Alex Wu

Partai Komunis Tiongkok mengklaim memenangi atas penanganan pandemi di Tiongkok pada 8 September 2020. Para pengamat percaya bahwa pemimpin partai Komunis Tiongkok Xi Jinping terburu-buru untuk merayakan kemenangan tersebut, yang mana bertujuan  untuk melawan kritik dan tekanan dari Partai Komunis Tiongkok sendiri dan masyarakat internasional, seperti semakin banyak negara mengecam Beijing. Itu tak lain, karena merahasiakan wabah awal dan membiarkan virus tersebut menyebar ke seluruh dunia.

Tujuh anggota Komite Tetap Politbiro Partai Komunis Tiongkok  — badan pembuat keputusan tertinggi milik Partai Komunis Tiongkok — menghadiri “upacara perayaan” yang diadakan di Balai Besar Rakyat di Beijing.

 Xi Jinping menyampaikan pidatonya, mengklaim bahwa Partai Komunis Tiongkok memungkinkan Tiongkok untuk “lulus ujian yang luar biasa dan bersejarah.”

 Ia juga membagikan medali untuk para personel medis termasuk Zhong Nanshan, ahli penyakit pernapasan dan akademisi di Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok yang dikelola negara; dan Chen Wei, Kepala Institut Teknik Biologi, yang merupakan bagian Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok yang berafiliasi dengan militer Komunis Tiongkok, Tentara Pembebasan Rakyat. Chen Wei adalah ahli top dalam penelitian senjata biologis di Tiongkok.

 Wabah virus Partai Komunis Tiongkok atau virus Wuhan terus-menerus muncul di beberapa daerah di Tiongkok. Terjadi kasus kekambuhan di Beijing pada bulan Juni, yang menyebar ke daerah lain di Tiongkok.

Pada pertengahan bulan Juli, wabah di Urumqi, Xinjiang menyebabkan kebijakan karantina diterapkan di seluruh Urumqi. Dan, pada akhir bulan Juli, wabah “gelombang ketiga” melanda timur laut Tiongkok.

Statistik COVID-19 Tiongkok dipertanyakan oleh para ahli dan dokumen pemerintah yang bocor.

Sementara itu pada konferensi pers Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO pada tanggal 7 September 2020, Direktur Eksekutif Proyek Darurat  Organisasi Kesehatan Dunia Michael Ryan menekankan bahwa hingga pandemi global benar-benar berakhir, tempat mana pun berisiko terjadi kasus kekambuhan. 

Pengamat dan aktivis percaya, bahwa Xi Jinping ingin memanfaatkan perayaan kemenangan tersebut untuk mengurangi tekanan dari berbagai faksi di dalam Partai Komunis Tiongkok. Selain itu, menggabungkan posisi dan kekuasaannya sebagai pemimpin Partai Komunis Tiongkok.

 Aktivis hak asasi manusia Tiongkok, Hu Jia mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Radio Free Asia:

 “Xi Jinping ingin meminimalkan tanggung jawabnya di sini. Dan kedua, untuk menunjukkan bahwa model politik Tiongkok memiliki keunggulan unik dalam memerangi pandemi, dan keuntungan sistem sosialis Tiongkok. Hal ini untuk memperkuat gagasan di benak warga Tiongkok, yang sedang dikuasai oleh hal itu.”

Cendikiawan politik Tiongkok, Wu Qiang mengatakan kepada BBC bahasa Mandarin, bahwa perayaan kemenangan tersebut diadakan sebelum pemilihan presiden Amerika Serikat dan KTT Tiongkok-Uni Eropa. Tak lain, untuk menunjukkan bahwa “model anti-pandemi Komunis Tiongkok adalah berhasil” dan untuk melawan kritik internasional terhadap Partai Komunis Tiongkok.

 Netizen Tiongkok mengkritik upacara perayaan kemenangan di Beijing tersebut sebagai kinerja politik.

 Netizen “Quan Zhisheng” mengajukan serangkaian pertanyaan: “apakah epidemi benar-benar sudah berakhir? Apakah vaksinnya sudah dikembangkan? Apakah seluruh bangsa memberikan penghormatan umum kepada para korban? Apakah pejabat yang merahasiakan pandemi telah ditangani? Namun… pesta perayaan kemenangan telah diadakan!”

 Netizen RHBNg berkomentar: “Partai-negara adalah pandai mengubah pemakaman menjadi perayaan kemenangan. Kali ini upacara penghargaan mungkin menjadi cara Partai Komunis Tiongkok untuk menggertak ke negara lain, bahwa Tiongkok telah sepenuhnya menyingkirkan pandemi itu, dan orang kemudian dapat datang ke Tiongkok untuk pariwisata, bisnis, atau sekolah sebagai biasanya. Dan, Partai Komunis Tiongkok dapat menipu negara lain untuk membuka diri terhadap Tiongkok.”  (Vv/asr)

Video Rekomendasi :

 

Share

Video Popular