Eva Fu

Dokumen internal Partai Komunis Tiongkok menunjukkan pasien-pasien di Wuhan pernah menderita gejala-gejala sedini bulan September 2019 , tetapi pihak berwenang tidak mengungkapkannya kepada dunia.

Sederet dokumen yang bocor baru-baru ini dilaporkan The Epoch Times pada 13 Oktober 2020, menunjukkan bahwa pasien di Tiongkok menderita gejala mirip dengan COVID-19 yang dirawat di rumah sakit, beberapa bulan sebelum garis waktu resmi milik rezim Tiongkok, mempertanyakan kapan tepatnya virus Partai Komunis Tiongkok mulai menyebar di Wuhan, asal mula epidemi di Tiongkok.

Setidaknya satu pasien mulai menderita gejala mirip COVID-19 pada bulan September 2019, menurut data rumah sakit yang diperoleh The Epoch Times dari sumber terpercaya yang memiliki akses ke dokumen pemerintah. Lebih dari puluhan pasien dirawat di rumah sakit selama bulan berikutnya.

Rumah sakit Wuhan juga melaporkan beberapa kematian pada bulan Oktober 2019 akibat pneumonia yang parah, infeksi paru-paru, dan gejala lain yang mirip dengan pasien COVID-19.

Komisi Kesehatan Wuhan hanya mengumumkan wabah sebuah bentuk pneumonia yang baru secara terbuka pada tanggal 31 Desember 2019 — setelah postingan media sosial oleh dokter pelapor pelanggaran yang telah menjadi viral.

Dalam surat tertanggal 19 Februari yang diperoleh The Epoch Times, sebuah tim investigasi yang dibentuk pemerintah pusat menyatakan bersedia melacak kasus awal penyakit. 

Tim investigasi tersebut meminta data dari semua lembaga medis di Wuhan selama periode antara tanggal 1 Oktober hingga 10 Desember 2019 kepada  pihak berwenang setempat, yang mencakup informasi mengenai pasien yang mengunjungi klinik demam di sekitar Pasar Seafood Huanan, pasar basah yang awalnya para pejabat identifikasikan sebagai asal wabah. Termasuk, rincian dari 10 kasus yang dicurigai paling awal di masing-masing lembaga medis berperingkat dua atau lebih (peringkat tiga adalah yang tertinggi); dan kematian akibat pneumonia dengan gejala mirip COVID-19. 

Dalam surat tersebut disebutkan sembilan rumah sakit yang menerima pasien COVID-19 terbanyak di Wuhan, adalah kunci penyelidikan.

The Epoch Times memiliki akses ke sebagian catatan tersebut sebagai tanggapan atas pertanyaan, yang berasal dari 11 rumah sakit. Terlepas dari data yang dikumpulkan, gugus tugas pengendalian wabah Wuhan mengatakan, kepada media pada tanggal 26 Februari bahwa pasien yang terdokumentasi paling awal adalah seseorang dengan marga Chen yang jatuh sakit pada tanggal 8 Desember 2019.

Tidak jelas apakah pihak berwenang melakukan penyelidikan atas kasus-kasus awal sebelum bulan Februari.

Tangkapan layar dari dokumen yang bocor yang menunjukkan rincian tentang pasien yang meninggal karena gejala mirip COVID di Rumah Sakit Pengobatan Tradisional Tiongkok Wuhan di Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, pada 21 Februari 2020. Sebagian dari informasi tersebut disunting oleh The Epoch Times untuk melindungi privasi pasien. (Diberikan ke The Epoch Times)

Bagi beberapa kritikus, penyelidikan tampak agak sempit dan terlambat. “Sampai penyakit pernapasan yang masif merebak di daerah itu, mengapa mereka tidak melacak semua rumah sakit lain?” Sean Lin, mantan direktur laboratorium cabang penyakit virus di Institut Penelitian Angkatan Darat Walter Reed, memberitahu The Epoch Times.

“Seharusnya ini sudah lama dilakukan,” kata Sean Lin sambil menyebut penyelidikan yang tertunda adalah “konyol.”

Pasien Suspek Penderita Virus

Catatan yang diperoleh menunjukkan sembilan kematian karena kondisi mirip-COVID-19 di tiga rumah sakit.

Lima pasien itu adalah pasien pneumonia berat yang meninggal antara bulan November hingga Desember 2019 di Rumah Sakit No. 6 Wuhan, salah satu rumah sakit yang disebutkan dalam  surat penyelidikan itu. 

Rumah Sakit Pengobatan Tradisional Tiongkok Wuhan, sebuah rumah sakit tersier, memiliki tiga kasus kematian pada bulan Oktober. Rumah Sakit No. 8 Wuhan mencatat satu kasus kematian. Para pasien meninggal dalam jangka waktu beberapa hari sampai sekitar empat minggu setelah gejala pertama muncul.

Tangkapan layar dari dokumen yang bocor yang menunjukkan rincian pasien dengan gejala mirip COVID di Rumah Sakit Wuhan Puren Jiangan, pada 21 Februari 2020. Sebagian dari informasi tersebut disunting oleh The Epoch Times untuk melindungi privasi pasien. (Diberikan ke The Epoch Times)

Xu Zhenqian, misalnya, dirawat di Rumah Sakit No. 6 Wuhan. Pria berusia 82 tahun itu mulai menunjukkan gejala pada tanggal 1 Oktober 2019, termasuk batuk tanpa sebab yang jelas dan batuk berdahak putih, sebuah tanda infeksi saluran pernapasan, menurut gambaran klinis rumah sakit. Pria itu dipindahkan dari fasilitas lain tidak lama sebelum kematiannya pada tanggal 3 November.

Tiga pasien lain di rumah sakit yang sama, juga mengalami kesulitan bernapas sebelum meninggal dunia. Hasil CT scan mereka menunjukkan tanda-tanda yang buram di paru-paru mereka — pola yang cocok dengan lesi pada beberapa pasien COVID-19.

Berkas tersebut juga mengidentifikasi setidaknya 40 pasien lain yang diduga COVID-19 di delapan rumah sakit, pasien yang paling awal adalah Xiao Niangui yang berusia 67 tahun, yang mulai menunjukkan gejala pada tanggal 25 September 2019, dan dirawat di Rumah Sakit Puren Jiang’an di Wuhan.

Tangkapan layar dari dokumen yang bocor yang menunjukkan rincian pasien dengan gejala mirip COVID di Rumah Sakit Wuhan Puren Jiangan, pada 21 Februari 2020. Sebagian dari informasi tersebut disunting oleh The Epoch Times untuk melindungi privasi pasien. (Diberikan ke The Epoch Times)

Wuhan memiliki 205 fasilitas kesehatan di tingkat komunitas dan kotapraja dan 66 rumah sakit yang ditunjuk untuk merawat pasien COVID-19, kata pejabat kota di bulan Maret.

Kurangnya transparansi komunis Tiongkok telah banyak dikritik oleh para pejabat pemerintah. Komunis Tiongkok secara konsisten menolak untuk mengizinkan ahli-ahli dari Amerika Serikat dan Organisasi Kesehatan Dunia untuk mempelajari wabah di Tiongkok.

Pada tanggal 12 Februari, seorang pejabat dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat mengatakan, Organisasi Kesehatan Dunia masih tidak dapat mengakses “data langsung” mengenai wabah dan “terus berharap bahwa kita akan diundang untuk melakukan itu.”

Dalam wawancara media yang dirilis pada tanggal 1 Mei, perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia di Tiongkok juga mengatakan, Tiongkok telah menyingkirkan para ahli Organisasi Kesehatan Dunia untuk menyelidiki virus di Tiongkok. (Vv)

Share

Video Popular