oleh Zhang Ting

Pada Sabtu 12 September 2020 lalu, pembicaraan damai untuk mengakhiri perang yang sudah berlangsung puluhan tahun dan menewaskan banyak korban antara pemerintah Afghanistan dan Taliban berlangsung di Doha, ibukota Qatar. 

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo secara khusus hadir pula dan memberikan pidato dalam acara bersejarah tersebut. Mike Pompeo mendesak kedua belah pihak untuk memanfaatkan kesempatan baik ini mencapai perdamaian abadi yang bermanfaat bagi rakyat Afghanistan.

Setibanya di Doha pada 11 September 2020, Pompeo langsung menulis pesannya di Twitter : “Senang sekali datang ke Doha untuk berpartisipasi dalam negosiasi perdamaian penting Afghanistan. Rakyat Afghanistan berhak atas rumah tanpa perang, dan kami di sini untuk mendukung mereka dalam merumuskan jalan menuju perdamaian. Sebuah cetak biru untuk pengembangan masa depan.”

Untuk pertama kalinya dalam 40 tahun pemerintah Afghanistan dan Taliban duduk bersama di meja negosiasi

Zalmay Khalilzad, utusan khusus Amerika Serikat untuk masalah rekonsiliasi Afghanistan pada hari Jumat 11 September 2020 mengatakan bahwa ini adalah pertama kalinya dalam 40 tahun pemerintah Afghanistan dan Taliban duduk bersama di meja negosiasi. 

Negosiator pemerintah Afghanistan juga termasuk personel non-pemerintah. 4 orang wanita terkemuka, masyarakat sipil, dan kelompok politik. Mereka akan duduk dengan perwakilan Taliban untuk berdiskusi dan diharapkan bisa mencapai kesepakatan dalam upaya mengakhiri perang yang berlarut-larut di Afghanistan. 

“Rakyat Afghanistan menuntut diakhirinya perang. Kami mendukung upaya mereka,” kata Zalmay Khalilzad.

Berlanjut pada hari Sabtu 12 September 2020, Pompeo menghadiri upacara pembukaan pembicaraan damai antara Afghanistan dan Taliban.  Dalam pidatonya, ia mengatakan kepada pihak yang bernegosiasi : “Pilihan sistem politik masa depan kalian ditentukan oleh kalian sendiri”.

Pompeo menekankan bahwa perundingan ini membutuhkan kerja keras dan pengorbanan yang tidak kecil, tetapi hanya melalui pembicaraan ini perdamaian abadi dapat terwujud.

 

Sementara itu menurut Kepala Dewan Perdamaian Afghanistan, Abdullah Abdullah, mengatakan,”Bekerja dengan itikad baik dan sungguh-sungguh untuk mencapai perdamaian, penderitaan yang sedang berlangsung di Afghanistan pasti berakhir.”

Tuan rumah pertemuan Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, Menteri Luar Negeri Qatar menyatakan bahwa kedua pihak yang telah lama berperang harus membuat keputusan yang menentukan berdasarkan tantangan saat ini dan menyingkirkan semua bentuk perpecahan,  untuk mencapai kesepakatan atas dasar tidak ada pemenang dan penakluk.

Menurut pemimpin politik Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar, proses negosiasi perdamaian mungkin menghadapi kesulitan, tetapi pihaknya berharap negosiasi dapat dilanjutkan dengan kesabaran dan toleransi.

“Kita berharap Afghanistan menjadi negara yang bebas, merdeka, bersatu dan maju dengan sistem Islam di mana semua suku dan ras di negara itu dapat menemukan diri mereka sendiri tanpa diskriminasi, dan dapat menentukan kehidupan sendiri dalam suasana cinta dan persaudaraan,” kata Mullah Abdul Ghani Baradar.

Acara pembukaan pembicaraan damai Afghanistan diadakan sehari setelah Amerika Serikat memperingati ulang tahun ke-19 serangan teroris 11 September. Setelah serangan teroris terjadi pada 2001, Presiden Amerika Serikat kala itu, G.W. Bush memerintahkan militer Amerika Serikat masuk ke Afghanistan untuk memburu Osama bin Laden, dalang serangan teroris dan pemimpin al Qaeda. Bin Laden saat itu diberikan suaka oleh Taliban di Afghanistan.

Pompeo mendesak kedua belah pihak mengakhiri perang Afghanistan

Dalam pidato upacara pembukaan perundingan, Pompeo mengatakan : “Hari ini memang momen yang besar. Rakyat Afghanistan akhirnya memilih untuk duduk bersama dan memetakan arah baru untuk negara Afghanistan. Ini adalah momen dimana kita harus berani berharap. Pada saat cahaya terang mulai tampak, kita patut mengingat kembali saat-saat kegelapan perang dan hilangnya nyawa serta peluang yang telah berlangsung selama 40 tahun. Namun, hal yang lebih mengkhawatirkan adalah … pola rasa sakit dan kehancuran tidak dapat dibandingkan dengan harapan abadi seluruh rakyat Afghanistan dan banyak teman terhadap tuntutan untuk hidup damai.”

Menurut Pompeo, Amerika Serikat tidak akan pernah melupakan insiden 11 September tahun 2001.  “Kita menyambut positif komitmen Taliban yang tidak akan menerima al Qaeda dan organisasi teroris internasional lainnya, mereka juga tidak akan mengizinkan mereka menggunakan wilayah Afghanistan sebagai tempat pelatihan, perekrutan, atau pembiayaan,” kata Pompeo.

“Kami menyambut baik komitmen yang sama yang dibuat oleh pemerintah Republik Islam Afghanistan bahwa mereka tidak akan pernah membiarkan negara mereka menjadi basis teroris internasional untuk mengancam negara lain,” tambah Pompeo.

Pompeo juga menegaskan bahwa setiap orang yang duduk untuk pertemuan ini telah melakukan kerja keras dan pengorbanan demi datangnya momen ini, bahkan mereka pun masih perlu melakukan upaya dan pengorbanan yang besar demi mempertahankan vitalitasnya dan memanfaatkannya dengan baik kesempatan pembicaraan ini agar bisa menghasilkan buah perdamaian yang permanen.

“Masing-masing dari kalian memiliki tanggung jawab yang besar, tetapi kalian harus tahu bahwa kalian tidak sendirian. Seluruh dunia berharap agar kalian berhasil dan menantikan kesuksesan kalian,” kata Pompeo.

Menurut Pompeo, Amerika Serikat mendukung pembentukan kedaulatan, persatuan dan perwakilan Afghanistan tidak hanya mencapai perdamaian di negaranya sendiri, tetapi juga hidup damai dengan tetangganya.

“Tentu saja, saya hanya dapat mendorong kalian untuk mengambil tindakan ini. Dan kalianlah yang akan menulis bab berikutnya dalam sejarah Afghanistan. Kita berharap bab ini adalah bab rekonsiliasi dan kemajuan, bukan bab lain yang penuh dengan darah dan air mata. Kita mendorong kalian untuk mengambil keputusan untuk memberantas kekerasan dan korupsi, serta bergerak menuju perdamaian, pembangunan dan kemakmuran,” kata Pompeo.

“Perundingan bersejarah ini harus menghasilkan pengaturan politik untuk mengakomodasi pandangan yang berbeda dan menolak menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan politik,” katanya.

Pada bulan Februari tahun ini, Amerika Serikat dan Taliban menandatangani perjanjian perdamaian bersejarah. Amerika Serikat berjanji jika Taliban selalu mematuhi perjanjian ini, dalam waktu 14 bulan setelah perjanjian ditandatangani, militer Amerika Serikat dan sekutunya akan ditarik dari Afghanistan.

Dalam pidatonya pada hari Sabtu, 12 September 2020, Pompeo mengatakan bahwa pencapaian penting dari perjanjian Amerika Serikat – Taliban adalah meletakkan dasar untuk pembicaraan damai antara pemerintah Afghanistan dan Taliban.

Pemerintahan Trump telah mengurangi pasukannya dari Afghanistan. Diperkirakan pada bulan November tahun ini, jumlah pasukan Amerika di Afghanistan akan dikurangi hingga di bawah 5.000 orang. Jumlahnya menurun dari sekitar 13.000 orang saat perjanjian AAmerika Serikat – Taliban  ditandatangani.  Sejak tahun 2001, lebih dari 2.300 orang pasukan Amerika Serikat dan sekitar 450 orang pasukan Inggris tewas di medan perang Afghanistan. (sin/rp)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular