Sebuah makalah ilmiah dari peneliti Indonesia diterbitkan di situs Nature, yang berjudul ‘Implications for Megathrust Earthquakes and Tsunamis from Seismic Gaps South of Java Indonesia’. Laporan itu mengungkapkan tentang potensi tsunami hingga 20 meter di Selatan Jawa sebagai akibat gempa dengan kekuatan besar.

Laporan itu berdasarkan penelitian dari Sri Widiyantoro dari ITB, E Gunawan, Abdul Muhari dari BNPB, N Rawlinson, J Mori, NR Hanifa, S Susilo, P Supendi, HA Shiddiqi, AD Nugraha, dan HE Putra.

Salah satu peneliti, Guru Besar  bidang seismologi ITB, Prof. Dr. Sri Widiyantoro, Ph.D menceritakan tentang bagaimana paper penelitian tersebut dibuat. Ia mengawali dengan kronologi dua tahun lalu pada 28 September 2018 saat terjadi gempa di Palu di darat yang menimbulkan tsunami.

Selanjutnya, Ketua Pusat Studi Gempa nasional (Pusgen) itu menuturkan, peristiwa di Palu menjadi perhatian besar  dunia. Sehingga pada waktu bersamaan, ITB menawarkan riset multidisiplin dan berketemu dengan Dr. Abdul Muhari yang kini sebagai plt  Direktur Pemetaan dan Mitigasi BNPB dan Dr. Endra Gunawan selaku KK Geofisika Global dari Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB.

“Kami mengusulkan pemodelan bencana sehingga proposal kami diterima, yang berjudul Pemodelan Potensi Bencana Gempa Bumi di Zona Sunduksi Sepanjang Jawa Berbasis Analisis Multi-hazard dan Multi-data untuk Pengurangan Risiko Bencana,” ujarnya dalam Webinar yang ditayangkan secara live oleh channel Youtube Gempa ITB dengan judul Kupas Tuntas Publikasi Riset Terbaru di Nature Scientific Report, Rabu (23/09/2020).

Rektor Universitas Kristen Maranatha Bandung itu menuturkan, penelitian dimaksudkan untuk  pengurangan dan mitigas bencana. Setelah diterima, kemudian dilakukan riset oleh para ahli.

Ia menguraikan bahwa topik yang diteliti sudah lama direnungkan oleh para pakar dikarenakan di selatan Jawa  ada daerah yang relatif sepi gempa.

“Jadi, di dekat palung jawa yang garis hitam banyak terjadi gempa, juga di dekat hulu, tetapi di antaranya ada zona yang sepi gempa, atau sering disebut seismic gap, nah, ini sebenarnya apakah di situ terjadi pergerkan pelan-pelan atau sebaliknya  terjadi daerah yang terkunci/locking, tidak bisa bergerak,” terangnya.

Selanjutnya, berdasarkan riset diungkapkan tak  hanya soal potensi gempa bumi tetapi terkait dengan GPS yang bisa menjelaskan terjadi Locking/terkunci. Hal demikian membuat selatan Jawa sangat menarik, sepertoi pada 23 Januari 2018 terjadi gempa lebak dengan kekuatan Magnitudo 6,1 di Selatan Jawa Barat.

Meskipun gempa terjadi magnitudo relatif kecil, kata Sri Widiyantoro, akan tetapi dengan guncangan cukup besar. Ini tak lain, Jakarta berada sedimen yang tebal mirip seperti Meksiko City. “Pernah ada gempa 400 km dari Meksiko City, tetapi yang di dekat gempa tak terjadi kerusakan, malah yang 400 km dari pusat gempa malah rusak,” terangnya.

Terjadinya kerusakan tersebut seperti di Meksiko City, dikarenakan adanya faktor resonansi/gelombang yang masuk di lapisan lunak atau sedimen yang mengalami refleksi. Hal demikian, jika terjadi frekuensi yang sama dengan natural bangunan, maka terjadi resonansi dan menimbulkan banyak kerusakan.

Soal riset potensi tsunami di Selatan Jawa, peneliti menggunakan model sumber gempa di Selatan Jawa Barat. Tak lain, berdasarkan inversi data GPS untuk Jawa Bagian Timur. Kemudian, ada area yang mengalami locking atau menyimpan energi besar, yang mana nanti disimulasikan kalau melepaskan gempa diketahui kira-kira berapa magnitudo dan tinggi tsunaminya.

Lebih jauh disampaikan, simulasi selama 3 jam dengan menggunakan model sumber gempa berdasarkan hasil inversi data GPS di Jawa Barat untuk periode ulang 400 tahun yang mana bisa menyebabkan tsunami setinggi 20 meter.

“Ini kira-kira di Selatan Banten ke Timur, semakin kecil tetapi jika yang pecah segmen sebelah timur maka bagian timur tsunaminya bisa mencapai 12 meter, kira-kira-kira di selatan Blitar ini,” paparnya.

“Bagaimana segmen Barat dan Timur pecah bersama seperti yang terjadi di Tohoku 2011, maka kita lihat di Barat tadi, bisa mencapai 20 meter ketinggian tsunami dan sebelah timur sekitar 12 meter, namun rata-ratanya menjadi lebih tinggi kalau pecah bersama, kira-kira di speanjang pantai selatan ini 5 meter tinggi tsunaminya,” imbuhnya.

Selain itu, Ahli Seismologi Pertama Indonesia yang meraih Sarwono Award 2014 mengatakan penelitiannya mendapatkan respon positif dan konstruktif dari LIPI yang menyarankan riset lebih lanjut. Pasalnya, LIPI memiliki kapal besar yang bisa riset di Samudera Hindia.

“Kenapa ini penting, karena pemodelan kami belum memodelkan bagaimana gempa besar terjadi belum memperkirakan longsoran di bawah laut sana. Nah, untuk memodelkan itu harus tahu kira-kira di mana akan longsor jika gempa besar, maka perlu dilakukan survei lebih lanjut,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono menyatakan mengapresiasi hasil riset para Ahli dari ITB soal potensi tsunami 20 meter di Selatan Jawa. Ia mengatakan para peneliti mengedukasi perihal adanya potensi ancaman kepada masyarakat.  “Ancaman itu Terjadi atau Tidak, belum ada yang bisa memprediksi secara tepat kapan terjadinya. Namun adanya potensi itu memang betul,” katanya pada Minggu (27/09/2020).

BMKG menyampaikan, skenario terburuk adalah skenario terbaik untuk upaya mitigasi. Jangan sampai mitigasi yang disiapkan berdasarkan skenario dengan potensi ancaman paling kecil. Justru nanti malah tidak siap jika skenario terburuk benar-benar terjadi.

BMKG menerangkan perlu diingat bahwa potensi gempabumi yang dapat memicu tsunami dari zona megathrust ini bukan hanya di Selatan Jawa, namun di seluruh Zona Megathrust dari Barat Sumatera hingga Selatan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Bahkan, pada daerah Subduksi Banda, Subduksi Lempeng Laut Maluku, Subduksi Sulawesi, Subduksi Lempeng Laut Filipina dan Subduksi Utara Papua.

Menurut Kepala Bidang Mitigasi gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, meskipun kajian ilmiah dan permodelan dapat menentukan potensi Magnitudo maksimum Gempa Megathrust, pada kenyataannya hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara tepat dan akurat kapan dan di mana gempa akan terjadi.

Dalam ketidakpastian ini, Daryono menuturkan maka yang perlu dilakukan adalah upaya mitigasi dengan menyiapkan langkah-langkah kongkrit untuk meminimalkan risiko kerugian sosial ekonomi dan korban jiwa. BMKG menyampaikan, informasi potensi gempa kuat di Zona Megathrust seperti ini memang rentang memicu keresahan akibat salah pengertian. Masyarakat lebih tertarik membahas kemungkinan dampak buruknya daripada pesan mitigasi yang mestinya harus dilakukan. (asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular