oleh Zhang Yujie

“Ekonomi pungutan” di daratan Tiongkok sudah berlangsung sejak lama. Bahkan lembaga penegak hukum komunis Tiongkok pun mempraktikkan dengan cara mengenakan denda mahal, mengeluarkan denda secara sewenang-wenang, dan dengan sengaja membuat perangkap agar orang kena denda karena berbuat kesalahan. Setelah wabah vurus komunis Tiongkok merajalela tahun ini, fenomena “ekonomi pungutan” ini kian semarak

Media daratan melaporkan pada 16 Oktober 2020 bahwa “ekonomi pungutan” di sektor transportasi khususnya telah menunjukkan kenaikan yang menonjol. “Pelanggaran” lalu lintas di banyak provinsi seperti Hebei, Shandong, Henan, provinsi serta kota lainnya telah meningkat secara signifikan. Banyak pengemudi telah didenda karena masuk “perangkap”, yang berdampak serius pada transportasi pengangkutan dengan truk dan keamanan lalu lintas jalan raya.

“Perangkap” itu memiliki berbagai ragam dan acap berpindah-pindah pula, membuat pengemudi truk khususnya kepusingan dalam bertugas, mereka tak jarang harus mencari jalan lain meski menempuh jarak yang lebih jauh, melewati “jalan tikus” untuk menghindari masuk “perangkap”, atau terpaksa menerobos larangan dan membayar denda. Banyak pengemudi mengeluhkan kondisi ini.

Misalnya, beberapa jalan dengan kondisi yang baik tiba-tiba memberlakukan batasan kecepatan yang entah karena apa, jika pengemudi tidak sengaja melanggar batasan kecepatan itu kemudian tertangkap kamera pemantauan. Atau dibuatkan rambu garis penuh pada jalan yang bercabang, hal demikian membuat pengemudi menjadi kurang hati-hati sehingga roda kendaraan menginjak garis penuh tersebut. Sejumlah rambu lalin membuat bingung pengemudi sehingga berbuat salah.

Menurut data resmi komunis Tiongkok, jumlah pendapatan dari denda pelanggaran yang diterima pemerintah pada tahun 2019 mencapai lebih dari  RMB. 200 miliar. Ambil contoh pelanggaran lalin yang terekam kamera pada jalan bebas hambatan Shenyang–Haikou Expressway yang panjangnya sekitar 3.374 Km pada tahun 2019, lebih dari 120.000 pelanggaran terjadi, dan denda yang diperoleh darinya mencapai RMB. 25 juta. Profitabilitasnya jauh melampaui banyak perusahaan terdaftar.

Menurut berita pada 11 Oktober, seorang pengemudi truk di Huainan, Provinsi Anhui didenda RMB. 600 hanya karena bodi mobilnya tidak bersih. Hal ini menimbulkan pertanyaan netizen. Namun biro manajemen perkotaan setempat menjawab begini : “Hukuman tersebut dilaksanakan sesuai dengan peraturan. Jika kendaraan berlumpur lari di jalan, itu akan mempengaruhi lingkungan dan masyarakat”.

Baru-baru ini, polisi lalu lintas di Kota Xiangtan, Provinsi Hunan menolak untuk mengungkapkan informasi denda terhadap pelanggaran lalu lintas. Dalam sebuah wawancara dengan The Epoch Times pada pertengahan bulan Oktober, seorang tokoh industri taksi lokal mengatakan bahwa satu kamera (di daratan Tiongkok) dapat menghasilkan denda jutaan sampai puluhan juta renminbi dalam setahun. Wanita dan anak-anak yang mengalami penculikan dan dijual, tidak berhasil ditemukan meskipun sudah belasan tahun “diusut”, tetapi tak satupun denda pelanggaran lalu lintas yang lolos.

Narasumber itu menuturkan, “Kalau denda tidak dibayar, maka kendaraan tidak lolos pemeriksaan/kir. Ini adalah kewajiban yang tidak memiliki dasar hukum. Mereka sengaja memasang jebakan untuk membuat Anda melanggar hukum. Misalnya, jalan ini memberlakukan kecepatan 80 Km/jam. Tetapi tiba-tiba, ada jarak sepanjang 20 – 30 meter memberlakukan kecepatan 40 Km/jam. Di sana sudah terpasang sebuah kamera pemantau. Tentu saja banyak pengemudi yang menjadi “kurang awas” dengan keharusan mengubah kecepatan tersebut, sehingga terjebak kena denda”.

Skandal “denda penegakan hukum” keamanan publik Partai Komunis Tiongkok berlimpah.

Sebuah video baru-baru ini mengungkap percakapan antara Liu Peng, direktur kantor polisi di Provinsi Hunan, dan Tu Shaowu, seorang instruktur yang secara langsung berbicara tentang menghasilkan dana dalam proses penanganan kasus ini. Setelah video terungkap, Liu Peng mengakui bahwa dana dalam rekaman itu adalah uang denda.

Ada netizen yang menulis : Bisakah orang hidup dengan baik di masa-masa sulit ini ? Pengemudi harus melakukan perjalanan jauh di jalan raya demi menghidupi keluarga, namun sepanjang jalan masih dihadapkan pada pemeriksaan yang bertubi-tubi, terkena pungli. Rakyat Tiongkok hanya bisa bertahan hidup dalam kesulitan. Sedih sekali …. (sin)

Share

Video Popular