok mencapai sebuah titik (tahun 2035?) di mana “untuk berbagai alasan… perlambatan ekonomi, keresahan etnis, hilangnya kerja sama warganegara,

benar-benar muak dengan korupsi — kendali otoriter tidak mungkin dipertahankan.” Balas dendam Lapangan Tiananmen? 

 (Vv)

** Austin Bay adalah seorang kolonel (purnawirawan) di U.S. Army Reserve, penulis, kolumnis bersindikasi, dan guru strategi dan teori strategis di University of Texas – Austin. Buku terbarunya adalah “Cocktails from Hell: Five Wars Shaping the 21st Century”.

Video Rekomendasi

Share

Video Popular