Perdana Menteri Jepang yang baru terpilih Yoshihide Suga melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Xi Jinping pada malam 25 September 2020. Dunia luar berpendapat, pembicaraan kedua kepala negara setidaknya telah merilis 3 sinyal utama yang menunjukkan bahwa Xi Jinping yang sering menimbulkan kontroversial telah mendapat perlakuan dingin di Jepang

oleh Luo Tingting

Pada 25 September 2020 pukul 9 malam waktu Jepang, Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga dan Xi Jinping untuk pertama kalinya melakukan pembicaraan lewat sambungan telepon yang berlangsung sekitar setengah jam. 

Kepada media usai pembicaraan itu, Yoshihide Suga mengatakan bahwa stabilitas hubungan Jepang – Tiongkok tidak saja menjadi masalah antara kedua negara, tetapi juga sangat penting bagi kawasan dan komunitas internasional. Suga berharap kedua negara berbagi tanggung jawab atas stabilitas tersebut dan kedua pihak sepakat untuk memperkuat kerja sama di masa depan.

Dunia luar berpendapat bahwa pembicaraan lewat sambungan telepon antara Yoshihide Suga dengan Xi Jinping, telah merilis 3 sinyal utama yang menunjukkan bahwa Xi Jinping telah mendapat sambutan dingin.

Pertama. Usai dinobatkan sebagai perdana menteri menggantikan Shinzo Abe, Suga telah berbicara lewat sambungan telepon dengan beberapa kepala negara yang bersahabat, baru kemudian berbicara dengan Xi Jinping pada hari ke-10.

Yoshihide Suga secara resmi menjabat pada 16 September 2020. Sebelum berbicara dengan Xi Jinping, ia telah melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden AS Donald Trump, Perdana Menteri Australia Scott Morrison, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, Presiden Dewan Eropa Charles Michel, Presiden Korea Selatan Wen Jae-in dan Perdana Menteri India Narendra Damodardas Modi. Hal ini menunjukkan, pembicaraan telepon dengan Xi Jinping berada jauh di belakang kepala negara lainnya, yang berarti bahwa betapa pemerintah Jepang kurang menganggap penting rezim Beijing ini.

Ketika berbicara dengan Trump beberapa hari yang lalu,  Yoshihide Suga mengatakan bahwa aliansi AS – Jepang adalah landasan perdamaian dan stabilitas bagi regional. Trump berharap aliansi antara kedua negara tumbuh semakin kuat, sementara itu Yoshihide Suga mengatakan bahwa ia menyambut gembira kapan saja dalam waktu 24 jam sehari, bilamana Trump ingin berbicara dengan dirinya.

Dilaporkan bahwa Trump dan Suga juga bertukar pandangan tentang tanggapan terhadap epidemi komunis Tiongkok atau pneumonia Wuhan, termasuk kerja sama dalam penelitian dan pengembangan vaksin.

Selain itu, pada hari berbicara telepon dengan Xi Jinping, Yoshihide Suga sudah terlebih dahulu berbicara dengan Perdana Menteri India Narendra Modi untuk memberi konfirmasi, bahwa Jepang tetap akan memperkuat kerja sama dalam isu Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka bersama India, Amerika Serikat, dan Australia.

Sebagaimana dilaporkan oleh media Jepang bahwa pertemuan kedua antara menteri luar negeri AS, Jepang, India dan Australia akan diselenggarakan di Tokyo pada awal bulan Oktober ini. Yoshihide Suga akan melakukan pembicaraan isu-isu pertukaran bilateral dengan menteri luar negeri Amerika Serikat, Jepang dan Australia.

Saat ini, tindakan sewenang-wenang komunis Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan telah memicu reaksi keras dari negara-negara Asia Tenggara. Amerika Serikat berjanji akan membela kepentingan kedaulatan sekutunya di sekitar Laut Tiongkok Selatan. Dan, sejumlah besar kekuatan militer AS juga telah mulai didatangkan ke perairan Laut Tiongkok Selatan.

Kedua. Yoshihide Suga tidak menghindar dari topik sensitif mengenai Hongkong. Menurut laporan media ‘Sankei Shimbun’, bahwa Suga juga menyatakan keprihatinannya tentang situasi di Hongkong, isu-isu Kepulauan Diaoyu dan Laut Tiongkok Timur dalam pembicaraannya dengan Xi Jinping. Ia berharap dapat melanjutkan diskusi dengan pihak Tiongkok di masa mendatang.

Pada 28 Mei tahun ini, setelah Partai Komunis Tiongkok mengesahkan draf Undang-Undang Keamanan Nasional versi Hongkong melalui Kongres Rakyat Nasional, Yoshihide Suga, yang waktu itu adalah juru bicara pemerintah Jepang dan Kepala Sekretaris Kabinet mengatakan, pada konferensi pers bahwa Jepang sangat prihatin terhadap putusan rezim Beijing yang tetap memberlakukan UU Keamanan itu, dengan tanpa mempertimbangkan keprihatinan yang kuat dari komunitas internasional dan rakyat Hongkong.

Suga menegaskan kembali bahwa, mempertahankan sistem bebas dan terbuka Hongkong sangat penting bagi perkembangan demokrasi dan stabilitas kawasan. Di masa depan, kita akan terus memantau praktik komunis Tiongkok dan mengambil sikap di saat perlu menentukan sikap.

Selain itu, menyebutkan bahwa perubahan situasi di Hongkong dapat berdampak yang tidak menguntungkan bagi kunjungan Xi Jinping ke Jepang.

Ketiga. Yoshihide Suga tidak menyinggung soal kunjungan Xi Jinping ke Jepang dalam pembicaraannya dengan Xi. ‘Sankei Shimbun’ dalam laporannya menyebutkan bahwa dalam percakapan antara Yoshihide Suga dan Xi Jinping, tidak disinggung soal kunjungan Xi ke Jepang sebagai tamu negara.

Semasa Shinzo Abe masih menjabat perdana menteri Jepang, ia pernah mengundang Xi Jinping untuk berkunjung ke Jepang pada bulan April tahun ini, tetapi ditunda karena terjadi pandemi komunis Tiongkok. 

Namun, rezim Beijing justru memanfaatkan pandemi untuk memperluas kekuasaan mereka di perairan sekitar Kepulauan Diaoyu yang memicu peningkatan sentimen anti-Komunis Tiongkok di Jepang. 

Ditambah lagi dengan isu Hongkong, menyebabkan penentangan terhadap kunjungan Xi Jinping ke Jepang baik oleh kalangan pemerintah dan sipil Jepang menjadi semakin keras. Dengan demikian, besar kemungkinan kunjungan kenegaraan Xi ke Jepang akan mengalami kegagalan. (sin)

 

Share

Video Popular